1 dari 2 Series - Dari Prancis ke Indonesia Membincang Puisi, Komunitas Sastra-Ku Kulon Progo Kejutkan Publik Sastra Dunia
Mabur.co – Komunitas Sastra-Ku memilih merayakan Bulan Bahasa pada Oktober 2026 dengan menggelar diskusi bertajuk Dari Prancis ke Indonesia Membincang Puisi. Digelar di Aula Kembang Soka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo, Minggu (25/10/2026).
Acara cukup meriah dengan mendatangkan pembicara Naning Scheid, sastrawan Indonesia yang sudah cukup lama bermukim di Belgia dan menempuh studi di Prancis. Diskusi semakin lengkap dengan hadirnya pembicara sastrawan Marwanto.

Disampaikan Naning, ia menaruh perhatian besar pada penerjemahan karya sastra Prancis ke Indonesia. Kebetulan, ia belajar banyak pada penerjemahan yang pernah dilakukan Wing Kardjo.
“Tapi dalam hal rasa dari kosa kata, saya tetap lebih enak merasakan kosa kata dalam bahasa Indonesia,” papar Naning.
Artinya, dalam proses penerjemahan yang dilakukan Naning memang ada tantangan tersendiri. Terutama memberikan konteks dan penafsiran yang relevan.
Di sisi lain, Marwanto juga menyampaikan pencapaian penulisan karya sastranya selama ini. Misalnya saja, Marwanto tahun ini berhasil menerbitkan buku kumpulan puisi Maklumat Cinta.
Marwanto Frustrasi Estetika
Namun, diakui Marwanto, meskipun baru saja menerbitkan buku kumpulan puisi baru dan bahkan juga belum lama ini mendapatkan penghargaan Anugerah Kesetiaan Berkarya dari Kemendikdasmen, ia justru merasa masygul.
“Di titik inilah saya justru merasakan ‘frustrasi estetika’. Apalagi jika ingat kata budayawan Emha Ainun Nadjib, bahwa di Indonesia yang sungguh-sungguh penyair hanyalah Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri,” tukas Marwanto.
Artinya, menurut Marwanto, meskipun ada sederet penyair Indonesia lain yang karya-karyanya tidak diragukan lagi, misalnya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, dan lain-lain, namun jika mengacu pada pandangan Emha Ainun Nadjib, estetika yang telah dicapai Marwanto justru bisa dipertanyakan.
Naning Scheid Berseberangan dengan Pandangan Emha
Untuk hal ini, Naning memandang berseberangan dengan Emha Ainun Nadjib. Bagi Naning, proses kreatif sastrawan tidak pernah bisa berhenti.
Karena memang tidak ukuran baku mengenai estetika. Apalagi di era kini, setiap karya sastra mempunyai kesempatan untuk tampil di berbagai forum dengan selera publik yang berbeda-beda.
“Bagi saya, sudah seperti tagline Komunitas Sastra-Ku saja, terus nulis, nulis terus. Bagi saya yang penting saya bahagia dulu, baru kalau bisa membahagiakan orang lain. Kalau tidak bisa ya tidak apa-apa,” ujar Naning.
Naning pun optimis, jejaring sastra internasional tetap bisa dibangun dengan karya apa pun yang dihasilkan oleh setiap sastrawan.
Apalagi di era kini, banyak jalan menuju dunia internasional, ikut acara sastra di luar negeri. Bisa melalui jaringan penelitian, beasiswa, residensi, atau diaspora. ***
