Mabur.co – Menikmati suasana pedesaan biasanya identik dengan berjalan kaki atau bersepeda. Namun, di Kampung Kebaya Kembang, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, wisatawan bisa menjelajahi kampung dengan cara yang berbeda, yakni dengan menaiki gerobak sapi.
Di sini pengunjung akan diajak merasakan sensasi menaiki gerobak sapi atau pedati tradisional yang ditarik due ekor sapi putih Jawa. Selama perjalanan wisatawan akan diajak menyusuri jalan kampung serta lahan persawahan yang masih sangat asri.
Perjalanan biasanya dimulai dari Pendopo Kampung Kebaya Kembang menuju Pendopo Sekar Jagad yang berjarak sekitar 2 hingga 3 kilometer.
Mengemas Potensi Kehidupan Desa
Konsep wisata tersebut menjadi salah satu cara warga mengemas potensi kehidupan desa menjadi pengalaman yang bisa dinikmati wisatawan.

Inisiator Kampung Kebaya Kembang, Aan Purnama Yoga, mengatakan, ide tersebut berawal dari keinginan mengorganisasi berbagai potensi yang sudah ada di kampung agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Dari potensi yang ada di kampung kita, kita coba mengorganisasi menjadi suatu kegiatan wisata. Meliputi gerobak sapi, UMKM Kebaya, gamelan, tarian, batik ecoprint, jemparingan, dan juga beberapa UMKM kuliner,” kata Aan, Minggu (16/8/2026).
Sentra Kerajinan Kebaya
Menurut Aan, pengembangan Kampung Kebaya Kembang sebagai destinasi wisata berjalan seiring dengan pengembangan sentra kerajinan kebaya di kampung tersebut.
Warga melihat peluang karena produksi kebaya di Yogyakarta masih banyak mengambil produk dari luar daerah. Dari situ muncul gagasan menjadikan kampung sebagai pusat produksi kebaya sekaligus tujuan wisata.

Kebaya kemudian tidak hanya menjadi produk yang dijual. Wisatawan dapat mengenakannya selama mengikuti rangkaian aktivitas di kampung.
“Wisatawan yang datang bisa mencoba dan merasakan bagaimana menjadi orang Jawa dengan identitas baju kebaya atau pun lurik untuk laki-laki,” ujar Aan.
Paket wisata di Kampung Kebaya Kembang tidak hanya menawarkan perjalanan menggunakan gerobak sapi.
Belajar Gamelan
Di sini wisatawan juga dapat belajar memainkan gamelan, menari, mencoba jemparingan atau panahan tradisional, mengenal pembuatan jamu, menikmati keroncong klasik hingga mengikuti cooking class menggunakan dapur tradisional berbahan bakar kayu.
Konsep wisata yang memadukan kegiatan keseharian warga desa dengan berbagai aktivitas budaya seperti ini dinilai menjadi daya tarik wisata baru yang banyak dicari saat ini.

Tak hanya banyak diminati wisatawan lokal yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, tak sedikit wisatawan asing juga tertarik mengunjungi tempat ini. Mereka biasanya tertarik karena bisa mendapatkan pengalaman baru yang jarang ditemui di tempat asalnya.
Aan menyebut, wisatawan yang datang ke Kampung Kebaya Kembang berasal dari berbagai daerah. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya. Termasuk juga dari berbagai negara antara lain seperti Spanyol, Inggris, Prancis, Italia, Australia, hingga Amerika Serikat.
Dalam satu bulan, pengelola rata-rata mengaku dapat menerima sekitar 30 kunjungan. Jumlah wisatawan dalam setiap kunjungan sangat beragam, mulai dari dua orang, keluarga beranggotakan empat orang hingga rombongan lebih dari 100 orang.
Artinya, dalam satu bulan jumlah wisatawan dapat mencapai ratusan orang, tergantung ukuran rombongan dan musim kunjungan.

Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Yasmine Nasution, mengaku sangat antusias meski baru pertama kali mengunjungi tempat wisata Kampung Kebaya Kembang ini. Baginya berwisata keliling desa dengan menaiki gerobak sapi menjadi satu pengalaman berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Seru sekali. Biasanya kan naik kuda. Tapi ini naik gerobak sapi. Jadi unik. Apalagi melewati jalan-jalan desa dan persawahan yang hijau dan asri. Jadi pengalaman baru buat saya,” katanya.
Merasakan Denyut Aktivitas Warga Desa
Selain menaiki gerobak sapi, Yasmine juga mengaku senang bisa melihat kehidupan masyarakat desa secara langsung seperti memasak, membatik, hingga menari dan memanah tradisional atau jemparingan. Pasalnya melihat dan mencoba hal tersebut merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan.
“Apalagi di sini kita juga disuguhi aneka hidangan tradisional dan suasana kampung yang masih alami. Ada tari-tarian juga jadi sangat unik. Sangat direkomendasi untuk dikunjungi apalagi buat keluarga. Anak-anak pasti senang karena akan dapat pengalaman baru,” pungkasnya.
