Mabur.co- Gelaran yang paling dinanti oleh para pencinta buku, pemburu ilmu, pemburu diskon, hingga masyarakat yang ingin sekadar healing santai sambil berdiskusi seru kembali menyapa publik.
Festival Literasi Jogja 2026 secara resmi dilaksanakan selama lima hari berturut-turut, mulai tanggal 9 sampai dengan 13 Juli 2026 di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.
Literasi Tak Kaku
Mengusung jargon bahwa Literasi Tidak Selamanya Harus Kaku dan Serius, festival tahun ini dirancang sebagai ruang komunal yang seru, inklusif, dan ramah untuk semua kalangan.
Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif menuturkan, Festival Literasi Jogja 2026 tidak hanya menjadi ajang meningkatkan minat baca masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi industri perbukuan.
“Saya optimistis cukup tinggi jumlah pengunjung yang diperkirakan mencapai sedikitnya 15 ribu orang selama festival berlangsung. Pada pameran buku sebelumnya, jumlah pengunjung rata-rata mencapai 3.000 hingga 5.000 orang setiap hari. Kami tentu berharap hasilnya lebih baik dari tahun lalu, bukan justru lebih sedikit,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).

Wawan mengatakan pula, besarnya potensi transaksi didukung oleh berbagai program promosi yang disiapkan para penerbit.
Ragam Diskon
Beragam potongan harga ditawarkan sehingga mendorong pengunjung membeli buku dalam jumlah lebih banyak.
“Tidak sedikit pengunjung yang akhirnya memborong buku karena ada promo dan diskon besar. Itu memang menjadi salah satu strategi agar pameran semakin ramai,” katanya.
Wawan mengatakan lagi, Festival Literasi Jogja tahun ini diikuti 120 penerbit yang telah melalui proses seleksi.
“Selain penerbit dari Yogyakarta, sejumlah penerbit nasional juga turut ambil bagian untuk menghadirkan pilihan bacaan yang lebih beragam,” ucapnya
Wawan menjelaskan, selain bazar buku, festival turut diramaikan dengan bedah buku, workshop literasi, serta pertunjukan seni.
“Kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah DIY dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sebagai upaya memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan industri perbukuan,” katanya.
Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY, Yusuf Effendi mengatakan, keterbatasan durasi menjadi tantangan utama.
“Banyak komunitas dan penerbit yang ingin menggelar bedah buku maupun diskusi, namun tidak seluruhnya dapat diakomodasi ke dalam jadwal acara,” katanya.
Yusuf menjelaskan pula, perubahan lokasi dilakukan agar kegiatan lebih mudah terlihat masyarakat sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi pengunjung.
Akses Mudah
“Di depan aksesnya lebih mudah, dari jalan juga langsung kelihatan. Lalu tempatnya lebih luas, jadi penataan panggung, stan, dan sirkulasi menjadi lebih nyaman. Ini juga kampanye literasi agar lebih menarik perhatian masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, tingginya antusiasme juga dirasakan para pengunjung.

Farid Kurniawan, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengaku kembali datang setelah mengunjungi festival yang sama tahun lalu.
“Ini tahun kedua saya datang karena dekat juga dari tempat saya. Saya senang ke sini, selain banyak buku juga banyak kegiatan, dan banyak diskonnya,” ujarnya.

