Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke Mesir untuk meninjau National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo serta bertemu CEO Grand Egyptian Museum Authority Prof. Ahmed Ghoneim.
Kunjungan dilakukan untuk mempelajari seluk beluk pengelolaan museum modern, agar dapat diterapkan di museum-museum yang ada di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia untuk memodernisasi museum yang ada di berbagai daerah.
Dilansir dari rilis resmi Kementerian Kebudayaan, Kamis (24/9/2026), di NMEC Fadli melihat bagaimana perjalanan panjang peradaban Mesir dikemas dalam sebuah pengalaman bagi pengunjung.
Museum tersebut menampilkan sejarah Mesir mulai dari masa kuno, era Koptik, masa Islam, hingga era modern.
Koleksi Mumi Firaun
Salah satu daya tarik utamanya adalah koleksi mumi para Firaun atau raja dan ratu Mesir dari berbagai dinasti. NMEC kini diperkirakan dikunjungi sekitar 10.000 orang setiap hari.
“Mesir telah menjadikan museum-museum ini sebagai bagian dari etalase budaya, etalase peradaban mereka, dan bahkan menjadi sumber ekonomi budaya,” jelas Fadli Zon.
Aktivitas museum juga didukung berbagai fasilitas ekonomi seperti penjualan merchandise, coffee shop dan layanan lainnya.
Belajar dari Grand Egyptian Museum
Sementara di Grand Egyptian Museum (GEM), Fadli mempelajari aspek pengelolaan museum berskala internasional, mulai dari koleksi, konservasi, kurasi pameran, keamanan, operasional, teknologi hingga efisiensi energi.
Ahmed Ghoneim menjelaskan, GEM dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yakni penelitian dan pengembangan pengetahuan tentang Mesir (Egyptology and Research), pariwisata dan warisan budaya global (Global Tourism and Heritage), serta komunikasi kebudayaan.
GEM juga menjadi gambaran besarnya investasi yang diperlukan untuk membangun museum modern. Biaya pembangunannya disebut mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS sebelum museum dibuka. Sementara pengelola menyebut museum tersebut dapat menghasilkan keuntungan sekitar 15 juta dolar AS per tahun.
Bagi Fadli, pengalaman tersebut relevan dengan upaya Indonesia melakukan transformasi dan modernisasi museum.
“Indonesia sedang mengembangkan museum-museum modern. Karena mengembangkan itu, kami ingin belajar dari Grand Egyptian Museum, terutama mengenai bagaimana museum dengan koleksi yang sangat besar dapat dikelola secara profesional, modern, menarik bagi masyarakat, sekaligus memiliki posisi di tingkat internasional,” ujar Fadli.
Modal Besar Museum di Indonesia
Ia menilai museum Indonesia memiliki modal besar karena kekayaan warisan budaya yang tersebar di berbagai daerah. Tantangannya adalah mengolah koleksi tersebut menjadi pengetahuan dan pengalaman yang menarik bagi masyarakat.
“Kita bisa melihat bahwa museum modern membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan koleksi. Ada tata kelola, penelitian, konservasi, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, efisiensi energi, dan yang paling penting adalah bagaimana museum memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat,” kata Fadli.
Menurutnya, transformasi museum di Indonesia perlu menghubungkan pelestarian dan edukasi dengan pemanfaatan budaya serta peluang ekonomi.
Dengan demikian, museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kebudayaan dan memperkuat identitas masyarakat. ***
