Jejak Sastra Prof. Suminto A Sayuti dari IKIP Muhammadiyah hingga Antologi Puisi “Ketawang Tunggal Jiwa”

4 Min Read
Prof. Suminto A Sayuti dan tiga bukunya. (Foto: Jabrohim)

Mabur.co – Senin siang di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan, Ringroad Selatan Bantul, AC-nya dingin, tapi panggungnya hangat.

Spanduk besar bertuliskan: SAMAWA #35 “Pak Minto (Tak) Purna Berkarya” Menyalakan Kata, Merawat Tradisi, Menghidupkan Sastra.

Di bawah spanduk itu, seorang lelaki 70 tahun duduk, biasanya pakai blangkon, tapi kali ini tidak. Sebab senyumnya identik blangkon.

Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Guru besar ilmu sastra UNY, penyair, penabuh gamelan, mantan Dekan FBS UNY, dan hari itu menjadi tokoh yang dirayakan bukan karena jabatan, tapi karena kata.

Baru kemarin, 26 Oktober 2026, tepat ulang tahunnya ke-70. Lima hari lagi, 1 November 2026, ia purna tugas sebagai ASN.

“Purna tugas bukanlah akhir pengabdian, sebagaimana bertambahnya usia bukan alasan untuk menghentikan kreativitas,” tulis rilis panitia Komunitas Seni Budaya Profetik (KOSBATIK) UAD, PBSI UAD, dan HISKI Komisariat UAD.

Pak Minto telah membuktikannya.

Mengapa UAD Merayakan Guru Besar UNY?

Pertanyaan itu muncul di benak banyak tamu. Jawabnya ada pada Pak Jab, panggilan akrab Jabrohim, Wakil Ketua KOSBATIK, dosen PBSI UAD, sahabat 40 tahun Pak Minto.

Di sela acara, di luar Amphitarium, Jabrohim bercerita: “Suminto memang dikenal sebagai dosen UNY. Namun pada dekade 1980-an hingga 1990-an, ia juga memainkan peran penting dalam kehidupan sastra di lingkungan IKIP Muhammadiyah Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi Universitas Ahmad Dahlan. Bersama saya, Emha Ainun Nadjib, dan Ragil Suwarna Pragolapati, kami disebut Empat Serangkai”.

Empat Serangkai, nama yang mirip kelompok nasionalis 1945, tapi ini kelompok sastra.

Panggung Ketawang Tunggal Jiwa. (Foto: Jabrohim)

Kelompok inilah yang menghidupkan Forum Tegur Sapa Budaya dan Masyarakat Poetika Indonesia (MPI) di kampus IKIP Muhammadiyah yang waktu itu masih di Wirobrajan.

Bangunannya sempit, tapi diskusinya sampai jam 2 pagi.

“Pada 19 Desember 1994, IKIP Muhammadiyah Yogyakarta resmi bertransformasi menjadi Universitas Ahmad Dahlan,” tulis profil resmi UAD. Transformasi itu bukan sekadar ganti papan nama.

“Perubahan status ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan UAD karena membuka ruang pengembangan disiplin ilmu yang lebih luas,” dikutip dari rilis panitia.

Kampus yang Dibesarkan Salah satunya lewat Kata-kata Suminto

Lebih jauh lagi: “Universitas Ahmad Dahlan merupakan pengembangan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Yogyakarta, sebagai lembaga pendidikan tinggi merupakan pengembangan FKIP Muhammadiyah Cabang Jakarta di Yogyakarta. Didirikan pada 18 November 1960,” dikutip uad.ac.id.

Di FKIP IKIP itulah, Suminto muda, yang baru pulang dari IKIP Jakarta S2, mengajar sebagai dosen luar biasa.

Mengajar Pengkajian Puisi, menulis diktat Puisi dan Pengajarannya (1987), yang sampai sekarang masih jadi rujukan mahasiswa PBSI.

“Setiap dua bulan sekali puisi karyanya biasa dibacakan di Taman Budaya Yogyakarta, terutama oleh Komunitas Sarkem (UNY), Jaringan Anak Bahasa (Universitas Ahmad Dahlan), Sanggar Jepit (UIN Sunan Kalijaga), dan Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta,” tulis sastra-indonesia.com tentang Suminto, dikutip mabur.co, Selasa (27/10/2026).

Jaringan Anak Bahasa itu UAD. Jadi hubungan itu bukan dibuat-buat. Itu historis.

“Sejarah sastra sebuah perguruan tinggi tidak hanya dibentuk oleh dosen tetap dan struktur kelembagaannya. Sejarah itu juga tumbuh melalui perjumpaan, persahabatan, gagasan, dan kerja kebudayaan orang-orang yang bersedia menghidupkan ruang kreatif bersama,” kata Jabrohim di panggung, dalam sambutan yang tidak tertulis.

Apa pun, yang penting, SAMAWA #35 adalah cara UAD merawat ingatan kolektif: bahwa kampus ini pernah ikut dibesarkan oleh kata-kata Suminto.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar