Peziarahan Megadiversity: Out of Equator, Ketika Kapal Menjadi Madrasah

4 Min Read
Pamflet Peziarahan Megadiversity Out of Equator. (Foto: Dok. Panitia)

Mabur.co – Surabaya, 29 Oktober 2026, Pukul 10.00 WIB, KM. Dorolonda membunyikan sulingnya di Pelabuhan Tanjung Perak. Bukan suling gamelan, tapi suling kapal.

Di dek 3, bukan hanya penumpang dengan kardus mi instan, tapi ada kain batik panjang 20 meter karya Agung Suhartanto dari Yogya, gulungan payung panji dari Solo, dan 100 eksemplar buku Manusia Bahari.

Inilah PEZIARAHAN MEGADIVERSITY: OUT OF EQUATOR, yang rilis panitianya menyebut: kelanjutan perjalanan sebelumnya NUSANTARIA ke Ternate dengan KM. Sinabung untuk menjaga tradisi maritim Nusantara.

Jika Nusantaria sebelumnya membaca Indonesia dari barat ke timur lewat Ternate, pusat cengkeh dunia, kali ini membaca Indonesia dari khatulistiwa ke luar khatulistiwa. Out of Equator.

Pamflet panitia (Foto: Dok. Panitia)

Kapal berangkat 29 Oktober, sandar Raja Ampat 7 November, menyusuri garis Wallacea.

Rutenya sudah jelas di data Pelni: “Surabaya berangkat 29 Oktober 2026 pukul 10.00, Balikpapan tiba 30 Oktober pukul 15:00-17:00, Donggala tiba 31 Oktober pukul 05:00-09:00, Bitung tiba 1 November, Ternate 2 November, Sorong 2 November, Manokwari 3 November, Biak 4 November, Serui 4 November, Jayapura 5 November,” tulis jadwal resmi KM Dorolonda Voyage 21, dari obnews.co, dikutip mabur.co, Kamis (29/10/2026).

Di kapal ini ada kurang lebih dua ribu penumpang. Tapi 40 orang di antaranya adalah peziarah kebudayaan.

Program di Atas Gelombang

Peziarahan ini diselenggarakan dalam rangka Hari dan Bulan Kebudayaan sejak 17 Oktober 2026, yang rencananya rutin setiap tahun untuk mengembangkan Cultural Literacy sebagaimana amanat UU Pemajuan Kebudayaan No.5/2017. Di atas kapal yang goyang, 8 program terstruktur dijalankan:

Mufakat Budaya: Out of Equator

Diskusi utama di dek 5, tiap malam setelah Magrib. Temanya: Indonesia sebagai aksi peradaban dunia, menggugat tesis klasik out of Africa.

Narasi panitia mengatakan, selama ini diajarkan peradaban dari Mesopotamia, dari gurun. Padahal data DNA terbaru bilang pusatnya dari sini, Sundaland.

Saya ingat tulisan Adi Permana: “Orang Madagaskar itu orang Barito. 50% gen ibu mereka B4a1a dan gen ayah mereka O1a adalah gen Dayak Maanyan, dari Kalimantan Tenggara. Nenek moyang mereka naik perahu cadik dari Sungai Barito, sampai Afrika,” tulisnya di aptour.net.

“Orang Hawaii, Tonga, Maori itu orang Maluku dan Dayak. Mereka semua bawa gen B4a1a, yang disebut Polynesian Motif. Gen itu lahir di Indonesia Timur,” dikutip aptour.net.

Itulah Out of Equator: bukan Afrika, tapi khatulistiwa yang melahirkan pelaut.

Ketua panitia, Edi Purwanto, dari tradisi Kediri-Majapahit, bilang di atas kapal “Kita ini bukan pinggiran, kita ini pusat. Majapahit tidak menaklukkan Nusantara untuk dijajah, tapi untuk menyambung. Namanya Nusantaria, pulau-pulau di antara”.

Kriya, Payung Panji, Wastra

Agung Suhartanto dari Yogya menggelar pameran kriya batik Elemen Nusantara di lorong kapal. Batiknya tidak pakai malam, tapi pakai pewarna indigo dan secang, dengan motif garis Wallacea, sebelah barat fauna Asia, sebelah timur fauna Australia.

Sementara Dani Iswardani dari Surakarta melokakaryakan tradisi visual payung panji. Di atas kapal, anak-anak pelaut belajar melukis Panji Asmoro Bangun.

Mitologi Panji adalah mitologi migrasi, dari Kediri sampai Thailand. Sore, peragaan Wastra Soulcraft, tenunan kepulauan, tenun Timor, Sasak, Bima, Sumba, dibentangkan di dek, tertiup angin Laut Jawa hingga garis Wallacea. (Bersambung).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar