Mabur.co – Kondisi sejumlah bagian Mahastupa atau stupa induk Candi Borobudur diketahui mengalami sejumlah kerusakan.
Berdasarkan hasil monitoring dan kajian teknis yang dilakukan, petugas menemukan adanya rongga serta rekahan pada bagian Yasti dan Harmika yang dapat mengganggu kekuatan struktur.
Selain persoalan struktur, sejumlah batu pada Mahastupa diketahui juga mengalami pelapukan. Penggaraman turut ditemukan pada bagian tertentu dan berkaitan dengan penggunaan semen saat pemugaran pertama Candi Borobudur pada 1907-1911.
Kondisi tersebut membuat pihak terkait harus melakukan upaya penanganan dan konservasi terhadap Mahastupa. Proses pekerjaan ini pun sudah dimulai pada 16 September lalu dan akan berlangsung hingga 24 Oktober 2026 mendatang.
Dilansir dari akun resmi instagram Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur @konservasiborobudur, Jumat (18/9/2026), proses pemugaran ini akan dilakukan secara terukur berdasarkan kajian tenaga ahli.
Pekerjaan meliputi penanganan struktur Yasti dan Harmika, konservasi batu, pemasangan perancah, serta pembongkaran dan pemasangan kembali komponen batu secara terbatas apabila diperlukan.
Penanganan tersebut bertujuan memperkuat dan menstabilkan bagian yang mengalami gangguan, menghambat kerusakan lebih lanjut, serta mempertahankan keaslian dan integritas Candi Borobudur.
Meski demikian, wisatawan tetap dapat mengunjungi Candi Borobudur. Pengelola hanya melakukan penyesuaian akses selama pekerjaan berlangsung.
Akses Pengunjung Dibatasi
Selama pekerjaan berlangsung, kunjungan reguler tetap dapat dilakukan. Wisatawan masih bisa naik hingga lantai 9 atau area teras.
Namun, halaman dan sebagian sisi utara candi menjadi zona kerja untuk pemasangan perancah, bongkar muat, dan konservasi batu.
Sementara untuk kunjungan sunrise dan sunset, akses pengunjung dibatasi pada jalur yang telah ditentukan di sisi timur, tenggara, selatan, barat daya, dan barat Candi Borobudur.
Pengunjung dilarang memasuki zona kerja. Wisatawan juga diminta tidak menyentuh peralatan, perancah, maupun batu yang sedang ditangani.
Pengelola mengingatkan ketentuan kunjungan dapat berubah mengikuti kondisi lapangan, rekomendasi tenaga ahli, dan keputusan pejabat yang berwenang.
Pembatasan akses tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan pengunjung sekaligus memastikan proses konservasi Mahastupa berjalan dengan aman.
