Mabur.co – Jika Anda berkunjung ke Kota Yogyakarta, destinasi pertama Anda pasti akan mengarah ke wisata Malioboro, yang terletak di pusat kota Yogyakarta atau DIY, atau yang kerap disebut sebagai Titik Nol Kilometer Jogja.
Sebelum menuju ke kawasan wisata Malioboro, di titik nol kilometer tersebut, Anda akan menemukan salah satu bangunan bersejarah yang pernah dimiliki Indonesia, bahkan sejak masa kolonialisme Belanda.
Bangunan tersebut adalah gedung atau kantor Bank Indonesia (BI), yang berlokasi di Jalan Panembahan Senopati Nomor 4-6, Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Kantor ini berada tepat di sebelah timur kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dan berdampingan langsung dengan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Keduanya menjadi land mark titik nol yang begitu populer hingga saat ini.
Dilansir dari laman resmi Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJP), Selasa (11/8/2026), bangunan ini mengusung gaya arsitektur Neo-Renaissance, yang dipadukan dengan corak Indis (kolonial khas Belanda).
Gedung ini pertama kali dibangun pada 1879, dan dirancang ulang oleh biro arsitek Cuypers & Hulswitt pada tahun 1912 hingga 1915, guna mencerminkan citra kekokohan sebuah bangunan, beserta kejayaan finansial (ekonomi) yang sangat kental saat itu.
Arsitektur Bangunan Tropis ala Hindia Belanda
Hingga saat ini, bangunan ini tetap mempertahankan ciri khas kemegahan era kolonial, dengan dinding depan yang dihiasi bukaan tinggi dan berukuran lebar khas bangunan iklim tropis Hindia Belanda, namun tetap disesuaikan dengan iklim lokal ala Kota Yogyakarta.
Dengan dominasi cat berwarna putih, pilar yang kokoh, serta jendela dan pintu berukuran besar yang terpampang di bagian depan, membuat bangunan ini masih sangat identik dengan era kejayaan kolonialisme pada saat itu.
Di bagian atas gedung, terdapat menara kembar dengan atap kubah berbahan tembaga, yang berfungsi sebagai elemen estetika arsitektur khas zaman kolonial, sekaligus sebagai ventilasi alami, untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan ke dalam ruangan bangunan di daerah tropis.
Sementara di bagian jendela utama (depan), terdapat lukisan kaca atau hiasan bergambar Ratu Wilhelmina, yang menjadi simbol penghormatan di masa politik etis.
Mewakili Sejarah Panjang BI
Gedung ini tidak hanya berdiri megah sebagai simbol kehadiran zaman kolonialisme di Kota Yogyakarta, melainkan juga tonggak sejarah penting Bank Indonesia, yang dulunya bernama De Javasche Bank Djogdjakarta (Bank Java cabang Yogyakarta).
Setelah Indonesia resmi dinyatakan merdeka pada 1945, dan berakhirnya mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia) pada 1950, BI pun mulai menyusun kekuatannya sendiri tanpa campur tangan pihak Belanda.
Mengingat nilai sejarahnya yang sangat tinggi, gedung ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya nasional oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) pada 2010, yang tertuang secara resmi melalui Surat Keputusan Nomor PM.07/PW.007/MKP/2010.
Saat ini, kantor ini masih tetap beroperasi, sebagai kantor cabang BI di wilayah DIY. Selain itu, gedung ini juga memiliki area galeri edukasi mata uang Rupiah, yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luas. (*)
