Hidangan Favorit Sultan HB IX Disajikan dalam Tradisi Khaul Surud Dalem Keraton Yogyakarta 

4 Min Read
Framed ceremonial portrait on an easel with a flower garland, in a dimly lit ritual setting with offerings in the foreground.
Tradisi upacara Khaul Surud Dalem HB IX yang digelar Keraton Yogyakarta. (Foto: IG @KeratonJogja)

Mabur.co – Keraton Yogyakarta memiliki tradisi khusus untuk mengenang wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. 

Belum lama ini tepatnya pada Kamis (6/8/2026) atau Kamis Kliwon, 21 Sapar Be 1960 dalam penanggalan Jawa, Keraton Yogyakarta melaksanakan upacara adat tradisi Khaul Surud Dalem.

Upacara ini digelar untuk mengenang hari wafat  sekaligus mendoakan arwah almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Berlangsung di Kagungan Dalem Tratag Gedhong Prabayeksa, upacara adat ini dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dikutip dari akun resmi Keraton Yogyakarta, Sabtu (15/8/2026), tradisi ini dihadiri sejumlah keluarga dan kerabat keraton, di antaranya Putra dan Putri Sultan, Mantu Dalem, Wayah Dalem, Sentana Dalem serta perwakilan Abdi Dalem Tepas dan Kawedanan.

Peringatan Wafat Seorang Raja

Khaul Surud Dalem sendiri merupakan tradisi Keraton Yogyakarta untuk memperingati wafat atau surud seorang Sultan. Istilah surud dalam tradisi keraton merujuk pada wafatnya seorang raja.

Sementara khaul menjadi momentum untuk mendoakan almarhum sekaligus mengenang jasa, keteladanan dan perjalanan hidup seorang Sultan. Rangkaian biasanya diisi dengan doa, zikir, dan tahlil.

Dalam Khaul Surud Dalem HB IX kali ini, prosesi pembacaan doa dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji yang merupakan Abdi Dalem yang mengurusi bidang keagamaan.

Selain mendoakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, doa juga dipanjatkan untuk keselamatan Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarga dan seluruh Abdi Dalem.

Hidangan Kegemaran Sultan

Setelah doa bersama, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembagian Kersanan Dalem, yaitu hidangan yang dikaitkan dengan kesukaan atau kegemaran Sultan yang sedang diperingati.

Pembagian Kersanan Dalem ini menjadi prosesi yang menarik perhatian karena menghadirkan makanan yang mengingatkan pada keseharian sang Sultan.

HB IX dikenal memiliki selera makanan yang sederhana. Beberapa hidangan yang kerap dikaitkan dengan kesukaan beliau antara lain seperti tempe, tahu, sayur lodeh, pecel maupun makanan berbahan ikan.

Hidangan tersebut menggambarkan salah satu sisi kehidupan HB IX yang dikenal sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dalam tradisi keraton, makanan kesukaan Sultan ini menjadi bagian dari cara keluarga dan Abdi Dalem mengenang sosok Sultan yang telah wafat.

Setelah pembagian hidangan, rangkaian penghormatan kemudian dilanjutkan dengan ziarah Utusan Dalem ke Kedhaton Saptarengga, Pajimatan Imogiri, tempat para raja Mataram dan Yogyakarta dimakamkan.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX sendiri merupakan Raja Kesultanan Yogyakarta yang bertakhta pada 1940-1988. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan Yogyakarta sekaligus Republik Indonesia.

Ketika Indonesia merdeka, HB IX menyatakan dukungan Yogyakarta untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Sikap tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan eksistensi Republik pada masa awal kemerdekaan.

HB IX bahkan juga dipercaya sebagai Menteri Pertahanan hingga Wakil Presiden RI ke-2 pada 1973-1978.

Di luar pemerintahan, HB IX juga memiliki peran besar dalam perkembangan kepanduan di Indonesia. Ia turut mendorong penyatuan berbagai organisasi kepanduan hingga lahirnya Gerakan Pramuka pada 1961. Atas jasanya tersebut, HB IX juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Lewat tradisi Khaul Surud Dalem ini Keraton Yogyakarta pun berupaya menjaga ingatan terhadap sosok HB IX dengan meneladani perilaku dan sikap Sultan tidak hanya oleh keluarga keraton maupun Abdi Dalem namun juga masyarakat Yogyakarta secara luas.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar