Mabur.co – Setiap tanggal 8 September, masyarakat global memperingati Hari Aksara Internasional. Peringatan ini kerap hadir dengan berbagai kegiatan membaca, menulis, seminar, maupun kampanye literasi.
Namun, di balik semua peringatan tersebut ada pertanyaan yang mungkin cukup penting untuk kita pertanyakan. Apakah setelah peringatan itu selesai, budaya literasi yang diharapkan benar-benar tumbuh dalam kehidupan masyarakat?
Pertanyaan tersebut penting karena persoalan aksara dan literasi hari ini bukan lagi perkara sederhana menyangkut kemampuan seseorang membaca dan menulis.
Tantangan Informasi Digital
Tantangan informasi digital saat ini, membawa masyarakat berhadapan dengan derasnya arus informasi yang jauh lebih kompleks: banjir informasi, berita palsu, judul provokatif, manipulasi informasi, hingga rendahnya kemampuan memahami bacaan secara kritis.
Literasi digital telah merambah hampir seluruh pelosok dunia tanpa batasan ruang, tempat dan waktu, masyarakat mungkin semakin mudah membaca, tetapi belum tentu semakin mampu memahami.
Pepatah atau slogan klasik yang melekat dalam dunia literasi dan pendidikan Indonesia sejak lama mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia. Kemampuan membaca merupakan pintu masuk menuju ilmu pengetahuan.
Namun, sekarang ini berhenti pada kemampuan membaca saja tidak lagi cukup. Seseorang harus memahami apa yang dibacanya, memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai sudut pandang, dan mengambil kesimpulan secara rasional.
Di tengah derasnya arus informasi yang telah mengglobal peran literasi menjadi sangat penting. Kini kita tidak lagi cukup hanya mendorong masyarakat agar gemar membaca. Kita juga harus membangun budaya dan kebiasaan membaca secara kritis.
Literasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Hari Aksara Internasional ditetapkan UNESCO pada 1966. Momentum tersebut terus digunakan untuk mengingatkan pentingnya literasi sebagai bagian dari pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Tema global tahun ini, “Literacy for People, the Planet and Prosperity”. Tema tersebut memperluas makna literasi dari sekadar kemampuan individual menuju kemampuan membangun kehidupan bersama.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengatakan, saat ini makna literasi kini semakin luas.
Literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi memahami informasi secara kritis. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) menuntut kemampuan literasi yang lebih komprehensif.
Untuk itu, masyarakat perlu berpikir reflektif dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.
Literasi untuk Kesejahteraan Bersama
“Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia dan memahami realitas. Realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik,” ujar Mu’ti dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, dilansir laman Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Mu’ti mengatakan, keberhasilan literasi bukan berdasarkan kemeriahan peringatan. Ia mengatakan, ukurannya adalah perubahan kehidupan masyarakat setelah mendapatkan penguatan literasi.
Konsep Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera harus menjadi gerakan bersama. Gerakan tersebut diharapkan membentuk sumber daya manusia Indonesia yang lebih berdaya menghadapi dinamika zaman.
“Literasi untuk Semesta, Sesama, dan Sejahtera, bukan sekadar tema. Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita,” ujarnya.
