Mabur.co – Rumah yang biasa buat belajar tentang seni dan desain di Yogyakarta, salah satunya adalah Rumah Domes, yang terletak di kawasan Prambanan, Sleman. Publik lebih banyak mengenalnya dengan nama Rumah Teletubbies.
Dilansir dari Journal of Architecture and Built Environment, Selasa (23/6/2026), dijelaskan, arsitektur kubah sebenarnya sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu, seperti pada bangunan kuno di Timur Tengah dan gereja-gereja besar di Eropa.
Namun, dalam konteks modern, dome house dikembangkan melalui teknologi konstruksi baru yang membuatnya lebih ringan, lebih efisien energi, dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Pengembangan Konstruksi Baru
Bentuk kubah dianggap sebagai salah satu bentuk struktur paling stabil di alam karena mampu mendistribusikan tekanan ke seluruh permukaannya secara merata.
Itulah alasan mengapa dome house sering diklaim sebagai hunian yang lebih tahan gempa, tahan angin kencang, bahkan lebih awet dibandingkan rumah konvensional.
Secara umum, dome house dibuat menggunakan bahan ringan seperti beton, geodesic frame, hingga expanded polystyrene (EPS) yang dilapisi semen khusus. Semua teknik ini bertujuan menciptakan hunian yang kokoh, tahan lama, dan hemat energi.
Dome house modern pertama kali dipopulerkan oleh seorang arsitek Amerika bernama Buckminster Fuller pada pertengahan abad ke-20.
Ia memperkenalkan konsep geodesic dome, yakni struktur kubah yang tersusun dari rangka segitiga yang saling mengunci sehingga menciptakan sistem geometri yang sangat kuat namun tetap ringan. Konsep ini kemudian berkembang pesat dan banyak digunakan untuk bangunan publik, pavilon, hingga hunian pribadi.
Dikenal Sejak Awal Tahun 2000
Di Indonesia, dome house mulai dikenal sekitar awal tahun 2000-an, namun popularitasnya meningkat tajam setelah terjadinya gempa besar di Yogyakarta pada tahun 2006.
Beberapa kawasan dibangun ulang menggunakan konsep dome house karena struktur kubah dinilai lebih tahan terhadap guncangan.
Contoh paling terkenal adalah perkampungan dome house di Nglepen, Sleman, Yogyakarta, yang kini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi mengenai hunian tahan gempa. Sejak saat itu, dome house semakin mendapat perhatian terutama untuk wilayah rawan bencana.
Pembangunan dome house memiliki proses yang berbeda dibandingkan rumah konvensional yang menggunakan rangka kolom dan balok.
Untuk dome house berbahan EPS misalnya, proses dimulai dari pemasangan cetakan atau panel berbentuk lengkung yang sudah disusun menjadi struktur kubah.
Setelah itu, panel dilapisi serat dan disemen untuk memperkuatnya. Hasil akhirnya adalah struktur monolitik yang menyatu tanpa sambungan, sehingga membuatnya lebih kuat dan tidak mudah retak.
Sementara itu, pada dome house tipe geodesic, konstruksi dimulai dari perakitan rangka-rangka segitiga yang membentuk jaringan geometris. Rangka tersebut bisa terbuat dari kayu, baja ringan, atau aluminium.
Setelah rangka selesai, barulah dilapisi panel kayu, kaca, atau material lain sesuai desain yang diinginkan. Fleksibilitas ini memungkinkan pemilik rumah untuk mengatur ventilasi, pencahayaan, hingga sistem insulasi dengan lebih optimal.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, dome house juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk membangun. Salah satu tantangan terbesar adalah menyesuaikan interior dengan bentuk dinding yang melengkung.
Furnitur standar yang dibuat untuk rumah sudut seringkali tidak cocok dan perlu dibuat khusus. Selain itu, instalasi listrik atau pipa juga membutuhkan perencanaan lebih detail agar dapat mengikuti lengkungan struktur.
Kekurangan lain adalah sulitnya menambah ruangan secara horizontal. Karena bentuk kubah sudah memiliki struktur yang menyatu, penambahan ruang biasanya dilakukan secara vertikal atau dengan membangun kubah tambahan yang dilekatkan pada struktur utama. Ini membuat proses renovasi menjadi lebih kompleks dibandingkan rumah persegi.
Menarik Wisatawan
Salah satu penghuni kawasan Rumah Dome, Lisa mengatakan, dulu, rumah-rumah dome berwarna putih dengan bentuk unik itu selalu menarik perhatian wisatawan. Jalan setapak yang menghubungkan antar-rumah juga didesain menarik sehingga tampak indah saat dilihat dari citra drone. Namun kini suasana berbeda drastis. Tidak ada lagi rombongan wisatawan maupun tour guide yang memasukkan Rumah Dome dalam paket perjalanan wisata kawasan Prambanan.
“Sudah sekitar tiga tahun ini hampir tidak ada wisatawan yang masuk. Kalau ada paling hanya berhenti sebentar di jalan, lihat-lihat lalu pergi lagi,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Selasa (23/6/2026).
Lisa mengatakan, banyak pengunjung membandingkan kondisi sekarang dengan masa kejayaan kawasan tersebut.
“Biasanya mereka bilang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi,” katanya.
Lisa mengatakan pula, dari total 71 rumah dome yang dibangun sebagai hunian tahan gempa pasca-bencana 2006, kini hanya sekitar 44 rumah yang masih dihuni warga.
Sisanya kosong dan mulai mengalami kerusakan di berbagai bagian bangunan. Cat dinding memudar dan mengelupas, sementara beberapa bagian atap serta dinding tampak retak.
“Taman-taman kecil yang dulu menghiasi kawasan juga berubah menjadi semak dan ilalang sehingga daya tarik wisatanya perlahan memudar,” katanya.
Lisa mengatakan lagi, rumah Dome dibangun melalui bantuan kemanusiaan setelah gempa bumi berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.
Konsep rumah kubah dipilih karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan gempa dibanding bangunan konvensional.
“Kawasan ini kemudian berkembang menjadi wisata edukasi kebencanaan dan arsitektur unik,” katanya.
Lisa menuturkan, saat masa ramainya, kawasan ini dipenuhi mural warna-warni, taman mini, hingga kios warga yang menjual makanan dan cindera mata.
Kini, kemunculan destinasi baru seperti Obelix Hills, Tebing Breksi, hingga penataan ulang Candi Ijo membuat Rumah Dome kalah bersaing.
“Kalau ditata lagi sebenarnya masih punya potensi besar karena lokasinya strategis di jalur wisata Prambanan,” ujarnya. ***

