Estafet Tiga Buku untuk Prof. Minto

3 Min Read
Suminto A. Sayuti muda, saat baca puisi di UAD Kampus Lama. (Foto: Jabrohim)
3 dari 3 Series - Jejak Sastra Prof. Suminto A Sayuti dari IKIP Muhammadiyah hingga Antologi Puisi "Ketawang Tunggal Jiwa"

Mabur.co – SAMAWA #35 tidak hanya luncurkan satu buku, tapi tiga. Pertama: Ketawang Tunggal Jiwa, 100 puisi. Kedua: Testimoni Seorang Murid, kesaksian enam orang murid Suminto ketika mengajar di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta. Ada yang kini jadi kepala sekolah Muhammadiyah, ada yang jadi dosen.

Mereka bercerita: Pak Minto mengajar sambil menabuh meja seperti kendang, memberi nilai puisi bukan dari benar-salah, tapi dari jujur-tidak.

Ketiga: Merawat Kata Menumbuhkan Generasi: Jejak Kepengarangan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, kesaksian kolega, termasuk Jabrohim yang pernah sekantor di IKIP Muhammadiyah.

“Tiga buku itu menghadirkan tiga sudut pandang yang saling melengkapi,” kata Ketua Panitia, Dr. Siska, dosen PBSI UAD.

Karya, Pengalaman Pendidikan, dan Ingatan Kolega

Rangkaian acara, sambutan Rektor UAD, Prof. Muchlas, pembacaan puisi oleh mahasiswa Sanggar Manggala UAD dan testimoni lisan dari sejumlah sahabat.

Mahasiswa PBSI UAD, Ayu, 20 tahun, yang baca puisi baris-baris puisi “kutulis tentang hujan. seusai kemarau. angin pun desau…” bilang setelah turun panggung, “Saya baru tahu Pak Minto pernah ngajar di kampus saya. Saya kira cuma UNY. Ternyata jejaknya ada di sini juga.”

UAD yang lahir dari IKIP Muhammadiyah 1960, FKIP Muhammadiyah 1960, kursus B1 1957, punya memori sastra yang tidak tercatat di pangkalan data DIKTI.

Memori itu ada di kepala orang-orang seperti Jabrohim. Seperti kata Jabrohim dalam rilis panitia, “Bagi UAD, penghormatan tersebut merupakan pengakuan atas bagian dari sejarah kebudayaannya sendiri. Kampus tidak hanya mewarisi bangunan, program studi, dan tradisi akademik, tetapi juga jejak para sahabat, pemikir, dan pegiat sastra yang pernah ikut menghidupkan kehidupan intelektualnya.”

Purna Tugas ASN tapi Tak Purna Tugas Kepenyairan

Di akhir acara, Pak Minto berdiri, tidak pidato panjang. Ia hanya baca satu puisi:

Kata-kata adalah rumah kita/

Tempat diri berbagi/Juga bercinta./

Kita pun abadi./ Walau dipisah cuaca.

Itu larik dari bukunya puisi-puisi Suminto A. Sayuti yang ada di borobudurwriters.id, tapi ia ucap ulang. “Kata-kata adalah rumah kita”.

Seperti lagu Ebiet G. Ade sahabatnya di “Gelandangan Malioboro”: “Masih ada waktu…”

Tapi setidaknya bagi Pak Minto, jabatan boleh berakhir, gagasan tidak. Masa kerja boleh selesai, pengabdian tidak.

Itulah pesan SAMAWA #35: dari IKIP Muhammadiyah Yogyakarta 1980-an, hingga Amphitarium UAD 2026, hingga “Ketawang Tunggal Jiwa” yang terus mengalun. Pak Minto tak purna berkarya. (Selesai).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar