Mabur.co – Teknologi pesawat tanpa awak atau drone di dunia terus mengalami perkembangan luar biasa.
Jika di Indonesia drone masih sebatas digunakan untuk keperluan pemetaan, pengintaian, pertanian atau mungkin pengiriman barang.
Dunia telah memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari senjata militer hingga modifikasi cuaca.
Dilansir BBC, Kamis (8/10/2026), salah satu perusahaan yang tengah mengembangkan drone sebagai alat pemicu hujan adalah Rainmaker asal San Francisco, Amerika Serikat.
Memanfaatkan teknologi penyemaian awan atau cloud seeding, drone ini mampu terbang menembus awan sambil melepaskan senyawa tertentu untuk membantu membentuk kristal es yang kemudian jatuh sebagai hujan.
Solusi Persoalan Ketersediaan Air
Teknologi ini digunakan Rainmaker di Alaska dan sejumlah wilayah lain yang mengalami persoalan ketersediaan air.
Pada 23 Agustus 2026 lalu, Rainmaker bahkan sukses melakukan eksperimen di sekitar Homer, Alaska. Dari proses penyemaian selama tiga jam, drone ini mampu menghasilkan sekitar 71 juta liter air hujan.
Meski berhasil, drone ini hanya mampu menciptakan hujan ketika awan dalam kondisi yang sesuai. Dengan kata lain, drone ini tidak bisa melakukannya saat cuaca langit cerah.
Untuk bisa menyemai hujan, drone Rainmaker dilengkapi suar yang mengandung perak iodida. Ketika dinyalakan, bahan tersebut akan menghasilkan partikel sangat kecil yang dapat bertahan di dalam awan.
Partikel perak iodida ini berfungsi sebagai inti pembentukan kristal es. Dalam kondisi tertentu, uap air di dalam awan akan menempel pada partikel tersebut dan membentuk kristal yang semakin besar.
Ketika ukurannya cukup besar, kristal tersebut akan jatuh ke permukaan bumi. Jika suhu di bawahnya cukup hangat, kristal dapat mencair dan turun sebagai hujan.
Pendiri sekaligus CEO Rainmaker, Augustus Doricko, mengatakan perusahaannya menggunakan sekitar 20 gram perak iodida dalam setiap penerbangan. Bahan tersebut kemudian disebar di wilayah yang sangat luas.
Dikembangkan di Berbagai Negara
Rainmaker sendiri saat ini telah dimanfaatkan di sejumlah negara bagian Amerika Serikat, seperti Idaho, Utah, dan Colorado. Teknologi serupa juga dikembangkan untuk wilayah Timur Tengah, termasuk Yordania yang mengalani persoalan kekeringan.
Meski menjanjikan, drone pembuat hujan tetap memiliki keterbatasan. Teknologi ini tidak dapat menciptakan badai atau hujan begitu saja. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kondisi awan dan lingkungan sekitar.
Teknologi ini juga masih menghadapi pertanyaan mengenai efektivitas dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Sejumlah pihak juga masih mempertanyakan pemantauan terhadap sisa perak iodida setelah penyemaian dilakukan.
Namun meski menggunakan bahan partikel perak yang cukup berbahaya, Doricko mengklaim peningkatan konsentrasi perak di permukaan tanah sebagai dampak penggunaan drone ini berada pada tingkat yang sangat kecil.
