Warga Kepanjen, Trimulyo, Sleman, serasa memperoleh pemahaman baru terkait tradisi yang mereka percayai.
Dosen UIN Sunan Kalijaga, Moh Yaser Arafat MA, mengkaji secara mendalam melalui tausiyah ruwahan dengan menjelaskan makna ruwahan dalam konteks relasi Islam dan Jawa, Minggu (8/2/2026) pagi.
“Tradisi ruwahan yang berkembang di tanah Jawa bukanlah peninggalan Hindu sebagaimana dikatakan banyak orang. Tradisi itu telah ada sejak Nabi Adam saat Habil dan Qabil memberikan sedekah sebagai tanda cinta kepada Allah. Keduanya memberi sedekah berupa ternak dan hasil pertanian. Allah menerima sedekah Habil dari kambing terbaik dan menolak Qabil yang memberikan hasil panen seadanya,” tandas peneliti nisan makam ini.
Maka dengan gunungan hasil bumi dan buah-buahan dengan ingkung terbaik ini, lanjutnya, warga Kepanjen sesungguhnya meneladani jejak kisah kenabian Adam AS.
“Itu tercatat dalam Alquran surat Al Maidah ayat 27. Mari mengaji dan mengkaji agar semakin luas pemahaman kita terkait amalan Islam. Dan banyak tradisi Jawa yang merujuk pada sunah para nabi,” jelasnya.
Sebelumnya, Panewu Sleman, Drs Rasyid Ratnadi Sosiawan, MSi, menyampaikan ruwahan adalah momen penting dalam hidup dan kebudayaan Jawa.
Selain bisa mengakrabkan persaudaraan, jug mengingatkan sejarah para leluhur. Maka penting untuk terus menumbuh-kembangkan tradisi ruwahan.
Ruwahan Ageng Kiai Panji di Kepanjen, Trimulyo, Sleman, merupakan tradisi tahunan yang digelar di kompleks makam Kiai Panji di Padukuhan Kepanjen.
Ruwahan ditandai prosesi kirab budaya dengan membawa gunungan, dipimpin R Bambang Nursinggih (LKJ Sekar Pangawikan).
Sedangkan Lurah Trimulyo, Cholik Harmoko STP NLP, menyampaikan kegembiraannya atas pelaksanaan Ruwahan Ageng Kiai Panji.
“Keguyuban warga Kepanjen dalam menggelar acara adat tradisi ruwahan patut diapresiasi karena dengan begitu generasi penerus bisa paham sejarah leluhurnya,” ungkapnya.
Kepada mabur.co budayawan Sleman yang membaca kidung memule Kiai Panji sepanjang prosesi, memuji kohesi sosial warga Kapanjen.
“Ada kesadaran budaya yang melatari hidupnya tradisi. Mereka total dan terorganisir dalam menggelar tradisi ruwahan. Itu modal penting dan langka dalam menggerakkan pembangunan dengan pendekatan kebudayaan,” jelasnya.
Acara diakhiri dengan rebutan gunungan oleh warga Kepanjen dan para penonton di halaman rumah Ketua RW Kepanjen, Aditya Dwi Nugroho.
Hadir dalam Ruwahan Ageng Kiai Panji antara lain Panewu Anom Sleman, Ari Triyono ST MSi, Panewu Anom Berbah Noor Brahmantyo SE, jajaran Dinas Kebudayaan Sleman, Dukuh Karang Kepanjen, Erna Nurohmi, dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga serta Babinsa dan Babinkamtibmas Trimulyo. ***



