Mabur.co – Nglarak Blarak menjadi salah satu permainan tradisional yang masih terus dilestarikan di Kabupaten Kulon Progo hingga saat ini.
Permainan tradisional yang menyerupai karapan sapi, namun menggunakan blarak atau daun kelapa ini bahkan sudah diidentikkan sebagai permainan rakyat khas Kulon Progo.
Setiap beberapa bulan sekali, lomba Nglarak Blarak rutin digelar di berbagai desa di Kulon Progo dan selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat sekitar.
Setiap tahunnya Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kebudayaan, bahkan secara rutin juga menjadikan lomba Nglarak Blarak sebagai ajang perlombaan resmi antar-Karang Taruna se-Kulon Progo.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan penyelenggaraan berbagai ajang lomba itu dilakukan sebagai upaya melestarikan permainan tradisional Nglarak Blarak sebagai bagian kearifan lokal sekaligus warisan budaya masyarakat yang ada di Kulon Progo.
Sejarah Nglarak Blarak
Sejarah permainan tradisional Nglarak Blarak sendiri lahir dari kearifan lokal masyarakat di wilayah pedesaan Kulon Progo yang berprofesi sebagai penderes kelapa, dan banyak ditemukan di wilayah perbukitan Menoreh.
Secara etimologi, nama Nglarak Blarak sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Jawa. Yakni ‘Nglarak’ yang berarti ‘menyeret’ serta ‘Blarak’ yang berarti ‘daun kelapa’.
Sesuai namanya, permainan Nglarak Blarak dilakukan dengan menggunakan alat berupa blarak atau pelepah daun kelapa yang masih terdapat lidi, janur, dan pelepahnya.
Selain itu sejumlah barang alami lainnya seperti bumbung atau wadah nira serta sepet atau kulit buah kelapa juga turut digunakan dalam permainan ini.
Dalam permainan Nglarak Blarak terdapat dua tim yang akan saling berhadapan. Setiap tim masing-masing memiliki 3 anggota laki-laki dan 3 anggota perempuan.
Setiap tim ini akan dituntut untuk adu kecepatan dan ketangkasan dalam memperebutkan sebuah bumbung.

3 wanita bertugas mengambil bumbung secara estafet, mulai dari berjalan menggunakan sabut kelapa, melompat menggunakan wadah dari anyaman bambu, menempatkan bumbung dengan cara memukul memakai pelepah kelapa kering, hingga menaiki blarak yang ditarik 3 pemain pria untuk mengelilingi sebuah arena tanah lapang berbentuk segi empat.
Dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai tunggangan kereta, setiap blarak tersebut akan dinaiki dan ditarik olah para pemain dengan cara menyeretnya di atas permukaan tanah.
Keseruan biasanya terjadi saat kedua tim saling beradu cepat, hingga ada pemain yang tidak bisa menjaga keseimbangan dan harus terjatuh atau terjungjal ke tanah.
Meski hanya menggunakan perlengkapan sederhana, permainan tradisional ini membutuhkan koordinasi, kerjasama dan kekompakan antaranggota tim.
Setiap tim juga dituntut untuk memiliki ketahanan fisik yang bagus mulai dari kecepatan, keseimbangan, kekuatan serta kekompakan. Tanpa adanya sejumlah hal tersebut sebuah tim akan sulit menjadi pemenang.
Paling Sulit Menjaga Keseimbangan
Salah seorang pemain Nglarak Blarak, Dian Puspita asal Girimulyo, menyebut hal yang paling sulit dalam permainan ini adalah menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh saat menaiki blarak.
“Yang paling sulit jaga keseimbangan agar tidak jatuh. Karena hanya bisa pegangan tali pakai satu tangan. Sementara satu tangan untuk memegang pelepah kelapa. Jadi harus pegangan kuat,” katanya, Minggu (7/6/2026).
Meski berawal dari permainan masyarakat pelosok desa, Nglarak Blarak ternyata telah menorehkan prestasi di tingkat dunia. Pasalnya permainan tradisional ini pernah meraih Juara II dalam kompetisi nasional pada tahun 2014. Hingga meraih Juara I dalam ajang internasional TAFISA World Games tahun 2016 mewakili Indonesia.
Capaian ini pun menjadikan Nglarak Blarak sebagai warisan budaya lokal asal Kulon Progo yang mampu memukau masyarakat dunia.
Saat ini, Nglarak Blarak bahkan tidak hanya dipandang sebagai permainan tradisional, tetapi juga sebagai identitas budaya masyarakat Kulon Progo.
Dimana di tengah era modern saat ini permainan Nglarak Blarak menjadi media yang sangat pas sebagai sarana rekreasi, olahraga, hingga memperkuat rasa persatuan, dan mempererat hubungan sosial masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya daerah di Kulon Progo maupun Yogyakarta.

