KAI Bantah Hancurkan Bangunan Cagar Budaya, Warganet Tunjukkan Peta Kuno Kawasan Stasiun Lempuyangan 

4 Min Read
1935 map section showing roads, rail lines crossing a town with 'Lokasi (1935)' label at center-right.
Peta kuno kawasan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. (Foto: Instagram @sejarahjogja)

Mabur.co – Proses pengembangan kawasan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta menjadi sorotan publik usai dinilai turut menghilangkan sejumlah bangunan kuno bersejarah era kolonial. 

Tak sedikit warganet mengkritisi pembongkaran kompleks bangunan yang disebut sebagai rumah dinas pegawai Stasiun Lempuyangan yang diperkirakan dibangun sekitar 1910-1920.

Salah satu akun pemerhati sejarah Yogyakarta @sejarahjogya, dikutip mabur.co, Sabtu (26/9/2026) bahkan turut angkat suara. Melalui sebuah unggahan di Instagram, akun tersebut menunjukkan bukti visual hilangnya bangunan tersebut. 

Peta Kuno Berbicara

Dalam slide pertama tampak dokumentasi peta kuno tahun 1925 yang menunjukkan keberadaan sejumlah bangunan tersebut. Begitu juga foto udara National Archief tahun 1948 yang turut memperlihatkan kawasan yang sama.

Bahkan, berdasarkan unggahan tersebut, deretan bangunan lama itu masih dapat dilihat dalam citra udara Google Earth dari  tahun 1985 hingga 2024.

Namun dalam peta terbaru saat ini sebagian besar bangunan kuno bersejarah tersebut sudah tidak ada. Dari sebanyak 12 bangunan, sekitar 10 di antaranya telah dihancurkan atau dibongkar dan tinggal menyisakan 2 bangunan saja.

“Konon dari 12 hanya disisakan 2,” tulis akun@sejarahjogya.

Unggahan itu kontan langsung viral dan memancing beragam komentar warganet. Sebagian menyayangkan hilangnya bangunan lama yang dinilai memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari karakter kawasan Lempuyangan.

“Sayang banget,” tulis salah satu warganet dalam kolom komentar.

Bangunan kuno bekas rumah dinas pegawai Stasiun Lempuyangan yang diperkirakan dibangun sekitar 1910-1920. (Foto: Instagram @sejarahjogja)

Warganet lainnya justru membicarakan bagaimana kawasan tersebut seharusnya bisa ditata tanpa sepenuhnya menghilangkan jejak bangunan lama.

Bahkan ada pula yang mengusulkan pemanfaatan kembali bangunan lama dengan konsep adaptive reuse. Bangunan bersejarah tetap dipertahankan, tetapi fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan kawasan.

Tak hanya itu, sejumlah warganet juga menyoroti akses menuju stasiun. Salah satu usulan yang muncul adalah membuka atau memperkuat akses dari sisi utara melalui kawasan Jalan Stadion Kridosono sehingga tidak seluruh arus kendaraan bertumpu di sisi selatan Stasiun Lempuyangan.

Sebagaimana diketahui, PT KAI Daop 6 Yogyakarta memang tengah melakukan penataan dan perluasan kawasan Stasiun Lempuyangan guna meningkatkan konektivitas antarmoda, keselamatan, serta kenyamanan penumpang.

Hal itu tak lepas karena kondisi stasiun tertua di Kota Yogyakarta itu terus mengalami pertumbuhan penumpang setiap tahunnya. Sejumlah sumber mencatat jumlah penumpang Stasiun Lempuyangan pada 2025 bahkan telah mencapai 5,6 juta penumpang.

Upaya Pengembangan Kawasan

Melihat tingginya animo penumpang itulah PT KAI Daop 6 melakukan upaya pengembangan kawasan dengan menyiapkan akses jalan baru sisi selatan stasiun. Direncanakan jalan ini akan digunakan untuk memisahkan akses kendaraan umum dengan akses penumpang menuju kawasan stasiun.

KAI menyebut, pengembangan kawasan Stasiun Lempuyangan ini bertujuan untuk menguraikan kepadatan kendaraan di sekitar stasiun sekaligus menata kawasan agar dapat mendukung aktivitas masyarakat.

Sementara terkait rumah-rumah lama yang dibongkar tersebut, KAI mengakui memang terdapat 13 rumah dinas yang berada di kawasan pengembangan. 

Bangunan-bangunan itu disebut bukan cagar budaya maupun bangunan yang terdaftar sebagai warisan budaya, sehingga pihak PT KAI berani melakukan pembongkaran. 

Dari 13 bangunan tersebut, sebanyak 11 rumah disebut telah dibongkar sementara 2 lainnya dipertahankan berdasarkan rekomendasi Pemerintah Kota Yogyakarta.

Bangunan Bersejarah Tidak Terdaftar Warisan Budaya? 

Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa  bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan perkembangan stasiun tertua di Yogyakarta, justru tidak terdaftar sebagai warisan budaya? 

Ironisnya, hal itu terjadi di jantung Yogyakarta yang disebut sebagai kota sejarah dan kota budaya yang istimewa? ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar