Mabur.co – Rabu pagi, 21 Oktober 2026, Jelajah Sejarah#6 yang terakhir dimulai bukan di aula, tapi menyusur aliran air.
Sesuai rute yang direncanakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, yaitu Bendung Karangtalun, Hulu Selokan Van der Wijk, Buk Renteng (Akuaduk Van der Wijck), Koridor Selokan Mataram Sleman Barat, Bangunan Bagi/Pintu Air Selokan Mataram (Pogung–Kali Code). Ini rute bahkan hanya dibaca pun sudah menunjukkan peta peradaban.
Tentang Selokan Mataram dan Van Der Wijck
“Selokan Van Der Wijck adalah salah satu infrastruktur utama yang mengatur pengairan lahan pertanian di Sleman pada khususnya, Yogyakarta (DIY) pada umumnya,” kata Tyassanti Kusumo Dewanti, M.A., arkeolog muda Yogyakarta yang memandu rombongan pagi itu.
Panjangnya sekitar 35 kilometer dari hulu hingga hilir, mengairi kurang lebih 20.000 hektare lahan pertanian di Minggir dan sekitarnya.
Hulunya di Bendungan Karang Talun, Desa Bligo, yang merupakan pintu air dari Sungai Progo. Dibangun Belanda 1909 untuk tebu dan berbagai tanaman lainnya.

Tapi Selokan Mataram beda ceritanya, dibangun 1944 bukan untuk Belanda, melainkan melawan Jepang.
“Sultan HB IX pada masa pendudukan Jepang di Indonesia bermaksud membuat Selokan Mataram agar rakyat Yogyakarta terhindar dari kerja paksa penjajah Jepang,” kata Tyas, panggilan akrabnya saat ia mengenalkan diri di dalam bus mini.
Mengantar rombongan bergerak dan meliuk mengikuti kelok jalan-jalan di desa-desa Sleman hingga ke Karangtalun.
Waktu itu Jepang butuh romusha, 200.000-500.000 orang dikerahkan, banyak yang mati. Sultan mengajukan ide, daripada rakyat dikirim ke luar Jawa, seperti ke Suriname, lebih baik bangun selokan yang menyatukan Progo dan Opak, dikerjakan rakyat Yogya sendiri.
“Setidaknya ini bukan romusha, kerja paksa yang tak bergaji. Dari Sultan HB IX rakyat masih bisa dapat gaji meski kecil, hanya satu sen, daripada tidak sama sekali,” demikian informasi Tyas dalam bukunya Napak Tilas Selokan Mataram Kelok yang Bersatu.
Bertemunya Mitos dan Teknologi Pengelolaan Air
Di sinilah mitos bertemu strategi.
“Legenda tersebut didasarkan dari pernyataan Sunan Kalijaga bahwa Yogyakarta akan makmur apabila suatu ketika Sungai Progo dan Sungai Opak bersatu,” lanjut Tyas. Jadi fungsi air tidak sekadar irigasi, tapi janji kuno yang ditepati dengan politik.
Perjalanan hari ini, rombongan juga mampir Buk Renteng di Banyurejo, Tempel. Di Kalurahan Banyurejo terdapat Buk Renteng yang merupakan sebutan dari Selokan Van Der Wijck, yang didirikan ketika Sri Sultan Hamengku Buwono VIII berkuasa.
Bangunan cagar budaya ini masih berfungsi untuk saluran irigasi bagi areal pertanian di Bumi Sembada, sebagaimana tulis mediacenter.slemankab.go.id, dikutip mabur.co, Rabu (21/10/2026).

Buk Renteng ini unik, selokannya lebih tinggi dari jalan, air lewat di atas, kendaraan lewat terowongan di bawah. Tanpa pompa, hanya dorongan gravitasi.
“Di titik lain, ada Talang Senoboyo peninggalan lebih tua lagi, sudah ada sebelum Van der Wijck 1909-1931 maupun Mataram 1944-1945,” kata tokoh lokal Sudiharjono (78 tahun) yang ditemui saat di lapangan.
Ada potongan puisi yang ditulis penyair Sleman, Linus Suryadi AG: “Air mengalir, sejarah mengalir.”
Hari ini air Selokan Mataram itu mengalir di tengah pelantikan sejumlah pejabat eselon 1 di Kabupaten Sleman.
Termasuk Kadisbud Sleman yang baru, Samino. Kemarin Selasa, 20 Oktober 2026, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, melantik 63 pejabat, termasuk Samino, S.I.P., M.Ec.Dev. sebagai Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.
Pelantikan Samino Disambut Refleksi Sejarah Selokan Mataram
Ini penyegaran penting. Kepala dinas sebelumnya, Ishadi Zayid, sudah lama merawat Kalurahan Budaya. Samino datang saat tantangan baru, 24 Kalurahan Budaya, talang-talang air yang tertutup ivy curtain seperti di Krasak, dan warga Pogung yang kini tinggal di atas selokan yang dulu menyelamatkan nenek moyang mereka dari romusha. Ini tantangan bagi Kadisbud Sleman yang baru.
Tetapi setidaknya, di hari pertama Samino bekerja, ia langsung disambut dengan suatu kegiatan yang merefleksikan sejarah di Sleman, Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas dengan tema: “Jejak Perjuangan, Irigasi, dan Peradaban Pertanian di Kabupaten Sleman.”
Ini jelas sebuah jelajah historis yang diikuti sejumlah komunitas, seperti MGMP IPS Sleman, Komunitas Yogyakarta 1945, Komunitas Sembada Muda Historia, sejumlah mahasiswa magang Amikom, MBS Yogya, dan beberapa lagi lainnya.
Setidaknya, jelajah hari ini, bukan sekadar tur. Ia mengajak kita melihat bahwa kebudayaan Sleman bukan di museum saja. Tapi juga di pintu air, di bendungan, di sawah Moyudan yang masih hidup karena keputusan sultan 82 tahun lalu.
Samino dilantik di Pendopo Parasamya kemarin dan air yang mengalir di Selokan Mataram serta Van Der Wijck hari ini dimaknai kembali di Karangtalun hingga Pintu Air Selokan Mataram (Pogung–Kali Code). (Bersambung).
