Mabur.co – Hari ini, Rabu, 21 Oktober 2026, Samino, S.I.P., M.Ec.Dev, memulai hari pertama sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Sleman.
Tidak dengan seremoni besar, tapi dengan melepas rombongan penelusuran sejarah Selokan Mataram. Kemarin Selasa 20 Oktober 2026, ia termasuk dalam 63 pejabat yang dilantik Bupati Harda Kiswaya.
Samino, S.I.P., M.Ec.Dev., Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, tulis ketik.com dalam daftar penyegaran posisi strategis di Sleman.
Meskipun ada sejumlah suara sumbang mempertanyakan kapasitasnya.
“Kok camat jadi kadis kebudayaan?” demikian suara gugatan. Samino justru percaya diri.
“Saya belum ada pengalaman spesifik di dinas kebudayaan, tapi saya mengerti banyak hal tentang kebudayaan, tinggalan sejarah,” ujarnya kepada wartawan usai pelantikan, dengan gaya kalem khas birokrat Sleman.
Pernah Menjabat Panewu Kalasan
Ia beralasan. Sebelum ini ia pernah menjabat Panewu Kalasan. Kalasan bukan kapanewon biasa. Di wilayahnya ada banyak tinggalan sejarah dan benda-benda purbakala.
Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Sambisari, Candi Prambanan, Ratu Boko, Barong, Banyunibo, Ijo. Semua cagar budaya nasional itu ada di Kalasan-Prambanan.
Sehari-hari, ia harus urus izin pentas sendratari Ratu Boko, mediasi warga dengan Balai Pelestarian, hingga jadi inspektur upacara di Lapangan Tamanan Pabrik yang dihadiri ratusan pelajar dan komunitas budaya.
Panewu Kalasan, Samino, bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara, tulis mediacenter.slemankab.go.id saat upacara HUT RI ke-81 di Kalasan.
Di situ ia sudah membacakan sambutan tentang merawat cita-cita bangsa. Ia hafal mitos Kalasan. Candi Kalasan adalah candi Buddha tertua di Prambanan, dibangun 778 Masehi untuk Dewi Tara.
Di prasastinya tertulis: “Tara … untuk kesejahteraan semua makhluk.” Di dekatnya, Candi Sambisari ditemukan 1966 terkubur 6 meter di bawah tanah karena erupsi Merapi, terkubur 1000 tahun.
Seperti kata novelis Umar Kayam dalam Para Priyayi: “Budaya adalah akar yang tidak terlihat, tapi pohon roboh kalau akarnya dicabut.”
Langsung Tancap Gas
Hari pertama kerjanya langsung tancap gas. Ia membuka Pelatihan Basa dan Sastra Adiwicara serta Pranatacara Tahun 2026 yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 di Ruang Rapat Rukun, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, tulis mediacenter.slemankab.go.id.
Dalam pembukaan itu ia bilang: “Pelatihan ini bukan sekadar ajang belajar teknik berbicara di muka umum, melainkan upaya strategis untuk merawat marwah budaya luhur kita. Melalui penguasaan ragam bahasa, sastra, adiwicara, dan pranatacara yang baik, kita berharap para peserta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian identitas budaya bangsa agar tetap bermartabat di tengah perkembangan zaman,” ujar Samino, Selasa (20/10/2026) dikutip mediacenter.slemankab.go.id untuk mabur.co, Rabu (21/10/2026).
Tantangan di depan besar. Sleman punya 86 kalurahan budaya, 300-an cagar budaya, dan ancaman alih fungsi lahan di sekitar candi.
Samino bukan arkeolog, tapi ia tahu rasanya didatangi warga Tirtomartani yang mengeluh debu truk proyek merusak relief Candi Sari.
Hari ini, ia memulai dari bahasa. Karena menurutnya, sebelum menjaga candi, harus menjaga unggah-ungguh dulu. ***
