Mabur.co – Fenomena El Nino yang menguat dan diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat pada akhir 2026 berpotensi membawa dampak terhadap ketahanan pangan dan kesehatan di berbagai wilayah.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan bertahan hingga Februari 2027, sementara perubahan pola suhu dan curah hujan yang menyertainya dapat meningkatkan risiko kekeringan, banjir, maupun cuaca panas ekstrem.
Efek Cuaca Ekstrem
Penguatan El Nino di Indonesia diprediksi bakal berlangsung bersamaan dengan masuknya musim hujan. Meski begitu, sebagian besar wilayah diperkirakan akan mengalami kemunduran awal musim hujan. Ada pun kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kegiatan pertanian, terutama pada pola tanam dan produksi pangan.
Guru Besar Bidang Agroklimatologi UGM, Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., mengatakan, bahwa perubahan pola hujan perlu diikuti dengan penyesuaian kalender pertanian.
Kemunduran musim hujan, sambung Bayu, akan berdampak pada mundurnya jadwal tanam yang kemudian turut menggeser waktu panen.
“Tentunya ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur, dan mundurnya jadwal tanam ini tentunya juga mengakibatkan mundurnya jadwal panen,” kata Bayu, Senin (28/9/2026).

Bayu menjelaskan, pergeseran jadwal panen tentu dapat memengaruhi ketersediaan stok pangan saat ini. Bayu mengingatkan bahwa selama menunggu masa panen berikutnya, ketahanan stok pangan yang telah tersedia menjadi penting untuk memastikan segenap kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Dengan mundurnya jadwal panen tentu akan memengaruhi stok pangan yang ada, dan ketergantungan dari stok sebelumnya menjadi kunci sambil kita menunggu musim panen yang mundur tadi,” jelasnya.
Bayu mengatakan pula, dari segi produksi, komoditas pangan yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung menjadi salah satu yang perlu diantisipasi.
Antisipasi Gagal Panen
Keterbatasan air selama masa pertumbuhan dapat meningkatkan dampak gagal tanam atau pun gagal panen yang kemudian berdampak pada produktivitas.
“Apabila ketersediaan airnya kurang, ya tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas, dan dengan turunnya produktivitas akan menyebabkan harga yang mahal serta berakibat pada perekonomian secara nasional,” ungkapnya.
Bayu mendorong adanya pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan sekaligus penerapan metode pertanian yang lebih hemat air. Untuk mengembangkan diversifikasi pangan demi mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber pangan utama.
“Artinya kita tidak hanya menggantungkan saja dari beras, tetapi ada komoditas lain pengganti beras,” pungkasnya.
