Bulan Ramadan, Sungguh Berat Jadi Panitia Takjil

Mabur.co – Sebentar lagi umat Islam di seluruh dunia akan kedatangan satu bulan suci yang paling ditunggu-tunggu, yakni bulan Ramadan.

Bulan suci di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa mulai dari Imsak hingga azan Magrib tiba.

Dalam setiap kemeriahan bulan suci Ramadan, khususnya di Indonesia, ada satu fenomena yang tak akan pernah ketinggalan menghiasi masjid-masjid di perkampungan maupun masjid-masjid besar di pinggir jalan, yakni hadirnya tradisi takjilan.

Takjilan adalah momen berbuka puasa dengan makanan dan minuman ringan yang dikonsumsi segera saat azan Magrib tiba.

Kata takjilan sendiri berasal dari bahasa Arab yakni ‘ajila (menyegerakan). Menu-menu dalam takjilan biasanya berupa makanan kecil atau ringan, yang berfungsi sebagai menu pembuka (sekadar membatalkan puasa).

Seperti kolak, kurma, es buah, dan seterusnya, sebelum nantinya menyantap hidangan utama berupa nasi dan sebagainya.

Dalam periode setengah bulan lagi menuju Ramadan seperti sekarang, biasanya beberapa majelis atau takmir masjid di berbagai perkampungan sudah mulai menyusun panitia takjil, atau bahkan panitia Ramadan secara keseluruhan (sampai periode Idul Fitri/Syawalan), untuk mempersiapkan bulan suci penuh rahmat (dan penuh acara) yang satu ini.

Mulai dari pembentukan panitia (biasanya dari takmir masjid dan ibu-ibu PKK), penyusunan anggaran, pemilihan berbagai acara dan sarana pendukung yang diperlukan, hingga keterlibatan masyarakat sekitar, khususnya anak-anak atau remaja masjid.

Semua itu sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, untuk bisa menyemarakkan rangkaian bulan suci Ramadan di lingkungan mereka.

Tantangan Menjadi Panitia Takjil

Ilustrasi Ibu ibu PKK menyiapkan menu takjil Foto detikcom

Bertugas menjadi seorang panitia takjil tentu saja merupakan ibadah sosial yang sangat mulia. Namun dalam praktiknya, kerja semacam ini penuh dengan tantangan dari berbagai aspek.

Menjadi panitia takjil tidak hanya dituntut untuk sigap dan tanggap terhadap segala situasi yang ada, tapi juga harus ikhlas mengerjakan segala sesuatunya, bahkan kalau bisa tanpa harus diperintah terlebih dahulu.

Dan yang paling menyakitkan adalah, karena ini adalah termasuk jenis pekerjaan sosial, maka pekerjaan ini tidak mendapat penghasilan (tidak dibayar/digaji), tapi malah sebaliknya, kadang-kadang ada saja “orang kaya/dermawan” yang rela membelanjakan uang pribadinya untuk kepentingan acara takjilan, dan seterusnya.

Selain itu, dilansir dari detik.com, masih ada beberapa tantangan lain yang harus dihadapi ketika menjadi seorang panitia takjil di bulan puasa, di antaranya:

1. Manajemen Logistik dan Donatur

Takjilan adalah soal makanan dan minuman (konsumsi), hampir mirip seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo saat ini.

Selayaknya MBG, manajemen logistik makanan, pengemasan, distribusi, penyimpanan, serta “siapa yang bayar” (donatur) harus sudah dipastikan sejak jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadan tiba.

Tentunya semua urusan ini membutuhkan kerja sama yang kuat, komunikasi yang intens, dan komitmen dari masing-masing pengurus, untuk memastikan semua unsur tadi dapat berjalan dengan maksimal, dan meminimalisir risiko yang bisa terjadi sewaktu-waktu saat hari-H.

Karena biasanya, dalam sebuah panitia takjil, akan selalu ada orang-orang yang “tidak niat sama sekali” (hanya numpang nama supaya terlihat keren di mata tetangga), “setengah niat”, “lumayan niat”, hingga yang “100% niat”.

Semua orang tentu punya motif masing-masing di balik keterlibatannya dalam panitia takjil di bulan Ramadan.

