Mabur.co – Pasar Kembang alias Sarkem, dulu kawasan ini namanya Balokan, berasal dari kata dasar ‘balok’ yakni tumpukan ‘balok kayu’ untuk lokomotif uap.
Bayangkan saja, kawasan yang sekarang dikenal karena “kehidupan malam”, dulu hanya gudang kayu. Setelah sejarah panjang itu, banyak pedagang bunga bermunculan di sana.
Jadilah tempat ini bernama Pasar Kembang. Kembang atau bunga untuk acara upacara tertentu, kembang untuk ziarah.
Namun perjalanan Pasar Kembang kini berbelok arah menjadi tempat yang mengarah ke reputasi negatif. Banyak perempuan menjajakan diri. Tempat ini pun berkembang menjadi stigma yang lebih abu-abu.
Orang-orang menyebutnya lokalisasi. Kalau di Surabaya dulu ada tempat yang dikenal dengan nama Gang Dolly, di Kota Yogyakarta Pasar Kembang atau Sarkem ini. Padahal warga setempat berkali-kali mengatakan kalau tempat itu bukan lokalisasi resmi.
Sarkem Fest 2026
Sarkem Fest 2026 resmi dibuka Sabtu, 24 hingga 31 Oktober 2026. Mengusung tema “Lintas Waktu Malioboro: Cerita Kereta, Rasa, dan Karya”.
Festival ini mengangkat kisah kawasan stasiun yang lekat dengan perjalanan dan dinamika kehidupan Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan hari jadi Kota Yogyakarta dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Tentu serangkaian acara yang ada juga untuk memperbaiki citra serta menunjukkan budaya lokal.
Libatkan UMKM, Industri Kreatif, Budaya, dan Musik
Supervisor Sarkem Fest 2026, Arif Efendi, menyampaikan, penyelenggaraan festival ini merupakan bagian dari upaya memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dengan mengangkat sektor pariwisata melalui berbagai kegiatan yang melibatkan UMKM, industri kreatif, budaya, dan musik.
Melalui festival yang diharapkan bisa digelar secara berkelanjutan setiap tahun akan memberikan banyak pilihan bagi wisatawan terutama saat berkunjung ke Yogyakarta pada bulan Oktober.
“Sarkem Fest lahir dari keinginan untuk memperluas perhatian publik terhadap potensi positif kawasan Pasar Kembang. Selama ini, nama Sarkem kerap dikaitkan dengan stigma negatif di ruang publik, termasuk media sosial. Melalui kegiatan budaya, pariwisata, hiburan, dan pemberdayaan UMKM, pihak penyelenggara ingin memperkenalkan sisi lain kawasan tersebut kepada masyarakat luas,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).
Bukan Sekadar Mengubah Persepsi
Arif menjelaskan pula, upaya yang dilakukan bukan sekadar mengubah persepsi, melainkan menghadirkan aktivitas positif yang dapat memperkuat daya tarik kawasan sebagai bagian dari tujuan wisata Kota Yogyakarta.
“Kami ingin ketika masyarakat membuka media sosial dan mencari tentang Sarkem, yang muncul juga kegiatan budaya, pariwisata, hiburan, dan UMKM. Ada potensi positif yang bisa kita angkat bersama.
Melalui Sarkem Fest 2026, kawasan Pasar Kembang diharapkan semakin dikenal sebagai ruang perjumpaan yang menawarkan pengalaman kuliner, seni, budaya, dan ekonomi kreatif, tanpa meninggalkan jejak sejarah yang melekat pada kawasan tersebut,” katanya.
