Mabur.co – Yogyakarta sudah terlalu lama diceritakan orang lain. Sekarang giliran Yogyakarta menulis dunia dan dirinya sendiri.
Pengumuman ini bukan undangan festival biasa. Ini pengakuan: bahwa Yogyakarta adalah kota yang tidak pernah kehabisan gagasan, tapi sering kehabisan panggung untuk menulis dirinya sendiri.
Adalah Mahasabha Purbakala yang menggagas ivent ini, sekaligus akan menjadi bagian dari Festival Purbakala itu sendiri yang di dalamnya juga akan mengusung “Nyadran Akbar” untuk para pejuang.
Serta pengusulan Hari Purbakala Nasional ke Kemenkebud untuk diteruskan penetapannya kepada Presiden.
Menuju Malioboro Writers Festival 2027, Mahasabha akan mengusung tema: “Menulis Yogyakarta, Membaca Indonesia” tulis rilis Mahasabha, diterima mabur.co, Sabtu (24/10/2026) sore.
Mengapa Malioboro? Mengapa Harus 2027?
Dunia mengenal Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 yang digelar pada 21–25 Oktober 2026 di Taman Baca dan venues across Ubud, tulis Bali Travel Hub.
UWRF sudah 23 tahun, menjadi festival sastra terbesar di Asia Tenggara, kini bertema Samarasā: Awareness, Empathy, Action.
Indonesia juga bangga punya Borobudur Writers & Cultural Festival dengan beberapa kali perhelatan. Keduanya hebat.

Lalu Yogya? Yogya tidak harus seperti Ubud Writers. Yogya tidak perlu menyalin Borobudur Writers. Yogya punya sumbu sendiri. Lihat apa yang kita punya: Malioboro. Jalan yang menyimpan lapisan sejarah, denyut ekonomi rakyat, dan ingatan kolektif lintas zaman.
Sejarahnya panjang. Pendapat lainnya menyatakan, nama Malioboro berasal dari kata Marlborough, tapi pendapat ini disanggah.
Jalan raya ini telah dibangun untuk tujuan seremonial selama lima puluh tahun sebelum Inggris mendirikan pemerintahan di Jawa, tulis sejarawan Peter Carey, dikutip balinesia.id.
Dalam makna Jawa, Malioboro adalah malyabhara, berhiaskan untaian bunga. Konon ketika keraton punya hajat, jalan penuh bunga.
Ada juga yang memaknai mali menjadi wali, oboro mengembara, perjalanan menjadi wali yang mengembara, versi balinesia.id, dikutip mabur.co, Sabtu (24/10/2026).
Sangkan dan Paran
Secara kosmologi, kawasan Malioboro yang terdiri dari dua nama jalan utama yakni Margo Mulyo dan Margo Utomo, adalah bagian dari konsep Sangkan Paraning Dumadi, perjalanan manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Panggung Krapyak-Keraton-Tugu. Sangkan dan Paran. Demikian tulis rilis Mahasabha selanjutnya.
Itu sebabnya, Malioboro Writers memilih Malioboro: bukan sebagai latar wisata, tapi sebagai naskah. Bayangkan Malioboro pada Oktober 2027.
Pejamkan mata. Jalan 2 kilometer dari Stasiun Tugu sampai Gedung Agung itu berubah menjadi ruang percakapan terbuka: Pukul 08.00, anak-anak SD Kotagede membaca babad di depan Benteng Vredeburg.
Pukul 10.00, para penyair membacakan puisi, dan jalanan ikut bergetar. Pukul 13.00, arkeolog membuka kotak temuan Selokan Mataram di emperan toko.
Pukul 16.00, pedagang gudeg, tukang becak, dan mahasiswa ISI adu cerita tentang Yogya yang berubah. Pukul 20.00, layar tancap memutar film karya santri Tebuireng yang juara SANFFEST Kementerian Kebudayaan. (Bersambung).
