Mabur.co- Masih ingat dengan peristiwa gempa tahun 2006 yang cukup dahsyat dengan ribuan korban jiwa dan ribuan bangunan hancur.
Bermula dari peristiwa gempa bumi tersebut memunculkan ide Prof. Dr. Sarwidi, salah seorang pakar gempa UII untuk mendirikan Museum Gempa di tempat wisata Kaliurang Sleman atau tepatnya di Dusun Ngalangan, Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman.
Sejarah Museum Gempa Sarwidi
Pendiri Museum, Sarwidi mengatakan, museum gempa Prof. Dr. Sarwidi (MUGESA) memiliki sejarah panjang yang bermula sejak akhir tahun 1990-an.
Gagasan awal pendiriannya muncul dari keprihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bangunan tahan gempa.
“Setelah gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 yang menyebabkan kerusakan besar, ide pendirian museum ini semakin menguat. Pada tahun 2007, museum ini secara resmi diberi nama dan mulai berkembang sebagai pusat edukasi kegempaan. Sejak 2015, museum ini semakin dikenal dan sering dikunjungi oleh pelajar, peneliti, serta masyarakat umum,” ucapnya, saat diwawancarai via telepon, Selasa (23/6/2026).
Sarwidi mengatakan, di Museum Gempa, bisa memberi pelajaran bagi generasi muda agar lebih akrab terhadap gempa. Sehingga ketika terjadi gempa, sudah mengetahui bagaimana menyelamatkan diri. Pembelajaran ini bisa mengurangi risiko bencana karena Indonesia merupakan negara bencana.
“Gempa bumi tidak bisa dipindahkan. Kalau banjir atau lahar dingin bisa diantisipasi dalam mengurangi dampaknya,” katanya.
Gempa, lanjut Sarwidi, jangan dipandang dari sisi negatifnya saja. Tetapi ada sisi positifnya, sebab gempa merupakan salah satu cara bumi melepaskan diri energinya.
“Kalau tidak ada gempa, kemungkinan bumi ini bisa meledak dan bumi ini tidak bisa dihuni lagi. Jadi gempa itu tugasnya mulia, menyelamatkan bumi,” katanya.

