Nyimas Utari, Agen Mata-mata yang Berhasil Membunuh Petinggi VOC

4 Min Read
Portrait of a young woman with dark hair and a white flower in her hair, looking at the viewer.
Nyimas Utari, prajurit Mataram yang menyandang tugas membunuh Gubernur Jenderal VOC, JP Coen. (Sumber Foto: Perpusnas)

Mabur.co– Agen mata-mata ternyata sudah digunakan sejak zaman kerajaan Indonesia. Hal ini terbukti dari beberapa catatan adanya seorang telik sandi pada zaman kerajaan mataram. Ia adalah Nyimas Utari Sandiyaningsih, mata-mata kerajaan Mataram yang menyusup ke VOC. Nyimas Utari adalah salah satu tokoh perempuan yang berjasa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda.

Wajah cantiknya ini tak mengurangi ketegasan dan keberaniannya dalam menjalankan tugas sebagai seorang telik sandi. Selain berani Nyimas Utari juga seorang yang pemberani namun juga memiliki ketenangan dan kecerdasan.

Dilansir dari perpusnas, kehadiran Nyimas Utari di klub perwira VOC ini, tidak lepas dari peran Asisten JP Coen, Wong Agung Aceh. Kehadiran Nyimas Utari di Batavia ini, tentunya tak lepas dari persiapan Mataram, melakukan serangan kedua ke benteng VOC. Sultan Agung dua kali melakukan serangan ke Batavia. Yakni, pada tahun 1628 yang mengalami kegagalan, dan baru berhasil memenangkan pertempuran pada serangan kedua dilancarkan pada 1629.

Dalam Babad Jawa, disebutkan pembunuhan terhadap Gubernur Jenderal VOC JP Coen, sudah lama dirancang oleh pasukan intelijen atau telik sandi Mataram, yang dikenal dengan nama Dom Sumuruping Mbanyu. Aksi Nyimas Utari, sebagai prajurit telik sandi berparas cantik ini, dalam berbagai catatan sejarah, disebutkan berhasil membunuh Gubernur Jenderal VOC JP Coen pada 20 September 1629, dengan menggunakan racun arsenik yang dicampurkan minuman. Setelah itu, JP Coen yang dikenal bengis dan ahli strategi perang, dipenggal kepalanya oleh Nyimas Utari. Potongan kepala itu dilarikan ke luar benteng VOC di Batavia dan diserahkan kepada Tumenggung Surotani bersama Bagus Wanabaya, lalu dibawa ke Mataram.

Usai penggalan kepala itu tiba di Mataram, Sultan Agung memerintahkan kepada para prajuritnya, agar kepala JP Coen diawetkan. Dikemudian hari, penggalan kepala itu dikubur di tengah-tengah tangga menuju ke makam Sultan Agung. Kematian tragis J.P Coen di tangan Nyimas Utari tersebut, berawal dari kematian istri JP Coen, Eva Ment bersama anaknya pada 16 September 1629. Di tengah kekalutan dan keterpurukan atas kematian istri dan anaknya, JP Coen begitu lengah sehingga tak menyadari Nyimas Utari telah menyiapkan serangan mematikan.

Nyi Utari sendiri, disebut juga memiliki kedekatan dengan Eva Ment. Intrik-intrik di dalam benteng Batavia tersebut, dengan cermat dirancang oleh Bagus Wanabaya yang merupakan ayah kandung Nyimas Utari. Bagus Wanabaya berani mempertaruhkan nyawa anaknya sendiri, dalam misi rahasia tersebut. Kisah misi rahasia sebagai telik sandi yang dijalankan oleh Nyimas Utari, juga pernah dilakukan ibundanya, Roro Pembayun 50 tahun sebelum peristiwa pembunuhan JP Coen. 

Roro Pembayun menyamar menjadi penari jalanan, sebelum Mataram Kotagedhe menghancurkan kerajaan Mangir. Jauh sebelum dikirim ke Batavia, Bagus Wanabaya mengirimkan putri cantiknya ini untuk bergabung dengan telik sandi dari Samudra Pasai, Mahmudin. Setelah menikah dengan Mahmudin, Nyimas Utari masuk ke benteng VOC dengan berkamuflase sebagai saudagar dan akhirnya dipercaya menjadi mitra bisnis VOC.

Setelah berhasil menjalankan misinya, Nyimas Utari berusaha lari keluar benteng VOC di Batavia, bersama suaminya. Sayangnya, dalam pelarian itu prajurit telik sandi ini tewas akibat tembakan meriam pasukan VOC.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar