Mabur.co – Pocong, kuyang, hingga kisah-kisah mistis khas Nusantara yang selama ini mendominasi dunia perfilman nasional, akan naik kelas dengan dibawa ke panggung dunia.
Hal itu dilakukan lewat penyelenggaraan Indonesian Horror Film Festival Melbourne (IHFFM) 2026 yang digelar 3 Oktober 2026 mendatang di Capitol, Melbourne, Australia.
Tak hanya sekadar menghadirkan film horor, festival ini juga memperkenalkan budaya dan mitologi Indonesia sekaligus membuka jalan bagi film nasional ke pasar internasional.
Sejumlah film horor Indonesia rencananya akan diputar dalam festival ini, di antaranya Malam 3 Yasinan, Kuyang, The Raid, Sukma, hingga Ritual Gaib.
Pembeda dengan Film Horor Negara Lain
Film-film itu dipilih karena membawa unsur budaya lokal yang menjadi pembeda dengan film horor dari negara lain.
Dilansir Antara, Jumat (18/9/2026), Event Director IHFFM sekaligus Board of Advisor IDN Global, Sulistyawan Wibisono, mengatakan festival sengaja menampilkan horor yang memiliki keterkaitan kuat dengan budaya Indonesia.
“Film horor yang benar-benar mengangkat budaya lokal Indonesia. Di Australia, hantu pocong, kuyang, itu enggak ada. Adanya memang di kita, ciri khas Indonesia, ya. Tema tematik itu yang lokal budaya Indonesia sengaja kita tampilkan di situ,” ujar Sulistyawan.
Bukan Sekadar Festival Film
IHFFM tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan film kepada penonton Australia. Festival ini juga dirancang sebagai pintu masuk untuk mempertemukan film Indonesia dengan pasar global.
Kurator sekaligus produser IHFFM, Intan Kieflie, mengatakan masih banyak masyarakat Australia yang mengenal film Indonesia tetapi kesulitan menemukan tempat untuk menontonnya.
Kondisi itu dinilai sebagai peluang untuk membangun permintaan terhadap film Indonesia secara langsung dari penonton.
“Kita bikin distributor pengen beli karena ada demand di situ. Itu adalah strategi yang sedang kita coba terapkan, bagaimana caranya film-film horor Indonesia itu bisa kita pasarkan di pasar global. Jadi ini akan jadi satu awal dari langkah-langkah selanjutnya, untuk film-film Indonesia agar bisa menembus pasar global,” ujar Intan.
Dengan membangun basis penonton di luar negeri, penyelenggara berharap ketertarikan tersebut dapat mendorong distributor internasional mengambil film-film Indonesia untuk dipasarkan lebih luas.
Festival ini diselenggarakan Perwira Inc atau Perkumpulan Warga Indonesia Victoria bersama Kraken Entertainment Australia. Pelaksanaannya mendapat dukungan dari FPCI, IDN Global, dan IDN-Preneur Network Global by IDN Global.
Yayan Ruhian hingga Baim Wong Turut Hadir
IHFFM 2026 juga menghadirkan sejumlah pemain film yang karyanya masuk dalam program festival. Nama-nama kondang seperti Yayan Ruhian, Baim Wong, Hamish Daud, hingga Shalom Razade rencananya dijadwalkan hadir.
Kehadiran para pemain tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan penonton Australia dengan pelaku industri film Indonesia secara langsung. Mereka juga akan membawa perspektif mengenai perkembangan film Indonesia, khususnya genre horor.
Melbourne sendiri dipilih karena dinilai memiliki ekosistem seni yang kuat. Kota tersebut menjadi salah satu pusat teater, seni pertunjukan, dan perfilman di Australia.
Selain itu, kedekatan geografis dengan Indonesia serta hubungan kultural menjadi pertimbangan penyelenggara.
Founder FPCI dan Indonesian Diaspora Network (IDN) Global, Dino Patti Djalal, mengatakan keterlibatan diaspora dapat menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan industri kreatif Indonesia di luar negeri.
“Dan ini suatu hal yang saya kira patut kita apresiasi karena diaspora secara independen mempunyai inisiatif untuk mempromosikan ekonomi kreatif Indonesia, khususnya film-film, dan khususnya lagi film horor kita. Dan kita harapkan lebih banyak lagi inisiatif dari diaspora untuk mempromosikan budaya dan film Indonesia,” kata Dino.
Melalui IHFFM, film horor Indonesia tidak hanya dibawa untuk ditonton di luar negeri, tetapi juga digunakan sebagai medium untuk mengenalkan cerita, mitologi, dan identitas budaya Indonesia kepada penonton internasional.
