Saptohoedojo Pernah Merantau ke Malaysia, Tidur di Emperan Toko

Mabur.co-  Maestro seni rupa Indonesia, Saptohoedojo, merupakan salah satu sosok penting dalam kesenian Indonesia. Perjalanan hidupnya menjadi cerita panjang yang tak berkesudahan.

Saptohoedojo, lahir pada 6 Februari 1925 di Solo. Nama kecilnya Piek, anak ketujuh dari  18 bersaudara keturunan KRT dr. Hendronoto. 

Kepandaiannya melukis sudah terlihat sejak kecil.  Di sekolah ia mendapatkan nilai tinggi untuk mata pelajaran melukis. 

Ia pernah mendapatkan juara pertama lomba melukis antar-sekolah se-kota Solo. Saptohoedojo meninggal dunia Rabu pagi, pukul 05.00 WIB, di rumah sekaligus galeri, Jl. Solo KM 9,8 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, dalam usia 78 tahun.

Jenazahnya dimakamkan di makam seniman Giritirto, Imogiri, Bantul. Saptohoedojo meninggalkan dua istri, Kartika Affandi, putri pelukis besar Affandi, dan Yani Saptohoedojo, serta 9 anak dan 3 cucu.

Istri mendiang, Yani Saptohoedojo, mengatakan Saptohoedojo pada usia 22 tahun, pernah merantau ke Malaysia tanpa modal, walaupun dirinya keturunan ningrat.

Meski ayahnya dokter di Keraton Solo, ia tidak mau dimanjakan oleh harta orang tuanya. 

“Ia ke Malaysia untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman perihal dunia seni rupa,” ujarnya saat ditemui mabur.co di Art Gallery Saptohoedojo, Jalan Solo KM 8, Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026).

Yani menuturkan, setelah bertahun-tahun hidup sederhana di Negeri Jiran, bahkan tidur di emperan toko, akhirnya Saptohoedojo menemukan salah satu pelanggan yang terkesan dengan hasil lukisannya.

Hingga pada akhirnya lukisan itu dipamerkan di salah satu event pameran di Malaysia. 

“Banyak yang menyebut Pak Sapto adalah pelukis realis. Tapi kenyataannya dia juga mencoba instalasi dengan merakit pesawat, mesin cetak, dan sebagainya. Beliau punya taste yang tinggi. Tidak hanya puas bermain di media kanvas, tetapi juga di kriya, arsitektur, dan batik,” katanya.

Yani bercerita, suaminya Saptohoedojo semasa hidup selalu mengundang siswa-siswa sekolah di Yogyakarta untuk kunjungan dan memberi pembelajaran. Kiat menjadi seniman dan terus menghargai budaya Indonesia.

Hal itu menjadi agenda rutin yang diadakan Saptohoedojo sebagai dedikasi dalam dunia seni rupa. 

“Setiap hari Minggu, siswa-siswa disuruh datang ke sini dan diberi ceramah kesenian oleh Pak Saptohoedojo,” kenangnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *