Mabur.co – Ratusan warga Padukuhan Yapah, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, menggelar tradisi Nyadran, bertempat di dusun setempat, Minggu (08/02/2026) pagi.
Tradisi ini digelar dengan melakukan kirab keliling kampung menuju kompleks makam Gempol Singonolo yang merupakan makam leluhur desa.
Sejumlah warga mulai dari anak-anak remaja hingga orang dewasa, nampak mengarak gunungan yang berisi jajan pasar, serta sejumlah ubo rampe berupa tumpeng dan nasi ingkung.
Dikawal prajurit bregodo, dalam kirab ini warga terlihat juga membawa sebanyak 7 jodang berisi aneka makanan yang berasal dari masing-masing wilayah RT. Termasuk juga air kendi yang berasal dari mata air keramat di dusun tersebut.
Yang unik dalam tradisi Nyadran di Dusun Yapah ini adalah turut diaraknya kitab suci Alquran tua berusia ratusan tahun. Kitab Alquran ini konon merupakan peninggalan eyang Kiai Ahmad Sidiq yang diwariskan kepada eyang Syekh Syamsudin.
Keduanya merupakan tokoh spiritual yang pertama kali mendakwahkan ajaran agama Islam di Padukuhan Yapah ini melalui pondok pesantren Ash Shidiqiyah.

“Alquran ini sudah berusia ratusan tahun. Seluruhnya dibuat dengan tulisan tangan pada masa Pangeran Diponegoro,” ujar Kiai Ahmad Nur Salim kepada mabur.co, generasi ketiga eyang Syekh Syamsudin, sekaligus pimpinan Ponpes Ash Shidiqiyah saat ini.
Kiai Nur Salim menyebut Alquran berusia ratusan tahun ini hanya dibuka dan diarak setiap setahun sekali saat digelar tradisi Nyadran. Meski sebagian Alquran dalam kondisi rusak, namun sebagian masih bisa dibaca.
Memiliki ukuran panjang dan lebar 35×23 cm, serta tebal 15 cm, kitab yang disimpan di Ponpes Ash Shidiqiyah ini sangat disakralkan oleh warga setempat dan dianggap bisa memberikan sawab atau pahala dan keberkahan.
Selain Alquran, dalam tradisi Nyadran di Dusun Yapah ini juga turut diarak Kitab Gundil Azimat Kiai Cokrojoyo, yang merupakan peninggalan Eyang Syekh Syamsudin.
Kitab yang juga ditulis tangan ini, berisi kumpulan Qolbun Quran atau kumpulan ayat-ayat dengan keutamaan luar biasa. Di dalam kitab ini juga terdapat bermacam tulisan rapal Jawa berbahasa Gundil Jawa.
“Kita ikut mengarak kedua kitab ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengingat jasa-jasa leluhur yang dulu telah mendakwahkan agama Islam di dusun ini,” ujarnya.

Sementara itu Dukuh Yapah, Joni Pranata, mengatakan tradisi Nyadran di dusun ini rutin digelar setiap tahun dengan diikuti 400-an KK.
Selain bertujuan melestarikan adat dan tradisi leluhur, Nyadran juga digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur warga dalam menyambut bulan suci Ramadan.
“Lewat tradisi Nyadran ini kita diajak untuk mengingat kembali para leluhur kita. Yakni dengan berziarah ke makam dan mendoakan mereka. Semoga kegiatan ini, dapat meningkatkan rasa keimanan, rasa persaudaraan dan guyup rukun antar-warga,” ujarnya.
Setelah prosesi kirab selesai dilaksanakan, warga kemudian berkumpul di sekitar makam untuk melakukan kenduri dan doa bersama.
Setelah itu ritual ziarah digelar. Acara kemudian ditutup dengan prosesi kembul bujono atau makan bersama yang diikuti oleh seluruh warga dusun. ***



