Mengenal Tiwah, Upacara Adat Dayak Ngaju Antar Arwah Menuju Roh Sejati

3 Min Read
Upacara adat tiwah yang dilakukan masyarakat Suku Dayak Ngaju, Kalimantan. (Foto: Kaltengpos)
1 dari 2 Series - Mengenal Tiwah, Upacara Adat Dayak Ngaju Antar Arwah Menuju Roh Sejati
Mengenal Tiwah, Upacara Adat Dayak Ngaju Antar Arwah Menuju Roh Sejati
Saat ini
Ini Rangkaian Ritual Upacara Kematian Tiwah, Kumpulkan Tulang hingga Korbankan Kerbau

Mabur.co – Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, punya tradisi unik untuk merayakan kematian. Bagi mereka kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Melainkan awal dari sebuah kehidupan kekal yang sempurna. 

Karena itu, arwah seseorang yang telah meninggal dunia harus diantarkan menuju ke dunia roh sekaligus tempat yang dianggap kekal melalui sebuah ritual upacara mewah yang disebut tiwah.

Upacara adat tiwah ini bahkan telah menjadi bagian penting dari kepercayaan Kaharingan, sistem kepercayaan leluhur masyarakat Dayak Ngaju yang diwariskan secara turun-temurun.

Penguburan Kedua

Dilansir mabur.co dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, upacara adat tiwah biasa dikenal sebagai upacara kematian tingkat lanjut atau penguburan kedua. 

Upacara ini dilakukan terhadap seseorang yang telah beberapa tahun meninggal hingga menyisakan tulang-belulangnya saja.

Dalam kepercayaan Kaharingan, upacara ini merupakan tahapan penting untuk mengantarkan arwah menuju Lewu Tatau, yang diyakini sebagai dunia kekal tempat roh dapat hidup dengan sempurna. 

Ritual Tulang Belulang

Sebelum tiwah dilaksanakan, jenazah yang telah dikuburkan dengan rentang waktu tertentu (bisa 1 hingga 10 tahun) akan dibongkar untuk diambil tulang-belulangnya.

Tulang-belulang itu kemudian dikumpulkan untuk menjalani rangkaian ritual, lalu disimpan di tempat pemakaman khusus yang disebut sandung atau pambak yang menjadi tempat abadi bagi arwah.

Ritual tiwah biasanya digelar megah dengan diiringi tarian, musik tradisional, serta doa-doa dari pemuka agama Kaharingan, yang disebut balian. 

Di tengah upacara, hewan seperti kerbau, babi, dan ayam juga turut dikurbankan sebagai persembahan kepada para arwah dan dewa pencipta. 

Salah satu simbol pemghormatan kepada roh leluhur dalam prosesi ini adalah sapundu, tiang kayu berukir tempat hewan kurban diikat sebelum disembelih. 

Sebagai upacara penting untuk mengantarkan arwah seseorang menuju alam roh yang kekal, masyarakat suku Dayak Ngaju percaya setiap orang yang meninggal harus menjalani tiwah.

Roh Sempurna Jika Lakukan Ritual Tiwah

Roh seseorang akan dianggap belum benar-benar tenang sebelum melalui tiwah. Bahkan ada kepercayaan jika upacara tiwah tidak dilaksanakan, arwah orang tersebut dapat mengganggu keluarga yang masih hidup. 

Namun sebaliknya, dengan upacara dan ritual tiwah, roh orang yang telah meninggal itu akan diantar menuju Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, alam keabadian, sehingga dapat beristirahat dalam damai bersama para leluhur. 

Karena membutuhkan biaya dan persiapan besar, upacara adat dan ritual tiwah kerap diselenggarakan secara gotong royong dengan melibatkan keluarga besar, bahkan sejumlah warga dari beberapa desa.

Menyimpan nilai-nilai dan budaya luhur masyarakat suku Dayak Ngaju tradisi tiwah ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014.  Sehingga harus terus dijaga dan dipertahankan sebagai bagian penting dari identitas budaya Kalimantan Tengah. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar