AI Tidak Akan Menggantikan Peran Pers Secara Keseluruhan

Mabur.co – Kecanggihan teknologi informasi telah mengubah paradigma manusia dalam menelaah suatu informasi. Kini manusia bisa dengan mudah mendapatkan informasi apapun dari mana saja, kapan saja, dan tidak terbatas oleh jarak waktu dan tempat.

Hal ini tentunya membawa kontradiksi tersendiri bagi insan pers, sebagai palang pintu penyedia informasi langsung dari lokasi kejadian.

Padahal keberadaan pers selama ini kerap diagung-agungkan, karena mampu menjembatani penyampaian informasi antara pemangku kebijakan (pemerintah) dengan rakyat. Namun kini, eksistensi mereka semakin terabaikan.

Pembaca zaman sekarang sepertinya sudah tidak lagi mengandalkan informasi yang disajikan oleh insan pers, yang kebanyakan hanya bergantung pada indeks tertentu seperti rating, sharing, viral, trending topic, dan seterusnya.

Fenomena ini bahkan telah sanggup membumihanguskan beberapa media, terutama yang berbasis cetak (koran, majalah, tabloid), lantaran tidak sanggup mengikuti arus yang lebih mengutamakan kecepatan dalam menyajikan informasi.

Sedangkan media cetak butuh proses percetakan yang cukup memakan waktu, serta menyiapkan bahan kertas yang berlapis-lapis. Ujung-ujungnya kertas hasil koran tadi malah dijadikan bungkus makanan di kemudian hari.

Terlebih dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI) yang mulai menjadi perbincangan hangat selama beberapa tahun terakhir, membuat eksistensi insan pers semakin di ujung tanduk.

Di balik kenyataan pahit tersebut, sebenarnya masih ada secercah harapan bagi keberlangsungan pers di era modern seperti saat ini. Mengingat AI bukanlah manusia, yang punya emosi, perasaan, dan pikiran yang kompleks, sama seperti target audience dari pers itu sendiri, yang sudah pasti adalah manusia.

Dilansir dari laman Media Indonesia, berikut adalah beberapa alasan singkat, mengapa AI tidak akan pernah mampu menggantikan peran pers sebagai pilar demokrasi, setidaknya di Indonesia.

1. AI Tidak Punya Empati dan Hati Nurani

Keberadaan insan pers tidak hanya bertugas untuk melaporkan data, tetapi lebih dari itu, mereka juga bertugas untuk mewakili perasaan manusia (narasumber) terkait dengan pengalaman yang dirasakan, dampak yang ditimbulkan, serta nuansa emosional yang terjadi di dalamnya. Semua itu hanya bisa dideskripsikan oleh manusia, yang memiliki intuisi mendalam terhadap suatu peristiwa.

2. Kebutuhan Verifikasi dan Etika (Fact-Checking)

Informasi yang disajikan AI sangat rentan terhadap “halusinasi” (membuat fakta palsu) dan bias yang tidak bisa diverifikasi begitu saja. Sementara insan pers sudah jelas mampu melakukan fact-checking (verifikasi fakta), check and balance (berimbang), serta disampaikan secara akurat.

3. Tidak Mampu Melakukan Investigasi Mendalam

AI juga tidak sanggup menyajikan informasi dalam bentuk investigasi secara mendalam. Karena investigasi mendalam sangat membutuhkan intuisi, pengecekan narasumber secara berkala, sekaligus hubungan interpersonal melalui wawancara di lapangan. Sementara AI hanya efektif sebagai data singkat atau informasi awal. 

4. Tidak Mampu Berpikir Kritis dan Kompleks

AI juga tidak mampu memahami ironi, sarkasme, atau konteks budaya lokal yang terbilang rumit. Sehingga keberadaan manusia, dalam hal ini insan pers, tetap sangat diperlukan, sebagai jembatan utama penyampaian informasi kepada masyarakat, yang juga merupakan manusia.

5. Tanggung Jawab Hukum dan Editorial

Jika terdapat kesalahan atau pencemaran nama baik dalam sebuah berita atau informasi, manusia (editor/jurnalis) dapat dimintai pertanggungjawaban secara etika dan hukum sesuai peraturan yang berlaku. Sementara AI sebagai “pemain baru” dalam konteks ini jelas tidak bisa apa-apa, karena mereka hanyalah “mesin” ataupun teknologi, bukan makhluk hidup layaknya manusia.

***

Pada dasarnya, keberadaan AI memang tidak untuk menggantikan manusia secara keseluruhan, tapi lebih kepada “membantu” atau mempermudah pekerjaan manusia sehari-hari. Sehingga ancaman-ancaman yang selama ini beredar terkait keberadaan AI, apalagi untuk menggantikan tugas utama insan pers, tentu saja tidak benar.

Selain itu, AI sendiri adalah buatan manusia, dan bekerja berdasarkan perintah manusia (mirip seperti Google). Sehingga tanpa manusia, AI jelas bukan apa-apa, dan tidak mampu berdiri sendiri, apalagi mengambil alih dunia ini secara keseluruhan.

Oleh karena itu, keberadaan insan pers, alias manusia, akan tetap selalu dibutuhkan, sebagai penyedia informasi kepada khalayak yang juga manusia, bukan AI. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *