Aksara Jawa, Rekam Perjalanan Kebudayaan dan Identitas Masyarakat

6 Min Read
Front view of a vintage manual typewriter with cream circular keys and visible typebars, showing the keyboard and rusted metal frame.
Sejarah aksara dan bahasa tidak semata-mata berisi urutan tahun dan perubahan bentuk, tetapi juga merekam perjalanan kebudayaan dan identitas masyarakat. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Sejak masa Hindu-Buddha, tradisi tulis berkembang pesat di Nusantara. Dengan diperkenalkannya aksara, masyarakat mulai mencatat dan menyimpan beragam informasi dalam bentuk tulisan.

Tradisi tulis ini tercermin dari sekitar seribu naskah yang tercipta pada masa itu dengan berbagai genre kesusastraan, seperti tutur (kitab keagamaan), castra (kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan), serta kitab-kitab lainnya yang mengandung ajaran moral, sejarah, dan keagamaan.

Salah satu aksara yang menonjol dari masa tersebut adalah aksara Jawa, yang juga dikenal dengan nama Hanacaraka, Carakan, atau Dentawyanjana.

Aksara Jawa merupakan turunan dari aksara Brahmi yang berasal dari India, yang kemudian berkembang menjadi aksara Pallawa di Asia Selatan dan Tenggara antara abad ke-6 hingga abad ke-8.

Aksara Pallawa lalu mengalami adaptasi lokal dan berubah menjadi aksara Kawi pada periode Hindu-Buddha di Indonesia sekitar abad ke-8 hingga ke-15. Aksara Kawi inilah yang menjadi cikal bakal aksara Jawa.

Perjalanan Manusia Menjaga Ingatan

Dari guratan pada prasasti hingga aksara yang kini dapat hadir di layar telepon genggam, perjalanan bahasa dan tulisan adalah perjalanan manusia menjaga ingatan.

Aksara Jawa dan bahasa Indonesia menunjukkan bahwa warisan kebahasaan tidak berhenti pada masa lalu. Keduanya terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat dan zaman.

Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM, Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum, mengatakan bahwa sejarah aksara dan bahasa tidak semata-mata berisi urutan tahun dan perubahan bentuk, tetapi juga merekam perjalanan kebudayaan dan identitas masyarakat.

“Aksara dan bahasa adalah jejak peradaban. Melalui keduanya, kita dapat membaca bagaimana masyarakat menyimpan pengetahuan, membangun identitas, dan berkomunikasi dari satu zaman ke zaman berikutnya,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).

Novi Siti Kussuji Indrastuti, mengatakan, aksara Jawa memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan tradisi tulis di Nusantara.

Secara genealogis, aksara Jawa termasuk dalam rumpun aksara Brahmi dari India. Perkembangannya di Nusantara berkaitan dengan aksara Pallawa, kemudian Kawi atau Jawa Kuno, hingga secara bertahap melahirkan bentuk aksara Jawa yang dikenal sekarang.

Prasasti dan Manuskrip

Jejak perjalanan tersebut dapat ditemukan pada prasasti dan manuskrip dengan media yang beragam, mulai dari batu dan logam, daun lontar, daluang, hingga kertas.

Aksara Jawa kemudian dikenal sebagai carakan atau hanacaraka. Rangkaian “ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-dha-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga” hidup pula dalam ingatan budaya melalui kisah Aji Saka serta dua abdinya, Dora dan Sembada.

“Kisah Aji Saka perlu dilihat sebagai bagian dari memori budaya, bukan penjelasan historis mengenai asal-usul aksara Jawa. Menariknya, masyarakat tidak hanya mewariskan aksara sebagai tulisan, tetapi juga memberinya cerita, makna, dan nilai,” jelasnya.

Novi Siti Kussuji Indrastuti, menjelaskan, kini huruf Latin memang mendominasi pendidikan, administrasi, media, dan komunikasi sehari-hari. Namun, hal itu tidak berarti aksara Jawa kehilangan ruang hidup.

Pelestarian berlangsung melalui pendidikan, penelitian manuskrip, komunitas budaya, ruang publik, hingga media digital. Masuknya aksara Jawa ke dalam standar Unicode juga memungkinkan aksara tersebut digunakan dalam perangkat digital yang mendukungnya.

“Dulu aksara Jawa hidup pada batu, lontar, daluang, dan kertas. Sekarang ia dapat hadir di layar gawai. Teknologi yang sering dianggap mengancam tradisi justru dapat menjadi ruang baru untuk merawatnya,” katanya.

Novi Siti Kussuji Indrastuti mengatakan, pelestarian tidak cukup apabila aksara Jawa hanya digunakan sebagai ornamen.

“Jangan sampai aksara Jawa hanya indah dipandang, tetapi tidak lagi dapat dibaca. Generasi muda perlu mengenal, membaca, menulis, sekaligus memahami kebudayaan yang berada di belakangnya,” ucapnya.

Novi Siti Kussuji Indrastuti mengatakan, perjalanan bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari bahasa Melayu yang telah lama menjadi bahasa penghubung di berbagai wilayah Nusantara.

Momentum penting terjadi pada 28 Oktober 1928, ketika bahasa Indonesia ditegaskan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda.

“Pilihan terhadap bahasa Indonesia merupakan keputusan kebudayaan sekaligus kebangsaan. Bahasa menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang berbeda suku, bahasa daerah, dan latar budaya dalam gagasan tentang Indonesia,” ungkapnya.

Novi Siti Kussuji Indrastuti menjelaskan, setelah kemerdekaan, kedudukan bahasa Indonesia semakin kuat. Pasal 36 UUD 1945 menetapkannya sebagai bahasa negara.

Bahasa Indonesia kemudian berkembang dalam pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, sastra, media, dan komunikasi nasional.

Perubahan Ejaan

Perjalanan bahasa Indonesia juga ditandai perubahan ejaan. Ejaan van Ophuijsen menggunakan bentuk seperti “oe”.

Setelah kemerdekaan muncul Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi pada 1947, antara lain mengubah “oe” menjadi “u”. Pada 1972, Ejaan yang Disempurnakan (EYD) membawa perubahan seperti “tj” menjadi “c”, “dj” menjadi “j”, dan “nj” menjadi “ny”.

Pedoman ejaan terus dimutakhirkan. Pada 2015 digunakan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sedangkan pemutakhiran berikutnya kembali menggunakan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

“Bahasa yang hidup pasti bergerak. Perubahan ejaan bukan berarti bahasa Indonesia kehilangan aturan. Justru menunjukkan bahwa bahasa terus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi,” tuturnya.

Novi Siti Kussuji Indrastuti mengatakan, di tengah perkembangan media sosial, istilah asing, dan komunikasi digital, Novi menilai tradisi dan modernitas tidak perlu dipertentangkan.

“Aksara Jawa dapat menemukan kehidupan baru di ruang digital, sementara bahasa Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan kedudukannya sebagai bahasa persatuan. Tugas kita bukan hanya mewarisinya, tetapi membuat keduanya tetap digunakan, dipahami, dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar