Mabur.co – Dalam setiap pembuatan karya sastra seperti antologi cerpen maupun puisi, seseorang biasanya akan mengacu pada sesuatu yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari, atau pengalaman tertentu yang pernah dialami, dan seterusnya.
Namun bagi Irfanda Azka Muzaki, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2024, ia tidak ingin berpikiran “mainstream” dengan menirukan seniman-seniman lainnya dalam hal inspirasi menghasilkan karya sastra.
Baginya, sesuatu yang “absurd” seperti sosok sastrawan bernama Danarto, adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh Azis, panggilan akrabnya, untuk menghasilkan karya antologi cerpen yang tidak biasa, alias berbeda dengan kebanyakan seniman lainnya di luar sana.
Ia pun resmi me-launching buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, yang merujuk pada penokohan dari benda-benda mati seperti matahari, rembulan, bintang, dan sebagainya, yang menjadi representasi dari absuditas ala Danarto tadi.
“Saya orangnya suka baca-baca tipikal seperti itu (penokohan yang bukan manusia). Salah satunya dari sastrawan bernama Danarto. Jadi dari sosok seperti Danarto ini, sisi absurditasnya sangat-sangat kental. Dan karena dia aneh, maka saya pikir ini sangat menarik, karena dia mampu membuat suatu karya yang berbeda dari yang lain, Cara pembahasaannya itu sederhana, tapi kok bisa dimelencengkan ke sana ke mari, seperti itu,” tutur Azis, dalam sesi diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, dalam rangkaian Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.
Mengagumi Sosok Danarto
Kekaguman Azis terhadap Danarto pun terindikasi dari caranya dalam mendeskripsikan suatu persitiwa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sebuah cerita (cerpen) yang menarik dan mudah dimengerti oleh banyak orang, termasuk Azis sendiri.
“Salah satu karya Danarto itu kan ada yang menggambarkan kadal minyak dan gedebok pisang, kok bisa gitu lho? Padahal aku sendiri juga cukup dekat dengan keduanya. Tapi kok dia (Danarto) bisa menuliskan karya sastra dengan tokoh berupa benda seperti itu? Aku tuh kurang apa sebenarnya, gitu loh? Jadi aku mencoba menggali lebih dalam, gimana sih caranya untuk bisa membuat (karya sastra) seperti ini (yang dilakukan Danarto), dan seterusnya,” tambah Azis.
Selain diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 kali ini juga menghadirkan diskusi buku lainnya yakni antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”, serta beberapa penampilan sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama.
Sebut saja Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, lalu penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (*)
