Lestarikan Tradisi, Patrap Senopati Gelar Haul ke-438 Kanjeng Panembahan Senopati

5 Min Read
Group of people in white traditional clothing seated on a patterned carpet inside a wooden hall, with a green banner, flags, and floral arrangements at a ceremonial event.
Paguyuban Trah Panembahan Senopati, Sabtu (11/7/2026), malam menggelar Haul ke-438 Kanjeng Panembahan Senopati di Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Patrap Senopati (Paguyuban Trah Panembahan Senopati), Sabtu (11/7/2026) malam, menggelar Haul ke-438 Kanjeng Panembahan  Senopati “Nguri-uri Kebudayaan, Ngelestarekake Pepadan Mbangun Jiwa Jawi” (Melestarikan Budaya, Menjaga Harmoni, dan Memupuk Jiwa Jawa), di Masjid Gedhe Mataram, Kotagede, Yogyakarta.

Sekretaris Jenderal Patrap Senopati, R. Bigar Rahasia Siswa, S.Pd., M.Pd.B.I. menjelaskan, acara Patrap Senopati dalam gelaran Haul ke-438 Kanjeng Panembahan  Senopati adalah acara rutin tahunan.

“Haul Kanjeng Panembahan Senopati untuk mengenang sejarah, meneladani sikap mulia Beliau Kanjeng Panembahan Senopati selaku Pendiri Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa. Terbukti mampu membangun harmonisasi antara ajaran Islam dengan adat orang Jawa. Tanpa menghilangkan adat budaya Jawa yang telah ada,” ujarnya.

Jaga Nama Baik Kanjeng Panembahan Senopati

Bigar juga menuturkan, Patrap Senopati selalu ingin menjaga nama baik keluhuran Kanjeng Panembahan Senopati. Menjadikan ikon utama teladan. Khususnya sebagai orang Jawa yang menjunjung tinggi adab sopan santun, tata krama, unggah-ungguh. Juga laku prihatin dalam meraih cita-cita mulia agar bisa mengatur sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada sehingga bisa mensejahterakan bagi masyarakat.

“Kanjeng Panembahan Senopati sebagai Khalifatullah Sayyidin Panatagama yang berarti kami sebagai tedhak turun atau keturunan Sinuhun Kanjeng Panembahan Senopati harus mampu menjadi khalifah atau pemimpin. Harus mampu membangun harmonisasi masyarakat atau rakyat secara luas agar bisa hidup guyub rukun dan bergotong royong. Membangun peradaban dalam keberagaman yang saling menghormati dan menghargai sesama,” katanya.

Group of men in white and traditional clothing seated on prayer mats inside a wooden pavilion with string lights overhead, likely a religious gathering at night.
Suasana Haul ke-438 Kanjeng Panembahan Senopati di Masjid Gedhe Mataram, Kotagede, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Bigar mengatakan, acara rutin ini juga diharapkan menjadi tanda agar orang Jawa jangan sampai lupa adat budaya Jawa.

“Kita bisa melihat di Kota Yogyakarta banyak yang jualan busana adat Jawa, penjual batik, penjual blangkon, jarik, itu semua mereka ingin melestarikan budaya Jawa, agar tidak melupakan budaya kita sendiri,” katanya.

Membeli Produk UMKM Karya Rakyat

Bigar menegaskan, cara melestarikan budaya Jawa bisa dengan membeli produk-produk UMKM atau hasil karya rakyat.

“Kalau kita berubah budaya juga bergeser. Mencintai budaya luar negeri, ya sudah hancur. Karena negeri ini akan hancur kalau kita tidak mencintai warisan budaya Nusantara yang kita cintai bersama,” katanya.

Bigar menjelaskan, dalam melestarikan budaya Jawa, baik dalam hal bahasa, adat, dan sopan santun, bisa menjadikan murah senyum, mudah menolong, kemudian bisa mengendalikan diri.

Di sini ada pemahaman mangasah mingis ing budi, artinya mengasah ketajaman batin atau kepekaan hati dengan sesama. Selain itu memasuh malaning bumi artinya membersihkan segala kotoran, kejahatan, dan malapetaka di bumi.

Contohnya, jangan menebang pohon secara ilegal. Apalagi tidak menanam kembali. Nanti terjadi kerusakan alam. Bisa terjadi banjir, longsor, dan bencana-bencana lainnya.

Atau ada kebodohan, banyaknya penjambretan, banyaknya kriminalitas, biasanya karena kemiskinan, karena pengangguran.

“Kita harapkan ke depan banyak Patrap Senopati nguri-uri budaya tapi juga ingin menciptakan amal usaha yang bisa dikelola oleh sesama tunggal trah. Untuk kebermanfaatan trah itu sendiri, untuk masyarakat misalnya membangun sekolah. Kepala sekolahnya masih trah. Guru-gurunya masih trah juga. Stafnya begitu pula trah. Kantin bisa juga masih trah. Jadi bagaimana memberdayakan trah Kanjeng Panembahan Senopati agar jangan sampai trah Sinuwun Kanjeng Panembahan Senopati menganggur, tidak bekerja, lontang-lantung. Ini menjadi perhatian bagi kita semua,” ungkapnya.

Mendirikan Sekolah dan Fasilitas Publik Lainnya

Bigar menuturkan, kalau organisasi keagamaan bisa memiliki sekolah, pondok pesantren, kemudian rumah sakit, kampus atau universitas. Patrap Senopati mestinya juga bisa, karena sudah merupakan keluarga besar, keturunannya sudah ada di mana-mana. Baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Harapan ke depan secara jangka panjang juga bisa mendirikan amal usaha yang dikelola bersama-sama. Asal mau guyub rukun, bersinergi, kolaborasi, menghindari perdebatan yang tidak perlu, welas asih dengan sesama saudara.

“Nanti dampaknya lebih luas lagi. Tidak hanya sekadar trah tapi masyarakat yang menikmati. Karena Yayasan Patrap Senopati adalah lembaga yang memiliki tiga hal utama. Yaitu kegiatan berbasis sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Tiga itu yang menjadi poin utama.

Jadi dalam hal sosial tadi bisa mendirikan sekolah. Baik formal, informal, atau nonformal. Kemudian bisa mendirikan rumah sakit, bisa mendirikan panti, dan lainnya. Itu semua adalah kegiatan sosial. Kalau kemanusiaan bisa mendirikan rumah singgah bencana dan lainnya juga,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar