Hadirkan Warna Berbeda, Gamelan Kiai Kanjeng Ajak Penonton Menikmati Perpaduan Musik Tradisional dan Modern

5 Min Read
Large band on a dim stage, multiple musicians in striped shirts playing guitars, keyboards, brass, and drums with a singer at the microphone in front.
Gamelan Kiai Kanjeng menghadirkan warna berbeda dalam pertunjukan World Music di Purawisata Amphitheater. (Sumber Foto: Setiaky.A.Kusuma)


Mabur.co – Grup Musik Gamelan Kiai Kanjeng didirikan di Yogyakarta pada tahun 1993. Istilah Kiai Kanjeng pada awalnya bukanlah grup musik seperti sekarang. Istilah Kiai Kanjeng merupakan nada yang berkonsep aransemen dari gamelan yang diciptakan oleh seorang seniman yaitu Nevi Budianto. Namun semakin lama menjadi sebuah grup musik yang mengiringi kegiatan Emha Ainun Najib atau sapaan akrabnya adalah Cak Nun.

Gamelan Kiai Kanjeng menghadirkan warna berbeda dalam pertunjukan World Music di Purawisata Amphitheater, Selasa (3/11/2026) malam. Dikenal dengan penampilan yang kerap lekat dengan nuansa religi, kali ini Kiai Kanjeng mengajak penonton menikmati perpaduan musik tradisional dan modern melalui berbagai lagu, mulai dari tembang Jawa, selawat, hingga lagu-lagu Barat. Gamelan yang berpadu dengan instrumen modern seperti gitar menghasilkan aransemen yang menarik.

Sejumlah lagu bahkan dikemas dengan sentuhan berbeda, memberikan pengalaman tersendiri bagi penonton yang hadir. Pertunjukan di Purawisata Amphitheater malam itu pun meninggalkan kesan bahwa musik tradisional bisa hadir dengan banyak wajah. Melalui perpaduan gamelan, instrumen modern, dan lagu-lagu lintas genre, Kiai Kanjeng menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti harus membatasi diri dari perkembangan musik. Justru, kreativitas dapat menjadi jalan agar kekayaan budaya tetap hidup dan semakin dikenal oleh generasi berikutnya.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Ellya Shari, menuturkan, saya melihat pertunjukan ini bukan hanya menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya, tetapi juga menunjukkan bahwa musik tradisional memiliki ruang untuk berkembang dan beradaptasi dengan berbagai jenis musik.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Ellya Shari. (Sumber Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Selama ini Kiai Kanjeng mungkin lebih dikenal lewat pertunjukan bernuansa religi. Namun, penampilan malam itu memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah menarik. Perpaduan gamelan dengan instrumen modern serta keberanian membawakan lagu dari berbagai genre menjadi daya tarik tersendiri.

“Kalau kita perhatikan, pertunjukan ini tidak hanya menjadi bentuk upaya nguri-uri budaya, tetapi juga menghadirkan lagu-lagu populer yang dimainkan menggunakan alat musik tradisional,” ujarnya.

Ellya memberikan pujian kepada para penyanyi dan pemain musik yang tampil malam itu. Lagu-lagu yang dibawakan terasa beragam, dengan aransemen yang tidak biasa. Perpaduan lagu Jawa dan Barat menjadi salah satu hal yang membuat pertunjukan terasa lebih hidup. Cara seperti ini bisa menjadi salah satu pendekatan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Sebab, kesenian tradisional tidak harus selalu ditampilkan dengan kesan formal atau serius. Dengan pengemasan yang tepat, budaya justru bisa dinikmati secara lebih santai dan menyenangkan.

“Budaya tidak selalu identik dengan sesuatu yang membosankan. Budaya juga bisa dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan, lebih fun, bahkan funky,” jelasnya.

Elya berharap semakin banyak kegiatan seni dan budaya yang dikemas dengan pendekatan kreatif seperti ini. “

Dengan begitu, generasi muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal sekaligus menikmati kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia,”tuturnya.

Sementara itu, Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengaku senang bisa kembali menyaksikan penampilan Gamelan Kiai Kanjeng. Baginya, pertunjukan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar sajian musik. Lukman melihat Kiai Kanjeng sebagai sebuah orkestrasi yang mampu mempertemukan kekayaan musik dan budaya Indonesia dengan unsur kebudayaan dari berbagai bangsa. Kemampuan para musisi dalam memainkan beragam alat musik menjadi bagian penting dari keistimewaan pertunjukan tersebut.

“Sebuah orkestrasi musik yang tidak hanya menampilkan para musisi dengan kemampuan luar biasa dalam memainkan berbagai alat musik, tetapi juga mampu menggali kekayaan budaya bangsa serta memadukannya dengan kebudayaan dari berbagai bangsa di dunia,” katanya.

Close-up of a man wearing round glasses and a black jacket outdoors at night, with colorful flowers in the background.
Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. (Sumber Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Dalam kesempatan itu, Lukman turut menyinggung sosok Mbah Nun yang memiliki peran besar dalam perjalanan Gamelan Kiai Kanjeng. Selama puluhan tahun, Mbah Nun dinilainya telah mengembangkan musik sebagai sarana pendidikan sekaligus upaya merawat seni dan nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa musik bukan hanya soal hiburan. Lebih dari itu, musik dapat menjadi media untuk menjaga nilai kemanusiaan dan mengingatkan masyarakat agar tetap berpijak pada akar budayanya.

“Saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Kiai Kanjeng yang terus menjaga dan merawat musik sebagai sarana untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, agar kita tidak tercerabut dari akar budaya dan kehilangan pegangan di tengah kondisi kehidupan saat ini,” ungkapnya.

Meski menikmati pertunjukan tersebut, Lukman mengaku masih ada sejumlah lagu yang sebenarnya ingin didengarkan. Terutama selawat dan beberapa lagu yang pernah populer pada masanya. Namun, dengan durasi pertunjukan sekitar 90 menit, tidak semua lagu dapat masuk dalam rangkaian penampilan malam itu.

“Saya berharap pertunjukan Gamelan Kiai Kanjeng tidak hanya digelar di Yogyakarta. Kota-kota besar seperti Jakarta juga diharapkan bisa menjadi tujuan berikutnya agar semakin banyak masyarakat yang berkesempatan menyaksikan penampilan mereka secara langsung,”katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar