Mabur.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi serta menimbulkan asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat di Kalimantan.
Kebakaran juga mengancam habitat berbagai spesies yang dilindungi, termasuk orang utan. Indonesia memiliki tiga spesies orang utan, yaitu Pongo pygmaeus, Pongo abelii, dan Pongo tapanuliensis.
Berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species, orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berstatus terancam punah, dengan estimasi populasi liar sebanyak 57.350 individu berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA 2016).
Tiga Sub Spesies Orang Utan
Senior Wildlife Campaigner GeoPix, Annisa Rahmawati, menuturkan, di Kalimantan terdapat tiga sub spesies orang utan, yaitu Pongo pygmaeus yang tersebar di utara Sungai Kapuas, Pongo pygmaeus morio di Kalimantan Timur, serta Pongo pygmaeus wurmbii di wilayah selatan Sungai Kapuas hingga timur Sungai Barito.
“Sebagai satwa arboreal, orang utan sangat bergantung pada pepohonan untuk mencari makan, berpindah tempat, beristirahat, dan membangun sarang,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Annisa mengatakan, kebakaran dapat memusnahkan pohon pakan dan tempat berlindung, sehingga mendorong orang utan mencari sumber makanan di kawasan lain.
Kondisi ini semakin sulit ketika habitat mengalami fragmentasi dan ruang jelajah menjadi terbatas. Kebakaran berulang berpotensi mempercepat degradasi hutan, menurunkan kualitas habitat, dan meningkatkan ancaman terhadap kelangsungan populasi orang utan.
El Nino Perpanjang Kekeringan
Perubahan iklim dan fenomena El Nino yang kuat dapat memperpanjang periode kekeringan serta meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran.
Kondisi lantai hutan yang kering memudahkan api menyebar dari lahan terbuka menuju kawasan hutan bernilai ekologis tinggi, terutama kebakaran di lahan gambut, di mana api menjalar di dalam dan menimbulkan asap pekat.
“Oleh karena itu, risiko karhutla perlu dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor iklim, kondisi bentang alam, pengelolaan lahan, aktivitas manusia, dan efektivitas pencegahan kebakaran,” ujarnya.
Menurut Annisa pula, ekosistem hutan bagi orang utan sangatlah penting dan fundamental. Sebagai satwa arboreal, sangat bergantung pada tajuk pepohonan yang tinggi.
Sekitar hampir 80 persen menghabiskan waktu di pepohonan. Serta menggunakan cabang-cabang pohon di hutan untuk bergerak, mencari makanan, beristirahat, dan membangun sarang setiap hari.
Melenyapkan Pohon dan Vegetasi
Krisis karhutla yang sedang terjadi saat ini secara langsung dapat melenyapkan pohon dan vegetasi yang menjadi sumber makanan maupun tempat berlindung.
“Hilangnya pohon-pohon yang menjadi pakan juga memaksa orang utan mencari sumber makanan di lokasi lain. Dalam kondisi habitat yang semakin terfragmentasi, pilihan ruang hidup tersebut menjadi semakin terbatas. Oleh karena itu, kebakaran berulang dapat mempercepat degradasi habitat dan meningkatkan tekanan terhadap populasi mereka yang sudah terfragmentasi,” katanya.
Annisa menuturkan, tidak bisa dielakkan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko terjadinya kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.
Sementara fenomena Godzilla El-Nino memperpanjang periode tanpa hujan di sejumlah wilayah Indonesia, dan diprediksi akan semakin memperburuk kondisi lingkungan secara luas.
“Kondisi vegetasi yang semakin kering membuat bahan bakar di permukaan/lantai hutan semakin kering dan membuatnya lebih mudah terbakar sehingga api lebih sulit dikendalikan. Dalam situasi seperti ini, kebakaran yang awalnya berada pada area terbuka dapat berkembang dan semakin menjalar serta memasuki ekosistem hutan yang lebih penting secara ekologis,” ucapnya.
Karhutla di Kalimantan berdampak pada sekitar 57.000 orang utan. Termasuk kehilangan habitat dan sumber makanan.
“Dari 57.000 itu yang 60% betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat,” ujarnya.
Bagi Annisa, pohon menyediakan makanan untuk satwa liar, bagian pucuknya bahkan menjadi salah satu sumber air.
Ketika kebakaran terjadi, satwa dapat turun ke permukaan tanah untuk mencari minum, tetapi langkah tersebut juga berisiko karena lahan gambut masih menyimpan bara di bawah permukaan.
“Kondisi itu dapat menyebabkan kaki satwa mengalami luka bakar. Selain kehilangan habitat, berkurangnya keragaman sumber pakan juga menjadi persoalan karena orang utan memanfaatkan beragam tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ucapnya. ***
