Mabur.co – Candi Jawi yang berada di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, berdiri megah dengan pintu masuk menghadap ke timur berbentuk tinggi dan ramping dengan tinggi 24,5 meter.
Bagian atap candi terdiri atas tiga tingkatan dengan bagian puncak berbentuk dagoba (stupa) yang makin ke atas makin mengecil.
Atap bertingkat tiga berpuncak stupa dari batu putih, berbeda dengan kaki candi dari andesit, diduga akibat pemugaran setelah tersambar petir yang pernah merusak candi, sebagaimana disebutkan dalam Negarakertagama.
Bentuk stupa dalam agama Buddha umumnya menyerupai lonceng dan menjadi simbol penting keagamaan.
Pada awalnya, stupa berupa gundukan tanah untuk menyimpan abu kremasi dan relik tokoh suci, lalu berkembang menjadi bangunan batu bernilai spiritual.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan meditasi, stupa juga melambangkan perjalanan hidup manusia menuju pencerahan dan nirwana.
Raja Kertanegara
Dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (24/10/2026), Candi Jawi memiliki nilai sejarah yang tinggi karena berkaitan erat dengan Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singosari.
Arsitektur candi yang unik menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha yang berkembang pada masa itu.
Keberadaan candi ini menjadi bukti bahwa masyarakat pada zaman Singosari telah memiliki peradaban yang maju, baik dalam bidang seni bangunan maupun kehidupan beragama.
Dalam catatan sejarah, bangunan ini pernah mengalami kerusakan akibat tersambar petir pada 1332. Peristiwa tersebut menyebabkan bagian puncak candi mengalami kerusakan.
Namun, keberadaan candi tetap mendapat perhatian sehingga dilakukan renovasi pada 1338 hingga 1340. Renovasi tersebut bertujuan untuk memperbaiki kerusakan dan menjaga keberlangsungan bangunan bersejarah tersebut.
Tidak Memiliki Ritual Khusus
Berbeda dengan beberapa situs bersejarah lain yang masih digunakan untuk kegiatan keagamaan tertentu, Candi Jawi saat ini tidak memiliki ritual khusus yang dilakukan secara rutin.
Candi ini lebih dikenal sebagai situs cagar budaya dan objek wisata sejarah. Para pengunjung datang untuk melihat secara langsung peninggalan Kerajaan Singosari serta mempelajari nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Selain menyimpan nilai sejarah, Candi Jawi juga tidak lepas dari cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu legenda yang cukup dikenal adalah kisah Putri Jawi dan Kebo Suwayuwo. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Putri Jawi merupakan seorang putri cantik yang memiliki paras menawan dan banyak dikagumi oleh para pemuda.
Pada suatu waktu, datanglah Kebo Suwayuwo, sosok sakti yang ingin mempersunting sang putri. Namun, keinginan tersebut tidak mendapat persetujuan karena berbagai alasan.
Dalam beberapa versi cerita, Kebo Suwayuwo kemudian mengajukan berbagai syarat dan tantangan untuk membuktikan kesungguhannya.
Perjalanan kisah tersebut akhirnya melahirkan berbagai cerita rakyat yang dikaitkan dengan keberadaan Candi Jawi dan wilayah sekitarnya.
Warisan Budaya Lokal
Meskipun tidak memiliki bukti sejarah yang kuat, legenda ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Bagi masyarakat sekitar, legenda Putri Jawi dan Kebo Suwayuwo menjadi cerita yang menambah daya tarik Candi Jawi.
Kisah tersebut tidak hanya memperkaya nilai budaya daerah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan tradisi lisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga kini, sejarah dan legenda berjalan berdampingan di Candi Jawi. Di satu sisi, candi ini menjadi bukti kejayaan Kerajaan Singosari pada abad ke-13.
Di sisi lain, cerita Putri Jawi dan Kebo Suwayuwo terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pasuruan yang patut dilestarikan. ***
