Lidah Jawa Generasi Keempat, Masih Bisa Berbahasa Ngoko-Krama di Tanah Mandar (Bagian 3)

3 Min Read
Aerial view of a bustling town with a central street lined by low-rise buildings, sports courts in the foreground, and distant hills on the horizon.
Lanskap perkampungan Wonomulyo yang dikitari sawah. (Foto: Geoarchy)

Di sebuah rumah panggung kayu di Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, sore itu suara lesung beradu dengan bahasa yang tak lazim untuk pesisir Sulawesi Barat.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kampung-jawa-di-tanah-mandar-bagian-1/

Seorang bocah 9 tahun menyodorkan piring jepa makanan lokal khas Mandar.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/ada-luka-di-hutan-mulia-bagian-2/

“Mbah, jepa-nya sampun mateng, monggo didhahar,” ucapnya dalam bahasa Jawa krama alus. Si mbah tersenyum.

Teka-teki Kebudayaan

Di meja yang sama tersaji bannang-bannang, kue manis bertabur wijen khas Mandar. Pemandangan ini adalah teka-teki kebudayaan yang menarik.

Bagaimana anak-cucu generasi keempat transmigran Jawa tahun 1937 ini masih fasih krama, padahal di sekelilingnya adalah bahasa Mandar dan Bugis. Itulah ilustrasi yang menunjukkan sejauh apa akulturasi dan asimilasi budaya Jawa dan mandar di Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulbar.

Orang Jawa Wono, begitu orang Mandar sering menyebutnya, mereka tidak datang sebagai buruh lepas, tapi sebagai komunitas paguyuban yang utuh.

Kunci pertama pembangunannya adalah omah joglo dan langgar. Mereka mereplikasi struktur sosial Jawa di Mandar.

Di langgar itu, anak-anak wajib mengaji sekaligus belajar unggah-ungguh. Krama diajarkan bukan sebagai bahasa sehari-hari, tapi sebagai bahasa penghormatan, jadi dia sakral.

Dokumen perencanaan wilayah Polewali Mandar mencatat, khusus di Kecamatan Wonomulyo, pengaruh etnis Jawa cukup dominan.

Hal ini dipengaruhi oleh faktor historis migrasi yang sudah begitu panjang tentunya. Bahkan data demografi resmi Polewali Mandar mencantumkan bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa yang hidup di kabupaten ini. Sejajar dengan Mandar, Mamasa, Bugis, Makassar dan lainnya, demikian dikutip dari id.scribd.com.

Dialektika Tempe dan Jepa

Ilustrasi dialektika kedua masih di dapur. Para simbah putri Jawa tak bisa membuat tempe karena kedelai langka. Mereka lalu belajar dari perempuan Mandar membuat jepa, makanan pokok dari singkong dan kelapa parut yang dimasak di atas tungku tanah liat.

“Sakjane jepa itu mirip tiwul, jadi lidahe wong Jowo yo cocok. Bannang-bannang mirip adrem. Jadi akulturasi rasa terjadi tanpa rasa kalah. Mereka tidak merasa dijajah kuliner, tapi merasa menemukan saudara kulinernya,” tambah Mbah Suyoto Darmowijoyo (78), generasi kedua koloni.

Itulah kenapa di rumahnya, sang istri masih menanak nasi, tapi di rantang sebelah ada jepa untuk cucu. Cucunya yang kebetulan kuliah di Yogya pulang membawa oleh-oleh bakpia. Sama tetangganya yang Mandar dibalas dengan ikan tuna masak (bau peapi).

Generasi keempat ini hidup dalam dwi bahasa yang cair. Di sawah dan pasar mereka fasih berbahasa Mandar logat Polman, di dalam rumah dan saat sungkem Lebaran mereka otomatis switch ke krama.

Mereka tidak bingung identitas, mereka memperkaya.

“Bojo kulo tiang Mandar asli. Nek kulo ngomong krama kalih moro sepuh, piyambake malah seneng mirengke,” katanya halus. 

“Jadi krama itu malah jadi modal bergaul,” tutup Mbah Suyoto sambil terkekeh, mematahkan bannang-bannang untuk cucunya. (Bersambung)

TAGGED:
Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar