Mabur.co – Aktivitas pelestarian budaya seperti sastra, seni tari, seni lukis, seni musik, dan seterusnya seringkali mengalami kendala ketika dilaksanakan di daerah-daerah pelosok, seperti kekurangan dana/donatur, peserta, hingga sarana dan prasarana yang memadai.
Untuk itulah, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (Disbud DIY) berinisiatif menyambangi berbagai komunitas budaya yang ada di daerah-daerah terpencil di seluruh DIY, untuk dapat memberikan pendampingan, sekaligus membantu mereka ketika menghadapi kesulitan, dan seterusnya.
Disbud DIY pun berkesempatan menyambangi kegiatan yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu, yang membahas tentang Relasi Kesehatan dengan Kreativitas Budaya, dengan menghadirkan budayawan Fajar Suharno sebagai narasumber.
Pelestarian Budaya
Kegiatan ini menjadi salah satu sarana yang tepat bagi Disbud DIY, untuk memantau secara langsung bagaimana komunitas di daerah menjalankan aktivitas pelestarian budaya di wilayahnya masing-masing, sekaligus memberi pendampingan apabila terjadi kendala tertentu di lapangan.
“Di sini kita mencoba mengkomunikasikan kepada teman-teman bahwa apapun kegiatan yang terkait dengan sastra (budaya), maka kami selalu hadir dan men-support mereka dengan semaksimal mungkin, dengan menyambangi kegiatan yang mereka jalankan di empat kabupaten satu kota di DIY,” ujar Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Disbud DIY, Setya Amrih Prasaja, saat ditemui usai mengikuti kegiatan Sambang Komunitas di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.
Dengan menyambangi langsung kegiatan komunitas di seluruh DIY, Setya berharap bahwa masyarakat bisa terus bersemangat melakukan kegiatan pelestarian budaya di tempatnya masing-masing, dan Disbud DIY juga selalu siap membantu jika menemui kendala yang tidak bisa ditangani sendiri oleh pihak komunitas.
“Paling tidak kita bisa mengetahui nih, komunitas mana yang aktif, mana yang belum aktif, dan ada kendala apa (sehingga mereka tidak aktif). Makanya nanti di tahun-tahun ke depan kita akan mencoba untuk menyelenggarakan kegiatan Temu Karya Sastra (TKS) lagi, karena untuk tahun ini (2026) kita selesai karena sudah lima tahun berjalan, dan kita perlu evaluasi lagi,” tambah Setya.
Selain menyambangi komunitas secara langsung, Disbud DIY juga berharap bahwa regenerasi budayawan muda juga terus tumbuh di daerah-daerah tersebut, sehingga tongkat estafet kebudayaan nusantara bisa dilanjutkan oleh anak-anak muda saat ini. (*)

