300 Penonton dari 59 Negara Tertawa dalam Bahasa yang Berbeda       

4 Min Read
Para penonton di Jakarta Film Week. (Foto: cantika.com)
2 dari 2 Series - Jakarta Film Week 2026: Ketika Jakarta Belajar Menjadi Kota Sinema
Jakarta Film Week 2026: Ketika Jakarta Belajar Menjadi Kota Sinema
300 Penonton dari 59 Negara Tertawa dalam Bahasa yang Berbeda       
Saat ini

Mabur.co – Di kesempatan yang lain, Wagub DKI Rano Karno, dalam acara Indonesia Success Stories & MPA American Film Night di Park Hyatt, Kamis 22 Oktober, bilang: “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada MPA atas dukungan penuhnya terhadap visi Jakarta untuk mengembangkan industri perfilman,” dilansir dari mediajakarta.com, dikutip mabur.co, Minggu (25/10/2026).

Maksudnya jelas, sederhanakan izin syuting, buka lokasi ikonik Kota Tua, Muara Angke, bahkan gang di Tanah Abang untuk syuting internasional.

Nyambung dengan Peringatan Hari Santri Sebelumnya

Di sinilah cerita beasiswa menjadi penting. Jangan kira Jakarta Film Week hanya untuk anak orang kaya. Tahun ini, 40 % peserta Talents Hub adalah penerima beasiswa.

Bukan beasiswa luar negeri, tapi beasiswa dalam negeri yang riil. Dua hari sebelum JFW, di Semarang, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak, bagian dari program Pesantren Obah.

“Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah. Di antaranya beasiswa Ma’had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak yang aktif dan tinggal di pesantren,” kata Luthfi, dikutip regional.espos.id.

Di Jawa Timur, Gubernur Khofifah mendorong Pusat Riset Pesantren dan beasiswa santri.

“Peradaban dunia bisa datang dari Jawa Timur dan itu dari Jawa Timur melalui kekuatan intelektual santri,” pungkasnya, dikutip kominfo.jatimprov.go.id.

Kenapa relevan? Karena pemenang SANFFEST 2025 — Santri Film Festival Kementerian Kebudayaan, film Ghosob karya santri Tebuireng 17, Faiz Musyafa, kini diputar di JFW 2026 di program Shorts.

Dari pesantren ke CGV Grand Indonesia. Itu rantai beasiswa budaya. Salah satu penerima beasiswa JFW Talents Hub 2026, Alief El-Ichwan dari Bandung, bilang di lobby: “Saya dapat beasiswa Jakarta Film Fund, Rp 15 juta untuk develop skrip. Tanpa itu, skrip saya tentang buruh cuci di Tanah Abang cuma jadi status WA. Sekarang masuk pitching forum ketemu produser Prancis.”

Silvi Dyah Oktaviani, mahasantri penerima beasiswa Santri Penggerak, yang hadir sebagai penonton, bilang: “Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran UKT. Belajar juga makin fokus,” dikutip regional.espos.id.

Beasiswa itu bukan uang, itu tiket encounter.

Jakarta Film Week Kembalikan Cermin itu ke Rakyat

Dari Betawi ke Bioskop Jakarta punya mitos film sendiri. Dulu ada bioskop misbar (gerimis bubar) di Kramat. Orang nonton layar tancap sambil hujan.

Sekarang ada CGV dengan Dolby Atmos.Tapi rohnya sama, film adalah kampung. Seperti kata Usmar Ismail, bapak film Indonesia: “Film adalah cermin masyarakat.”

Jakarta Film Week mengembalikan cermin itu ke rakyat. Seperti kata Sapardi Djoko Damono, yang puisinya dibacakan di pembukaan: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Seperti lirik Benyamin Sueb yang diputar di pameran Hong Kong x Jakarta: “Jakarta oh Jakarta, kota yang tak pernah tidur.”

Dan seperti nasehat Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia: “Kau telah menulis, dan tulisanmu akan abadi.”

Di JFW kata-kata bijak para tokoh itu berganti wajah: Kau telah merekam, dan filmmu akan abadi. Rano Karno menutup sambutan pembukaan dengan doa.

“Semoga Jakarta Film Week 2026 menjadi ruang tumbuh karya dan talenta baru yang membawa perfilman Indonesia semakin diperhitungkan di dunia,” dikutip berandanews.com.

Malam itu, setelah sambutan, lampu padam. Film Ah Girl diputar. Di luar, hujan di Jakarta turun.

Di dalam, 300 penonton dari 59 negara tertawa dalam bahasa yang berbeda, untuk adegan yang sama. Itulah ENCOUNTERS. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar