Film “Piye To Kih?” Padukan Kisah Sosok Astral dan Budaya Jawa

3 Min Read
Man in green-and-white shirt speaks into a microphone on a stage, flanked by four people, with a large Indonesian text banner glowing behind them.
Heri Candra pemeran Mukidi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Film “Piye To Kih?” menghadirkan kisah cinta beda alam yang dibalut drama, komedi, dan unsur supranatural.

Melalui perjalanan Mukidi dan Sukma, film produksi MIRACLE Pictures ini mengangkat pesan tentang pentingnya memantaskan diri, kejujuran, serta keberanian memperbaiki kesalahan.

Sutradara Ito Mavin mengatakan, unsur drama, komedi, dan supranatural dalam film tersebut menjadi sarana untuk menyampaikan pesan utama mengenai proses seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.

“Pesannya adalah bagaimana kita sebagai manusia memantaskan diri untuk mendapatkan apa yang kita mau,” kata Ito Mavin saat road show film “Piye To Kih?” di Ambarrukmo Plaza, Sleman, Sabtu (24/10/2026).

Ito menjelaskan, Yogyakarta menjadi kota kedua dari rangkaian road show di 17 kota. Ia menyebut Yogya sebagai rumah bagi para sineas untuk bertemu dan berbagi pengalaman, termasuk melalui gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Penggunaan Bahasa Jawa

“Film Piye To Kih?” juga menjadi upaya menghadirkan warna baru dalam perfilman Indonesia dengan mengangkat keragaman budaya daerah melalui penggunaan bahasa Jawa.

“Saya berharap film tersebut dapat mendorong sineas lain lebih berani mengeksplorasi budaya lokal sebagai kekayaan perfilman nasional,” katanya.

Sementara itu, Dara Sarasvati mengungkapkan, memerankan Sukma menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur gestur dan ekspresi.

Sosok Astral

Sebagai sosok astral, Sukma harus memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dari manusia.

“Sebenarnya tantangannya adalah terkait gestur. Karena ketika kita mengomunikasikan dialog, tidak boleh terlalu terkesan emosional atau seperti manusia,” katanya. 

Dara  harus mengatur porsi ekspresi ketika menyampaikan dialog yang berkaitan dengan kemarahan, kesedihan, maupun cinta.

Tantangan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk mengembangkan kemampuan akting, terlebih “Piye to Kih?” merupakan film keduanya.

Dara mengungkapkan keyakinannya bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain. Meski demikian, ia menilai setiap makhluk memiliki urusan masing-masing selama sama-sama memiliki tujuan yang baik.

“Melalui kisah Mukidi dan Sukma, ‘Piye to Kih?’ tidak hanya menawarkan kerumitan hubungan beda alam dan keyakinan, tetapi juga membawa penonton mengikuti proses penerimaan diri, kehilangan, persahabatan, dan keluarga.

Ungkapan ‘Udah beda alam, beda agama pula… Piye to kih?’ merangkum keruwetan perjalanan kedua tokoh. Humor dalam film ini diarahkan pada nasib dan situasi yang dihadapi Mukidi, bukan untuk menjadikan keyakinan atau agama sebagai bahan lelucon,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar