Mabur.co – Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat menyimpan kekayaan budaya luar biasa yang belum banyak dikenal masyarakat secara luas.
Salah satunya adalah musik tradisional Cilocag. Di tengah gempuran musik modern yang terus berkembang, musik ini masih terus dilestarikan hingga saat ini.
Salah satu daerah yang masih melestarikan musik Cilocag atau juga dikenal Cilokak adalah masyarakat Kabupaten Lombok Timur, NTB.
Tak hanya dimainkan dalam acara-acara seni tradisi, kesenian ini juga terus berkembang sebagai musik modern yang dipopulerkan lewat bermacam platform mulai dari kaset, CD hingga kini MP3 dan YouTube.
Berawal dari Permainan Gambus Tunggal
Dilansir dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, dikutip mabur.co, Minggu (18/10/2026), Cilocag merupakan musik ensambel yang memadukan beragam alat musik, mulai dari alat musik tiup, gesek, pukul, hingga petik.
Pertunjukannya juga dilengkapi vokal yang dibawakan secara solo, duet, maupun kelompok.
Cilocag bermula dari permainan gambus tunggal. Instrumen tersebut dimainkan untuk mengisi waktu luang sekaligus menghibur diri setelah seharian bekerja mencari nafkah.
Lambat laun, alat musik lain ditambahkan untuk melengkapi melodi dan irama. Cilocag kemudian berkembang menjadi pertunjukan musik ensambel.
Berdasarkan catatan Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah NTB 1991, Cilocag mulai dipentaskan sebagai sebuah orkestra pada 1948 di Desa Lengkok Kali, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.
Pertunjukan perdana tersebut dipimpin Mamig Srinatih, yang kemudian dikenal sebagai pencipta musik Cilocag.
Sejak saat itu, Cilocag terus berkembang, baik dari segi kualitas maupun jumlah kelompok yang memainkannya. Musik ini semakin dikenal dan memperoleh kesempatan tampil di berbagai panggung hiburan.
Lagu-lagunya juga menarik perhatian masyarakat. Kelompok Cilocag Pustaka dari Kabupaten Lombok Barat, misalnya, tercatat beberapa kali melakukan rekaman. Popularitasnya bahkan membuat Cilocag pernah dijuluki sebagai “keroncongnya” masyarakat NTB.
Perpaduan Beragam Alat Musik
Dalam pertunjukan tradisionalnya, Cilocag menggunakan dua biola, dua suling, dan dua gambus yang berfungsi sebagai pembawa melodi.
Sementara itu, unsur ritme dimainkan menggunakan petuk, gendang, jidur, dan rincik.
Pada masa lalu, Cilocag juga menggunakan alat musik tiup bernama pareret. Namun, alat musik ini kini jarang digunakan karena sulit diperoleh di pasaran dan teknik memainkannya relatif lebih sulit dibandingkan suling.
Seiring perkembangan zaman, sejumlah kelompok Cilocag melakukan penambahan instrumen untuk memperkaya komposisi musik. Beberapa kelompok bahkan mulai menggunakan alat musik tradisional lainnya hingga gitar bas.
Perubahan juga terlihat dalam gaya pertunjukan. Cilocag kini kerap tampil di panggung terbuka dengan kemasan yang lebih meriah.
Pengaruh musik dangdut terlihat dari irama, gaya penyanyi saat tampil, hingga kehadiran penari dalam sejumlah pertunjukan.
Lagu Sasak dengan Ciri Pantun
Lagu-lagu Cilocag pada umumnya menggunakan bahasa Sasak.
Setiap desa memiliki gaya tersendiri yang dapat dikenali oleh para penggemarnya, meskipun perbedaannya tidak selalu mudah ditangkap oleh pendengar awam.
Liriknya memiliki ciri khas berupa susunan bait yang menyerupai pantun atau seloka. Dalam perkembangannya, lagu-lagu Cilocag tidak lagi terbatas hanya berbahasa Sasak.
Sejumlah kelompok mulai membawakan lagu bertema pembangunan, percintaan, nasihat, dan kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia pun mulai digunakan, meskipun ciri pantun tetap dipertahankan.
Ada pun asal-usul nama Cilocag belum diketahui secara pasti. Salah satu pendapat menghubungkan istilah tersebut dengan kata seloka.
Dugaan ini didasarkan pada susunan bait lirik yang dinilai memiliki kemiripan dengan bentuk puisi tersebut.
Terlepas dari asal-usul namanya, Cilocag menunjukkan bahwa musik tradisional dapat terus hidup melalui penyesuaian terhadap perkembangan zaman.
Inovasi masyarakat pendukungnya membuat kesenian ini tidak sekadar bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hadir dalam kehidupan masyarakat Lombok yang semakin modern saat ini.
