Mabur.co — Jagat media sosial beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan beredarnya sebuah gambar yang diklaim sebagai foto bersejarah penangkapan Pangeran Diponegoro saat menyerahkan diri kepada Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830.
Gambar tersebut memperlihatkan sosok yang disebut sebagai Diponegoro sedang duduk bersama sejumlah pejabat kolonial Belanda.
Sekilas gambar itu tampak seperti foto lawas. Namun, banyak pegiat sejarah menegaskan bahwa gambar tersebut bukan dokumentasi sejarah, melainkan hasil rekayasa menggunakan teknologi artificial intelligence (AI).
Salah satu yang menyayangkan beredarnya gambar tersebut adalah Ki Roni Sodewo (Roni Sadewo), tokoh pelestari sejarah sekaligus keturunan ketujuh atau cicit kelima Pangeran Diponegoro. Ia juga merupakan tokoh penting Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi).
Jelas Hanya AI
Menurut Roni, klaim yang menyebut gambar tersebut sebagai foto asli merupakan bentuk penyebaran informasi yang tidak sesuai dengan fakta sejarah.
“Itu jelas AI. Kalau diperbesar masih terlihat kesalahan pada detail tangan, yang menjadi salah satu ciri gambar hasil AI,” ujarnya.
Namun, menurutnya, alasan paling mendasar bukan terletak pada kesalahan visual, melainkan fakta sejarah.
Roni menjelaskan, saat Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang pada 1830, teknologi fotografi belum digunakan di Hindia Belanda. Karena itu, tidak mungkin terdapat dokumentasi foto asli mengenai peristiwa tersebut.
“Teknologi foto saat itu belum ada di Indonesia. Jadi jelas tidak mungkin ada foto penangkapan Diponegoro,” katanya, Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan, tokoh-tokoh yang masih memiliki hubungan dengan Pangeran Diponegoro dan sempat diabadikan melalui kamera hanyalah Basyah Mertonegoro dan Basyah Gondokusumo. Keduanya baru difoto sekitar dekade 1860-an, ketika Diponegoro sendiri telah wafat pada 8 Januari 1855 di Makassar.
“Jadi Diponegoro tidak pernah difoto. Anak-anak beliau juga tidak karena sebagian besar hidup dalam pengasingan atau pelarian,” ujarnya.
Selama ini, wajah Pangeran Diponegoro sendiri dikenal melalui sejumlah karya seni, bukan foto. Potret yang paling dikenal dibuat oleh pelukis Belanda Adrianus Johannes Bik sekitar April–Mei 1830 ketika Diponegoro ditahan di Batavia sebelum diasingkan ke Makassar.
Selain itu terdapat pula lukisan karya seniman Keraton Yogyakarta yang dibuat saat Diponegoro masih berusia muda yakni saat ia menikah untuk yang kedua. Lukisan ini, kini berada di tangan salah seorang trah keturunan langsung Diponegoro di Jakarta.
Sementara peristiwa penangkapan Diponegoro sendiri lebih banyak dikenang melalui dua lukisan monumental, yakni karya Nicolaas Pieneman yang menggambarkan versi pemerintah kolonial Belanda dan karya Raden Saleh yang menghadirkan sudut pandang berbeda dari perspektif bangsa Indonesia.
AI Hanya Bagus untuk Ilustrasi
Roni menegaskan dirinya tidak menolak penggunaan teknologi AI untuk kepentingan edukasi sejarah. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat membayangkan suasana masa lalu selama disampaikan secara jujur sebagai ilustrasi.
“Pakai AI monggo saja. Tapi harus diberi keterangan bahwa itu ilustrasi, bukan foto bersejarah,” katanya.
Ia khawatir tanpa penjelasan yang jelas, masyarakat akan menganggap gambar hasil AI sebagai bukti sejarah yang autentik.
“Orang Indonesia belum semuanya siap menghadapi teknologi seperti AI. Kalau ilustrasi disebut foto sejarah, itu bisa menyesatkan,” ujarnya.
