Jika mendengar salah satu profesi yang jasanya sangat besar adalah loper koran. Sebelum jam enam pagi loper koran sudah harus mengantar koran ke rumah masing-masing pelanggan.
Di era Orde Baru, profesi loper koran ini sangat terhormat. Sudah jelas waktu itu andalan mendapatkan asupan informasi selain melalui radio dan televisi adalah melalui koran. Maka fungsi koran pun menjadi rujukan ilmiah yang bernilai alternatif.
Pendapatan menjadi loper koran juga bisa lumayan. Padahal kerjanya hanya sekitar 3 jam saja. Kalau jumlah pelanggan banyak, maka loper koran bisa hidup layak. Penghasilan bulanannya bisa cukup untuk jalan-jalan setiap akhir pekan. Nonton film Warkop Dono Kasino Indro atau film Jackie Chan, bahkan film James Bond di bioskop terdekat.
Banyak orang yang berharap dengan penuh penasaran dan kecemasan ketika menunggu loper koran tiba. Di teras rumah bisa saja sudah mempersiapkan diri sembari minum teh hangat dan makan camilan ala kadarnya.
Apalagi bagi penulis. Banyak penulis yang menyandarkan hidupnya dengan menanti loper koran tiba. Bisa saja si penulis itu tidak langganan koran secara harian, namun hari tertentu saja. Tapi, intinya, numpang jasa loper koran untuk mendapatkan media yang diinginkan.
Di era Orde Baru adalah era kejayaan koran. Era kejayaan majalah. Semuanya cetak. Warnanya cerah dan menggembirakan. Kekayaan media bisa dilihat dari jumlah iklan yang masuk. Untuk media ternama iklan yang masuk bahkan sudah inden, antre lama. Misalnya di koran nasional Kompas.
Banyak orang merasakan di era Orde Baru manfaat media massa seperti koran dan sejenisnya sungguh sangat mencerahkan. Benar-benar mencerdaskan. Bagi orang yang terbiasa membaca koran, biasanya juga akan menjadi analis yang jitu. Meskipun hanya selevel mahasiswa biasa. Tapi lumayan omongannya jadi punya kutipan.
Sangat terasa, dampak pers bagi masyarakat. Setidaknya bisa menciptakan masyarakat yang kritis. Apalagi bagi orang yang tidak mencerna mentah-mentah isi media yang dibaca dan mempunyai referensi bandingan yang memadai.
Begitulah di Hari Ulang Tahun Pers Indonesia hari ini, 9 Februari 2026, saya mengenang secara khusus kejayaan loper koran dan media yang diantarnya di era Orde Baru.
Satu profesi yang di era Orde Ngibul kini bisa dikatakan hilang. Selain loper koran banyak profesi yang juga hilang seiring perkembangan zaman.
Begitulah percepatan media, kini semua berita dan cerita sudah ada di dalam genggaman tangan. Tinggal pilih saja mana yang valid mana yang hoaks. Meski yang hoaks atau ngibul itu bisa jadi justru enak untuk dikonsumsi. ***



