Mabur.co – Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, gempa bumi bermagnitudo 7.7 terjadi di area utara Laut Flores dengan kedalaman antara 10-15 KM di 30 KM Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Hingga kini wilayah tersebut telah mengalami 3.394 kali gempa susulan.
Dilansir dari BMKG, Sabtu (22/8/2026), hasil analisis mekanisme sumber yang dirilis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault) di laut.
Gempa Bumi Dangkal
Merupakan jenis gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Karakteristik pergerakan sesar naik di dasar laut dangkal ini sempat memicu BMKG untuk mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk wilayah pesisir utara NTT sebelum akhirnya dinyatakan berakhir setelah pemantauan muka air laut menunjukkan penurunan tren gelombang.
Penyebab gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu adalah sesar aktif di laut Flores.
“Sesar naik ini memanjang dari utara NTT, membentang dari Flores, Sumbawa, Lombok, sampai bagian utara Pulau Bali. Sesar ini juga yang menjadi pemicu gempa Lombok 2018 lalu,” tulis Frisco Imanudin, Guru Geografi SMA di Bali dan Edukreator, dalam unggahannya melalui media sosial Instagram.
Frisco mengatakan, selain adanya sesar aktif di utara, bagian selatan sepanjang Nusa Tenggara juga merupakan zona subduksi lempeng sehingga berpotensi juga menimbulkan gempa bumi.
“Sesar aktif inilah yang jadi penyebab gempa Flores 1992 dan sekarang terjadi lagi dengan magnitudo 7,7,” tulis evenchristian29 dalam komentarnya.
Berproses Mencari Keseimbangan Baru
Sementara itu, Guru Besar Rekayasa Kegempaan Kebencanaan, Universitas Islam Indonesia, Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U., ASEAN Eng., APEC Eng menuturkan, sebagai negeri yang hidup di atas lempeng tektonik yang aktif, bumi di wilayah NTT sedang berproses mencari keseimbangan barunya kembali (read justment).
“Ketika terjadi gempa utama dengan energi yang besar, energi tersebut tidak serta-merta lepas begitu saja. Lempeng-lempeng bumi dan sesar di dalam perut bumi masih saling bergesekan, saling menyesuaikan tekanan, dan mencari posisi stabil yang baru. Inilah mengapa gempa-gempa susulan (after shocks) kerap mengikuti sebagai bagian dari pelepasan sisa energi tersebut,” ujarnya, Sabtu (22/8/2026).
Prof. Sarwidi, menjelaskan, fenomena ini mengingatkan bahwa alam memiliki mekanisme alaminya sendiri. Tugas orang bukanlah melawan atau menanggapinya dengan panik, melainkan memahami karakter untuk membangun kewaspadaan yang berkelanjutan.
“Kita harus senantiasa siap siaga, memastikan lingkungan tempat tinggal kita bertransformasi menjadi bangunan yang benar-benar aman bagi keselamatan jiwa, serta tidak pernah lelah belajar hidup selaras dengan alam Nusantara yang dinamis ini,” katanya.
