Mabur.co- Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, peran tertentu mengemban tanggung jawab besar. Misalnya peran sebagai juru kunci makam, masih tetap lestari hingga kini.
Salah satunya ialah juru kunci makam Di Wotgaleh, Noyokarten, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Sosok Mas Bekel Surakso Slamet yang lebih akrab disapa Mbah Surakso Slamet, kelahiran 1956, telah didapuk atau mendapatkan kepercayaan sebagai juru kunci situs makam Panembahan Purboyo I, putra Panembahan Senopati dari Mataram Islam.
Magang Sejak 2008
Mas Bekel Surakso Slamet mengatakan, sebelum menjadi Abdi Dalem Juru Kunci, ia magang di makam Panembahan Purboyo I tahun 2008.
Setelah magang selama 5 tahun, baru diangkat jadi Abdi Dalem tahun 2013, usai mendapat kekancingan (surat keputusan resmi dari Keraton Yogyakarta).
Selama 6 tahun mengabdi di Panembahan Purboyo I, belum dapat paring dalem (sesuatu yang diberikan atau dianugerahkan oleh Sultan dari Keraton Yogyakarta).
“Tapi kalau kita menerima kekancingan dari keraton, kita dikasih setiap bulan Rp10.000 dari Keraton Yogyakarta dan ada tambahan dari danais. Suka duka dari seorang juru kunci, tidak ada dukanya. Adanya senang karena banyak dapat teman, saudara, kenalan.
Jadi seorang juru kunci makam tugasnya melayani peziarah yang akan masuk ke makam Panembahan Purboyo I. Walaupun saya repot ya saya mengutamakan tamu yang datang ke sini,” katanya, Sabtu (13/6/2026).
Tak Pernah Alami Hal Aneh
Mas Bekel Surakso Slamet mengatakan pula, selama menjaga tidak pernah mengalami hal-hal yang aneh dan menakutkan. Tetapi orang yang berziarah, banyak yang pernah melihat dan menemui Panembahan Purboyo I.
“Rasa takut itu datang dari hati sendiri, Jadi saya meskipun menjaga di sini selama 24 jam, saya tidak pernah takut. Karena saya sejak kecil dari tahun 1976, sudah terbiasa masuk dan tidur di kuburan. Saya memiliki pedoman, besok saat saya meninggal, saya juga dimakamkan di kuburan,” katanya. ***

