Mabur.co – Sejarah dan budaya yang melatarbelakangi sebuah hidangan menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia, selain cita rasa dan bahan pangan yang digunakan.
Wisata gastronomi Indonesia dinilai memiliki kekuatan tidak hanya dari cita rasa dan bahan pangan yang digunakan, tetapi juga sejarah serta budaya yang melatarbelakangi sebuah hidangan.
Sejarah di balik makanan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika menikmati kuliner daerah.
Karena itu, cerita, filosofi, identitas budaya, hingga keberlanjutan sumber pangan lokal dinilai penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia.
Sumber Pangan Lokal
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menuturkan, wisata gastronomi di Yogyakarta bukan sekadar menyajikan makanan (serving food), melainkan juga menghadirkan cerita (backstory), pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal.
“Semua produk wisata gastronomi di Yogya harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Yogya cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengku Buwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Yogya. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya: ini yang harus dikemas dengan baik,” katanya dilansir laman Kementerian Pariwisata, Senin (5/10/2026).
Identitas Hidangan
GKR Bendara mengatakan pula, gastronomi bukan sekadar persoalan rasa, melainkan juga pemahaman terhadap filosofi dan identitas yang melatarbelakangi sebuah hidangan.
Rekam sejarah yang terdokumentasi dengan baik menjadi salah satu kekuatan yang membuat gastronomi Yogyakarta memiliki keunikan dibandingkan daerah lain.
Di Yogyakarta ada dua kuliner langka asal DIY, yakni nasi golong gilig dan dawet sambal. Ia menilai dawet sambal yang memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata apabila diperkuat dengan narasi dan promosi yang tepat.
“Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya,” ungkapnya.

Makanan khas merupakan makanan yang menjadi ciri atau kekhasan pada sebuah daerah. Di Yogya, tepatnya di Kulon Progo terdapat makanan khas berupa dawet sambal yang saat ini sudah jarang ditemui.
Kuliner Langka 70 Tahun
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, dawet sambal Kulon Progo merupakan makanan yang sudah jarang ditemui karena usianya yang sudah hampir 70 tahun. Dawet sambal ini berasal dari daerah Jatimulyo, Girimulyo.
Dawet sambal bermula dari kreasi penjual dawet dan pecel yang berjualan di pentas pagelaran. Pada saat jam istirahat pementasan, simbah (penjual) menjajakan dagangannya kemudian ada pembeli yang memberikan masukan untuk mencampurkan dawet dan pecel.
Kemudian pada saat mencampurkan dawet dengan pecel, banyak pelanggan yang menyukainya dan membuat permintaan meningkat. Maka dari itu muncullah kreasi dawet pecel di Desa Jatimulyo dan hingga saat ini orang Kulon Progo menyebutnya sebagai dawet sambal atau dawet pecel.
Sementara itu, nasi golong gilig adalah sajian kuliner tradisional langka asal Keraton Yogyakarta yang berbentuk nasi bulat padat dan memiliki makna filosofis tentang semangat persatuan.
Nasi golong gilig keraton, bentuk dan penyajian yakni nasi putih yang dibentuk bulat padat seukuran kepalan tangan atau bola tenis.
Nasi ini memiliki filosofi yakni melambangkan bentuk kebulatan tekad serta semangat persatuan yang erat antara sultan (raja) dan masyarakat.
Nasi ini tergolong sebagai kuliner langka keraton yang dulu hanya disajikan pada acara atau ritual tradisi tertentu dan kini mulai diperkenalkan kembali untuk pelestarian budaya.
