Buku “Toponimi Sentolo” Diluncurkan, Berharap Gerakkan Kesadaran Budaya

3 Min Read
Four panelists sit at a conference table on a stage, microphones in front, with a large 'LAUNCHING BUKU' banner in the background.
Diskusi peluncuran buku Toponimi Sentolo. (Dok. Mabur)

Mabur.co – Apresiasi yang tinggi atas selesainya penelitian dan penulisan buku toponimi Kapanewon Sentolo, Kulon Progo.

“Kami berharap buku ini tak hanya mencatat asal-usul nama 84 padukuhan tetapi juga mampu menggerakkan kesadaran budaya, sejarah dan membangkitkan kebanggaan pada daerah,” demikian disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Sekretariat Daerah, Kabupaten Kulon Progo, Ir. Aspiyah, M.Si., saat meluncurkan buku “Toponimi Sentolo” di Aula Adikarta, Selasa (20/10/2026).

Group of people posing on stage at a book launch event, with a banner reading 'Launching Buku' in the background and Indonesian flags nearby.
Penyerahan buku Toponimi Sentolo. (Dok. Mabur)

Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri Dr. Ahmad Athoillah, M.A., Panggih Priyo Subagyo, S.Psi., M.A., Latif Prakoso, S.Psi., Bima Yusuf Asfidayat, S.Hum., dan Triana Nurshoimah, S.M.

Totalitas Tim

Dalam sambutannya, Athoillah menyampaikan terima kasih atas totalitas tim dan support dari Kapanewon Sentolo.

“Jujur buku ini bisa terwujud karena kerja keras para kepala dukuh, lurah dan Panewu Sentolo, Ibu Armawati., M.Si. Mereka secara total banyak membantu kami dalam pelacakan dan penggalian informasi,” ungkapnya.

Sementara itu, RM Donny S Megananda, S.Si., MBA, selaku narasumber menjelaskan, buku toponimi dapat mengulas tentang metode yang digunakan untuk mempelajari nama-nama tempat.

“Perlu kiranya ada peta khusus masing-masing kalurahan yang terbaru, sehingga dapat memperkirakan lokasi. Buku ini sangat relevan untuk diadaptasi menjadi bahan ajar atau Muatan Lokal (Mulok) sejarah daerah bagi siswa-siswi SD hingga SMA di Kulon Progo agar mereka bangga dengan mencintai warisan budaya serta identitas lokal mereka,” kata Tim Monev Kalurahan Budaya DIY ini.

Toponimi sebagai Arsip Hidup

Sedangkan narasumber berikutnya, Wahjudi Djaja, S.S., M.Pd, menyampaikan keterkaitan toponimi dengan dokumentasi.

“Toponimi berkaitan erat dengan dokumentasi sejarah. Toponimi merupakan arsip yang hidup dalam memori kolektif masyarakat yang merekam peristiwa masa lalu yang tak ada di dalam dokumen. Harapan kami, dengan penelusuran asal-usul nama wilayah ini bisa menginspirasi masyarakat untuk menginisiasi beragam gerakan kebudayaan dan ekologi,” tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.

Menanggapi pertanyaan peserta, Kasi Sejarah dan Permuseuman Disbud Kulon Progo, Fitri Atiningsih Fauzatun, S.S menjelaskan, sementara ini telah menerbitkan tiga buku toponimi Kabupaten Kulon Progo.

“Kami sudah memprogramkan untuk menulis toponimi 12 kapanewon. Hanya saja karena ada efisiensi, kami tidak bisa mencetak buku lebih banyak,” pungkasnya.

Hadir dalam peluncuran buku Toponimi Sentolo antara lain Kepala UPT Taman Budaya Kulon Progo mewakili Kepala Dinas Kebudayaan, Panewu Sentolo Armawati, S.Sos, para lurah se-Kapanewon Sentolo beserta para kepala dukuh, OPD terkait dan perwakilan sekolah di Kapanewon Sentolo.

Peluncuran ditandai penyerahan buku Toponimi Sentolo kepada Panewu Sentolo. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar