Mabur.co – Makam Raja-raja Mataram Islam yang berusia ratusan tahun selama ini dikenal masyarakat sebagai tempat yang wingit atau angker.
Terletak di kawasan perbukitan yang jauh dari permukiman, makam raja-raja selama ini dikenal sepi dan sangat jarang dikunjungi.
Jangankan untuk diam berlama-lama, sekadar berkunjung sebentar saja, tak sedikit orang yang mau, biasanya takut, dan merasa ngeri dengan aura yang dimiliki.
Namun bagaimana bila ada seseorang yang sehari-harinya justru tinggal di tempat tersebut? Bahkan tidur di salah satu cungkup (rumah kecil pelindung makam) bersanding dengan salah satu nisan dan lubang pusara?
Itulah yang dilakukan Bayu Kusumo (52), seorang penjaga kompleks pemakaman Raja-raja Pakualaman di Astana Girigondo, Kulon Progo.
Sejak Dua Tahun Terakhir
Sudah sejak 2 tahun terakhir, Bayu tinggal dan menetap di kompleks pemakaman berusia ratusan tahun itu. Ia bertugas sebagai tukang bersih-bersih sekaligus penyambut para peziarah.
Uniknya, Bayu melakukan pekerjaan itu atas kesadaran dan kemauannya sendiri. Ia juga bukan merupakan Abdi Dalem resmi Kadipaten Pakualaman. Sehingga ia tak menerima gaji atau upah sedikit pun.
Ditemui Mabur.co Sabtu (13/6/2026), Bayu menceritakan bagaimana ia bisa terpanggil untuk menjadi penjaga makam sukarela di pemakaman Astana Girigondo tersebut.
“Terus terang awalnya saya tak punya niat untuk mengabdi dan tinggal di sini. Ya hanya sekadar menjalani hidup saja. Tidak tahunya sampai di sini,” ujarnya.
Bayu mengaku, menjalani pekerjaannya sebagai penjaga makam secara suka rela, atas dasar panggilan hati sanubari, serta wasiat dari para leluhurnya.
Kebetulan ia memang lahir dari keluarga yang kental dengan budaya Jawa. Kakeknya merupakan seorang pegiat kesenian budaya Jawa yakni pewayangan yang ada di tengah Kota Yogyakarta.
“Dulu awalnya saya datang untuk bekerja sebagai pekerja proyek pembangunan Bandara YIA. Karena lokasinya ada di Kulon Progo, saya menyempatkan datang ke makam ini, yang merupakan pepunden tanah Adikarto. Ya sekadar untuk minta izin,” katanya.

Meski tak langsung tinggal di kompleks makam, sejak saat itu ia mengaku sering berziarah ke Makam Astana Girigondo ini. Hingga ia bertemu pujaan hatinya dan menikah dengan wanita asal Kulon Progo.
Sayang, perjalanan hidupnya berubah saat istrinya meninggal sekitar 2-3 tahun lalu. Sejak saat itulah ia memutuskan untuk melepaskan urusan dunia dan memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.
Penjaga Makam Astana Girigondo Secara Suka Rela
Sejak saat itu, Bayu memilih mengabdikan dirinya sebagai penjaga makam Astana Girigondo secara suka rela. Ia tinggal dan menetap di kompleks pemakaman tersebut seorang diri tanpa ditemani siapa pun.
Ia bahkan tidur menempati salah satu cungkup tempat persemayaman seorang tokoh bermana Destrik Wonodirjo. Ia merupakan warga setempat yang ditugaskan KGPAA Paku Alam V membangun kompleks pemakaman Raja-raja Pakualaman tersebut sekitar tahun 1990-an.
“Warga sekitar sini kebanyakan takut untuk datang ke tempat ini saat malam hari. Kalau saya ya biasa saja. Karena saya juga tidak punya tujuan apa-apa. Hanya ingin mengabdi, sesuai wasiat simbah saya untuk ikut nyengkuyung pepunden sebisa mungkin,” katanya.
Berkat keberadaan Bayu, kompleks makam tersebut setiap hari nampak selalu bersih dan tertata. Pasalnya ia selalu ikut membantu tugas para Abdi Dalem Keraton Pakualaman membersihkan tempat tersebut.
“Sebenarnya di sini sudah ada Abdi Dalem yang bertugas untuk membersihkan makam. Namun karena mereka tidak tinggal di kompleks ini, ya saya yang tinggal di sini ikut bantu-bantu saja,” katanya.
Selain merasa senang bisa membantu membersihkan dan menjaga kompleks makam, Bayu juga mengaku bisa mendapatkan ketenangan batin saat tinggal di tempat ini. Ia bisa mengolah spiritualitasnya dengan baik.
Meski tak mendapat gaji atau upah, Bayu ternyata tetap mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Penghasilan utamanya ia dapatkan dari hasil menyewakan rumahnya di Yogya sebagai kontrakan.
“Disampimg itu, kalau ada peziarah yang datang, kadang saya juga dikasih uang rokok karena sudah membantu membersihkan pusara. Ya dari situlah saya bisa beli makan sehari-hari,” katanya.
Bayu mengaku, tak tahu akan sampai kapan ia akan tinggal dan menetap di kompleks pemakaman tersebut.
Ia mengaku akan berusaha tetap ikut mengabdi di tempat tersebut selama tenaganya masih dibutuhkan.