2. Tantangan Lapangan dan Fenomena “War Takjil”

Siapa sih yang tidak suka diberi makanan dan minuman gratis? Tidak hanya umat muslim, semua orang dari agama lain pun juga pasti senang jika diberi yang gratisan seperti itu. Cukup datang ke masjid, pasti akan kebagian makanan sama seperti yang lainnya.

Selain jemaah peserta takjil dari lintas agama, ada juga orang tua (muslim) yang sengaja membawa anaknya yang masih kecil untuk ikut ke masjid, dan menikmati takjil gratis tersebut untuk dibawa pulang.

Sehingga stok makanan gratisan di rumahnya pun menjadi berlebih. Namun malah menghabiskan stok takjil yang dimiliki oleh panitia.

Jangan sampai panitia yang sudah terlalu capek dan sibuk melayani orang-orang yang silih berganti datang dan menikmati takjil gratisan, rupanya dia sendiri malah tidak kebagian makanan tersebut.

Karena sudah terlalu banyak dibagikan kepada orang-orang yang datang entah dari mana.

3. Mengatur Manajemen Tim (Internal) dan Siap Secara Sukarela/Tidak Dibayar

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Menggerakkan seluruh anggota dalam kepanitiaan takjil atau takmir masjid selama sebulan penuh tentunya merupakan suatu tantangan tersendiri.

Karena akan selalu ada orang-orang yang tidak niat sama sekali, setengah niat, lumayan niat, hingga full niat untuk melaksanakan tugas yang satu ini.

Apalagi jika beberapa dari mereka ada yang masih bekerja full time, ngasuh anak kecil, ada janjian acara bukber di luar, dan seterusnya.

Di saat yang bersamaan, sudah pasti kebanyakan dari mereka (kalau tidak semua) juga sedang menjalankan ibadah puasa, sama seperti para jemaah yang akan dilayani di waktu Magrib nanti.

Sehingga tenaga dan kesabaran mereka akan sangat diuji, untuk bisa terus menatap makanan enak tapi tidak tergiur untuk mengonsumsinya sampai azan Magrib tiba.

4. Mengelola Transparansi Keuangan

Menyediakan makanan dan minuman setiap hari selama satu bulan penuh tidak akan mungkin bisa terwujud tanpa adanya anggaran. Dan, anggaran yang dibelanjakan untuk menu takjil ini haruslah dipertanggungjawabkan secara transparan, terbuka, dan tentu saja tidak dikorupsi.

Anggaran menyediakan takjil biasanya bersumber dari dana takmir/kas masjid, donasi/sedekah/infak dari jemaah (yang kaya), serta beberapa sumber lainnya yang berasal dari dana sosial (CSR – Corporate Social Responsibility seperti BAZNAS dan lain-lain), atau bahkan sponsorship (biasanya untuk masjid-masjid besar di kota-kota besar). 

Prinsip yang paling sederhana adalah, lebih baik makanannya kelebihan daripada kekurangan. Karena jika kekurangan maka akan repot sendiri. Dan jika kekurangan, otomatis jemaah tidak akan kebagian makanan yang seharusnya jadi hak mereka (mungkin saja sudah diambil oleh jemaah lintas agama atau anak-anak kecil itu tadi).

Sekaligus panitianya sendiri juga tidak akan kebagian makanan yang sama, kecuali sudah disimpan sendiri sebelum dibagikan kepada para jemaah.

***

Apapun rintangan yang dihadapi sebagai seorang panitia takjil, tugas semacam ini tetaplah sangat mulia dan sarat makna di dalamnya.

Momen ini juga bisa menjadi ajang silaturrahmi yang tepat antar-sesama umat muslim, ketika di bulan-bulan lainnya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jangan sampai kesempatan menjadi panitia takjil hanya dimaknai sebagai seremonial semata. Karena lebih dari sekadar pekerjaan (yang tidak digaji), seorang panitia takjil ibarat pahlawan bagi banyak orang, yang berjasa memberikan konsumsi sebagai pembatal puasa di waktu Magrib.

Karena berbagi makanan, sama dengan berbagi kebahagiaan, kepada siapa saja. Sesuatu yang tidak bisa terjadi setiap harinya, kecuali jika Anda masih anak sekolah penerima MBG, yang katanya beracun itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *