Serunya Wisata Keliling Desa Naik Gerobak Sapi di Kampung Kebaya Kembang

5 Min Read
Ox-cart parade with white oxen pulling a thatched cart adorned with ribbons along a rural road.
Asyik dan serunya menjadi wisatawan keliling desa dengan menaiki gerobak sapi di Desa Kebaya Kembang, Prambanan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Menikmati suasana pedesaan biasanya identik dengan berjalan kaki atau bersepeda. Namun, di Kampung Kebaya Kembang, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, wisatawan bisa menjelajahi kampung dengan cara yang berbeda, yakni dengan menaiki gerobak sapi.

Di sini pengunjung akan diajak merasakan sensasi menaiki gerobak sapi atau pedati tradisional yang ditarik due ekor sapi putih Jawa. Selama perjalanan wisatawan akan diajak menyusuri jalan kampung serta lahan persawahan yang masih sangat asri. 

Perjalanan biasanya dimulai dari Pendopo Kampung Kebaya Kembang menuju Pendopo Sekar Jagad yang berjarak sekitar 2 hingga 3 kilometer. 

Mengemas Potensi Kehidupan Desa

Konsep wisata tersebut menjadi salah satu cara warga mengemas potensi kehidupan desa menjadi pengalaman yang bisa dinikmati wisatawan.

White oxen pulling a decorated wooden cart with a thatched canopy along a rural road.
Berwisata keliling desa dengan menaiki gerobak sapi di Desa Kebaya Kembang, Prambanan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Inisiator Kampung Kebaya Kembang, Aan Purnama Yoga, mengatakan, ide tersebut berawal dari keinginan mengorganisasi berbagai potensi yang sudah ada di kampung agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Dari potensi yang ada di kampung kita, kita coba mengorganisasi menjadi suatu kegiatan wisata. Meliputi gerobak sapi, UMKM Kebaya, gamelan, tarian, batik ecoprint, jemparingan, dan juga beberapa UMKM kuliner,” kata Aan, Minggu (16/8/2026).

Sentra Kerajinan Kebaya

Menurut Aan, pengembangan Kampung Kebaya Kembang sebagai destinasi wisata berjalan seiring dengan pengembangan sentra kerajinan kebaya di kampung tersebut.

Warga melihat peluang karena produksi kebaya di Yogyakarta masih banyak mengambil produk dari luar daerah. Dari situ muncul gagasan menjadikan kampung sebagai pusat produksi kebaya sekaligus tujuan wisata.

Sejumlah wisatawan saat berwisata keliling desa dengan menaiki gerobak sapi di Desa Kebaya Kembang, Prambanan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Kebaya kemudian tidak hanya menjadi produk yang dijual. Wisatawan dapat mengenakannya selama mengikuti rangkaian aktivitas di kampung.

“Wisatawan yang datang bisa mencoba dan merasakan bagaimana menjadi orang Jawa dengan identitas baju kebaya atau pun lurik untuk laki-laki,” ujar Aan.

Paket wisata di Kampung Kebaya Kembang tidak hanya menawarkan perjalanan menggunakan gerobak sapi. 

Belajar Gamelan

Di sini wisatawan juga dapat belajar memainkan gamelan, menari, mencoba jemparingan atau panahan tradisional, mengenal pembuatan jamu, menikmati keroncong klasik hingga mengikuti cooking class menggunakan dapur tradisional berbahan bakar kayu.

Konsep wisata yang memadukan kegiatan keseharian warga desa dengan berbagai aktivitas budaya seperti ini dinilai menjadi daya tarik wisata baru yang banyak dicari saat ini. 

Outdoor cultural festival with bamboo food stalls, banana decorations, and people in traditional clothing queuing for snacks near the stall, stage with musicians in the background.
Kegiatan wisata di Desa Kebaya Kembang, Prambanan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Tak hanya banyak diminati wisatawan lokal yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, tak sedikit wisatawan asing juga tertarik mengunjungi tempat ini. Mereka biasanya tertarik karena bisa mendapatkan pengalaman baru yang jarang ditemui di tempat asalnya.

Aan menyebut, wisatawan yang datang ke Kampung Kebaya Kembang berasal dari berbagai daerah. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya. Termasuk juga dari berbagai negara antara lain seperti Spanyol, Inggris, Prancis, Italia, Australia, hingga Amerika Serikat. 

Dalam satu bulan, pengelola rata-rata mengaku dapat menerima sekitar 30 kunjungan. Jumlah wisatawan dalam setiap kunjungan sangat beragam, mulai dari dua orang, keluarga beranggotakan empat orang hingga rombongan lebih dari 100 orang.

Artinya, dalam satu bulan jumlah wisatawan dapat mencapai ratusan orang, tergantung ukuran rombongan dan musim kunjungan.

Outdoor-style hall with a wooden roof hosting a traditional dance performance; two dancers in red and gold costumes perform while a live band plays in the background, audience seated on woven mats around the stage.
Kebahagiaan warga mengikuti kegiatan wisata di Desa Kebaya Kembang, Prambanan, Sleman. (Foto: JH Kusmargana)

Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Yasmine Nasution, mengaku sangat antusias meski baru pertama kali mengunjungi tempat wisata Kampung Kebaya Kembang ini. Baginya berwisata keliling desa dengan menaiki gerobak sapi menjadi satu pengalaman berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Seru sekali. Biasanya kan naik kuda. Tapi ini naik gerobak sapi. Jadi unik. Apalagi melewati jalan-jalan desa dan persawahan yang hijau dan asri. Jadi pengalaman baru buat saya,” katanya.

Merasakan Denyut Aktivitas Warga Desa

Selain menaiki gerobak sapi, Yasmine juga mengaku senang bisa melihat kehidupan masyarakat desa secara langsung seperti memasak, membatik, hingga menari dan memanah tradisional atau jemparingan. Pasalnya melihat dan mencoba hal tersebut merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

“Apalagi di sini kita juga disuguhi aneka hidangan tradisional dan suasana kampung yang masih alami. Ada tari-tarian juga jadi sangat unik. Sangat direkomendasi untuk dikunjungi apalagi buat keluarga. Anak-anak pasti senang karena akan dapat pengalaman baru,” pungkasnya. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar