Mabur.co – Bagi Anda kelahiran tahun 1990-an ke belakang dan akrab dengan dunia teknologi atau komputer, pasti sudah tidak asing lagi dengan platform bernama Yahoo!
Ya, platform yang didirikan tahun 1994 ini sebetulnya telah lebih dulu merajai era mesin pencari, sebelum hadirnya Google, yang baru didirikan pada 1998.
Yahoo! bahkan mencapai masa keemasan di awal tahun 2000-an, ketika mereka terus merajai portal internet global, dengan berbagai layanan andalan macam Yahoo Mail, Yahoo Messenger, pencarian berita, dan direktori web yang terkurasi.
Bahkan nilai valutasi mereka pada 2000 lalu menyentuh angka $125 miliar.
Namun setelah Google mulai mencuat ke permukaan, pelan-pelan Yahoo! mulai kehilangan pamornya sebagai platform mesin pencari nomor satu di dunia.
Bahkan pada 2017, Yahoo! mulai merombak berbagai layanan unggulannya, yang didorong dari akuisisi oleh Verizon Communications.
Salah satunya dengan memperbarui tampilan pada layanan email (Yahoo Mail) yang cukup populer di masanya, dengan desain antarmuka yang lebih bersih, cepat, dan modern.
Meskipun website Yahoo! masih bisa diakses dan berfungsi normal sampai hari ini, namun jumlah pengunjungnya sudah tak lagi ramai seperti puluhan tahun silam.
Bahkan generasi muda atau gen Z kemungkinan besar tidak mengenal Yahoo! sama sekali. Sehingga mereka tidak akan mungkin mengakses platform ini di ponselnya masing-masing.
Dikutip dari laman Sprintzeal, berikut adalah beberapa pelajaran penting dari kegagalan Yahoo! mempertahankan eksistensinya di industri teknologi dunia.
Adaptif terhadap Setiap Perubahan
Sebagai platform mesin pencari nomor satu di akhir milenium pertama dan awal milenium kedua, Yahoo! seperti terlena dengan apa yang sudah mereka miliki.
Namun tidak menyadari bahwa dunia bergerak dengan begitu cepat setiap harinya, terlebih di bidang teknologi informasi.
Akibatnya mereka gagal beradaptasi dengan transisi ke era smartphone dan media sosial, sehingga pelanggan Yahoo! pelan-pelan beralih ke platform lain.
Kepemimpinan dan Visi yang Kurang Jelas
Dalam perjalanannya, Yahoo! mengalami krisis identitas antara menjadi perusahaan teknologi atau penyedia portal media.
Hal ini diperparah dengan pergantian CEO yang rupanya tidak memiliki visi digital yang jelas, sehingga merusak arah strategis perusahaan.
Manfaatkan Momentum
Ketika Yahoo! berpuas diri dengan apa yang dimiliki, mereka lupa bahwa teknologi terus bergerak dan berpacu setiap harinya. Sehingga momentum kekuasaan Yahoo! pelan-pelan mulai meredup.
Akhirnya Yahoo! tak sanggup mempertahankan momentum kejayaan yang sudah mereka dapatkan, dengan terus berinovasi untuk menciptakan produk dan layanan yang lebih baik lagi.
Selain itu Yahoo dikabarkan sempat menolak membeli Google di masa awal pembentukannya (1998 dan 2002).
Padahal jika Yahoo! dan Google merger menjadi satu, tentunya akan jadi kekuatan besar di industri mesin pencari, dan pastinya akan terus eksis sampai hari ini.
Manajemen Keamanan dan Data
Selain soal adaptasi dan manajemen, Yahoo! juga pernah melakukan pelanggaran terkait keamanan data yang cukup besar.
Apalagi hal itu tidak diikuti dengan penanganan recovery yang cepat dan tepat, sehingga lambat laun merusak kepercayaan pelanggan secara permanen.
Selalu Waspada Kompetitor Baru
Di luar soal inovasi, Yahoo! juga kurang memperhitungkan kehadiran kompetitor baru pada saat itu (Google), karena merasa sudah lebih unggul dari para pesaingnya.
Namun di dunia yang serba modern seperti saat ini, apa pun bisa terjadi dengan begitu cepat. Semudah membalikkan telapak tangan.
Jika tidak waspada dan terus berinovasi, maka posisi yang sudah didapatkan dengan nyaman itu sewaktu-waktu pasti akan bergeser.
Karena mempertahankan posisi puncak bukan berarti Anda tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Justru Anda harus bekerja lebih keras lagi jika ingin selalu berada di sana setiap saat.
Karena sekali saja lengah, maka posisi puncak Anda akan dengan mudah digantikan oleh pihak lain.
Google sendiri sebagai platform mesin pencari terbaik di dunia saat ini, tidak pernah berhenti berinovasi, beradaptasi, sekaligus tetap bekerja keras untuk terus berada di singgasana tertinggi.
Hal itulah yang tidak diperhatikan oleh Yahoo! pada saat itu, sehingga mereka harus “terjun bebas” ditinggalkan oleh pengguna setianya.
***
Bagaimanapun, kegagalan Yahoo! menjadi bukti, bahwa satu-satunya kunci untuk bisa konsisten dan eksis di persaingan industri teknologi adalah dengan terus melakukan perubahan.
Jangan pernah berpuas diri dengan segala yang telah dimiliki, karena siapa pun akan mampu menggusur Anda secara tiba-tiba. (*)



