Mabur.co – Kawasan wisata sekaligus pusat pelestarian budaya masyarakat Sasak, yakni Rumah Adat Sade, di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kebakaran hebat, Sabtu (22/8/2026) malam.
Sejumlah sumber menyebut, api pertama kali muncul sekitar pukul 22.00 WITA dan dengan cepat merembet serta menghanguskan puluhan rumah tradisional milik warga. Sejumlah mobil pemadam kebakaran dikerahkan, namun tak bisa menyelamatkan seluruh bangunan yang ada.
Bangunan Ludes Terbakar
Meski tidak ada korban jiwa, namun peristiwa ini dilaporkan mengakibatkan seluruh bangunan maupun barang-barang milik warga ludes tak tersisa. Hal itu tak lepas karena kampung adat ini mayoritas terbuat dari material kayu, ijuk, maupun ilalang yang mudah terbakar.
Kebakaran ini menjadi perhatian karena kampung adat Sade bukan sekadar permukiman. Kampung adat seluas sekitar tiga hektare ini merupakan salah satu kawasan kampung adat masyarakat Sasak yang masih mempertahankan kehidupan dan arsitektur tradisional suku asli Lombok.
Berada tak jauh dari Mandalika, kampung adat Sade selama ini dikenal sebagai pusat tujuan wisata untuk mengenal adat dan budaya masyarakat suku Sasak. Ada sekitar 700 warga yang tinggal di kampung ini. Yakni dengan menempati sekitar 150 rumah adat tradisional.
Arsitektur Anyaman Bambu
Salah satu keunikan rumah tradisional Sade adalah bentuk arsitektur serta proses pembuatannya yang seluruhnya menggunakan bahan serta cara tradisional. Dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu, sedangkan bagian atap menggunakan alang-alang atau jerami.
Lantainya juga sangat unik karena dibuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tersebut membuat permukaan lantai menjadi keras serta membantu menjaga lantai dari debu dan serangga.
Rumah tradisional Sade juga memiliki bentuk yang khas. Rumah umumnya hanya mempunyai satu pintu berukuran sempit dan rendah serta tidak dilengkapi jendela. Bentuk tersebut menjadi bagian dari karakter arsitektur tradisional Suku Sasak yang diwariskan secara turun-temurun.
Secara umum rumah masyarakat Sasak sendiri terdiri dari beberapa jenis yang memiliki fungsi berbeda. Antara lain Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal warga, terutama keluarga yang bekerja sebagai petani.
Lalu ada Bale Bonter yang digunakan bagi pejabat desa dan kegiatan atau pertemuan adat. Hingga Bale Kodong, yang digunakan oleh pasangan yang baru menikah dan belum memiliki rumah sendiri.
Meski dikenal memiliki konstruksi sederhana, rumah adat Sade didesain agar tahan terhadap gempa. Hal ini menjadi bagian kearifan lokal masyarakat susu Sasak dalam menyikapi kondisi alam tanah Lombok yang rawan gempa.
Tak heran mayoritas bangunan dibuat dengan bahan alami seperti kayu dan bambu sehingga membuat bangunan relatif ringan dan lentur dibandingkan bangunan dengan material berat.
Tak hanya bangunan rumah adat tradisionalnya, kampung adat Sade juga memiliki keunikan berupa kebiasaan masyarakatnya yang masih setia mempertahankan berbagai tradisi dan budaya Suku Sasak.
Sentra Tenun Tradisional
Salah satunya adalah tradisi perkawinan yang memiliki tata cara khas. Kehidupan sosial masyarakat di kampung ini juga masih berlangsung dalam lingkungan adat yang kuat.
Selain itu, Sade juga dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan kain tenun tradisional. Banyak kaum perempuan di kampung ini membuat kain tenun tradisional untuk selanjutnya dijual kepada wisatawan.
Bahkan wisatawan bisa berkeliling untuk melihat langsung proses pembuatan kain tenun khas Suku Sasak ini di kampung adat Sade. Yakni sebagai salah satu produk budaya khas Suku Sasak NTB.
Pukulan Berat
Kebakaran Sabtu malam tak hanya menjadi pukulan berat bagi warga masyarakat kampung adat Sade, namun juga bagi masyarakat di Lombok khususnya Suku Sasak.
Meski pemerintah mengaku akan merekonstruksi ulang kampung adat Sade ini, namun ke depan perlu dipikirkan adanya upaya mitigasi bencana di setiap kampung adat. Yakni untuk mencegah berbagai macam risiko melalui pemanfaatan teknologi.
Sebab bagaimanapun setiap kampung adat yang ada merupakan sebuah aset kekayaan bangsa yang luar biasa karena menyimpan berbagai macam tradisi, pengetahuan arsitektur maupun kehidupan masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
