Mabur.co- Pameran seni rupa “Gothak Gathuk Pethuk” karya Ansori Mozaik dan En Roel di Galeri Saptohoedojo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, resmi dibuka, Minggu (1/2/2026).
Peresmian ini dibuka langsung Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Ishadi Zayid, dengan memukul beduk. Dalam pembukaan pameran seni rupa “Gothak Gathuk Pethuk”, para seniman Yogyakarta berkumpul untuk menyaksikan.

Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo (PKSH), Wahjudi Djaja, mengatakan, Pekan Kebudayaan Saptohoedojo dilaksanakan dari tanggal 1-7 Februari 2026 di Galeri Saptohoedojo.
Tujuannya antara lain untuk menghidupkan pemikiran, karya, dan keteladanan Saptohoedojo agar menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa Indonesia.
“Visi PKSH adalah terwujudnya Pusat Kebudayaan Saptohoedojo sebagai Gerbang Timur Budaya Yogyakarta menuju pusat budaya yang berkepribadian,” jelasnya, saat memberikan sambutan pembukaan.
Wahjudi menuturkan, setelah pameran Pameran Seni Rupa “Gothak Gathuk Pethuk” karya Ansori Mozaik dan En Roel, pada bulan April, akan mengadakan pameran lukis.
Direncanakan bisa digelar pada 21 April, tepat hari Kartini. Berupa pameran lukisan tradisional dari Yogyakarta dan Solo.
”Saya meminta dukungan kepada para seniman. Kami akan berkolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman. Setelah lebaran, setiap bulan akan kita agendakan pameran lukisan di Galeri Saptohoedojo. Pada 17-22 April pula, akan digelar Pekan Pertemuan Seniman dengan tema karir.
Kita akan kolaborasi dengan seniman Yogyakarta dan Solo. Kolaborasi seniman Yogyakarta–Solo, jangan sampai dipisahkan oleh politik. Yogyakarta dan Solo, harus disatukan dengan kebudayaan, seni, dan tempat ini. Galeri Saptohoedojo akan mengawali. Komitmen kami adalah, akan meng-upgrade, akan merenovasi, agar Galeri Saptohoedojo layak sebagai tempat kebudayaan,” katanya.
Wahjudi juga menjelaskan, Galeri Saptohoedojo juga akan dijadikan tempat diseminasi dan inovasi pendidikan.
“Setiap Minggu, akan membuat sekolah lukis. Kita akan menggerakkan Galeri Saptohoedojo menjadi pusat kebudayaan yang aktif,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Sleman, Ishadi Zayid, memaparkan, kegitan seni dan budaya semacam ini juga merupakan visi dan misi dari Bupati Sleman. Untuk menempatkan kebudayaan menjadi salah satu pilar di dalam pembangunan Sleman.
Ke depan, Kadisbud Sleman berharap, kebudayaan yang ada di Kabupaten Sleman dapat berkembang pesat, karena di Kabupaten Sleman banyak seniman, budayawan, dan galeri.
“Keberadaan seniman dan galeri yang ada di Sleman seharusnya menjadi momentum yang baik untuk mengembangkan kebudayaan yang ada di Sleman pula,” ucapnya.
Ishadi juga menyatakan, Galeri Saptohoedojo bisa menjadi inspirasi yang memadai bagi pelaku seni dan budaya. Ia berharap anak-anak khususnya di Kabupaten Sleman dapat mencintai budayanya sendiri.
Karena anak-anak muda sekarang sudah semakin jauh dengan kebudayaan lokal. Padahal budaya Jawa adiluhung.
“Filosofi-filosofi yang terkandung di dalam budaya Jawa luar biasa karena ada gotong-royong, ada ketuhanan, ada aspek lingkungan juga. Kalau anak-anak kita semakin banyak belajar budaya, Insya Allah anak-anak akan semakin berkembang. Tidak kehilangan jati diri sebagai orang Jawa. Sekarang banyak anak-anak kita yang tidak tahu bahasa Jawa, aksara Jawa. Padahal bahasa Jawa itu luar biasa, ada strata sosial di situ,” katanya.
Ishadi menerangkan, Saptohoedojo adalah seorang maestro yang bukan hanya menjadi aset Sleman, tetapi juga menjadi aset bangsa di seluruh dunia. Keberadaan Saptohoedojo harusnya menjadi inspirasi keteguhan berkarya.
“Keteguhan berkarya seorang Saptohoedojo harus diteladani. Seniman juga harus jujur,” katanya.
Di sisi lain, perupa Nasirun menyatakan, dalam dunia seni di Indonesia, sosok Saptohoedojo adalah seorang lokomotif. Bagaimana orang-orang, anak-anak yang mau berkesenian harus dikedepankan proses kreatifnya.
”Dia adalah seorang kreator sejati. Seorang kreator tentunya akan melahirkan anak karya yang bermacam-macam. Anak karya almarhum menunjukkan bahwa almarhum seorang seniman besar,” tutur Nasirun.

Menurut Nasirun pula, Saptohoedojo tidak hanya berkarya secara konvensional.
“Maha karya almarhum adalah Makam Seniman di Giri Sapto, Imogiri. Itu merupakan satu-satunya di dunia. Almarhum orang yang peduli terhadap tempat untuk pemakaman para sahabatnya. Di sana dikumpulkanlah para sahabatnya untuk disemayamkan,” pungkasnya. ***



